"..."

***

"Ada apa, ya?" tanya Syammiel dalam hati. Ia melihat dari kaca mobilnya yang masih berjalan. Penglihatannya menangkap sebuah kerumunan para pengguna jalan -- yang entah tengah mengerumuni siapa.

"Guys, kita berhenti dulu, ya?" ucap Syammiel seraya membuka sabuk pengamannya. Kemudian, ia keluar dari dalam mobil, meninggalkan Mas Bimo dan Angga yang juga tengah penasaran dengan keramaian yang terjadi di pinggir jalan itu.

"Tunggu, Syam." Angga menyeru dengan nada suara bass-nya, tapi tak digubris oleh Syammiel. Ia memang seperti itu; dewasa, tegas, dan bertanggung-jawab. Apa pun masalah yang ia hadapi, ia pasti segera menyelesaikannya dengan baik, langkah yang bijak, dan pemikiran yang matang. He is a good problem solver.

Sedari tadi, Syammiel merasa was-was. Perasaannya tidak tenang dan tak keruan. Dan, ia tak tahu alasan apa yang membuatnya seperti ini. Jantungnya berdegub lebih cepat, abnormal. Darahnya pun berdesir begitu hebat. Dan, itu membuatnya berpeluh-peluh.

"Misi, Mas, Mbak...," ucap Syammiel pada orang-orang yang mengerumuni seseorang -- yang sepertinya korban kecelakaan. Entah itu disengaja atau karena hal yang lain. Tak ada yang tahu. Kecuali Allah Yang Maha Mengetahui.

"Astaghfirullahal 'adzim, Haura!" pekik Syammiel saat mengetahui bahwa yang terkapar di trotoar jalan itu adalah aku; Haura Azalea. Pria beralis tebal itu benar-benar melihatku. Tampak sekali mimik cemas yang tergambar di wajahnya. Andai saja aku dapat melihatnya saat itu juga. Namun, sayang, aku pingsan.

Syammiel tampak begitu cemas akan keadaanku. Ia menaruh kepalaku yang berdarah di pangkuannya. "Haura, kamu kenapa? Bagaimana hal ini bisa terjadi?" katanya dengan penuh ketakutan yang mulai menggelayuti dinding-dinding benaknya. Ia benar-benar terkejut ketika mendapatiku yang sudah terkapar seperti ini.

"Haura!" pekik Angga. Ia tercengang dengan tatapan nanarnya. Ia hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tapi, ini benar-benar nyata. Bukan ilusinya semata. Bukan pula sebuah rekayasa.

Mas Bimo terkesiap. Mulutnya menganga. Matanya pun membulat sempurna bagai purnama. "Syam, Haura kenapa?" tanya pria berdarah Jawa itu seraya berjongkok.

Syammiel menggelengkan kepala sebagai isyarat bahwa ia tidak tahu-menahu perihal apa yang telah menimpaku; Haura. Ia berkata, "Cepat bantu aku, Mas, Ngga. Angkat Haura ke mobil. Kita bawa dia ke rumah sakit terdekat," instruksiku.

Kemudian, Mas Bimo dan Angga pun membantunya untuk membawaku ke rumah sakit. Ia tahu bahwa aku harus segera mendapatkan penanganan medis. Karena, jika tidak lukaku pasti akan bertambah parah atau bahkan akan terjadi hal-hal yang tidak inginkan. Ya, karena kepalaku terbentur cukup keras. Apa pun bisa terjadi padaku.

"Kamu yang nyetir, Syam," suruh Angga dengan nada tak suka. Karena, ia melihat Syammiel tengah duduk di jok belakang dan memangku kepalaku di pahanya.

"Udah, Ngga, biarin aja. Kita lagi buru-buru," kata Mas Bimo seraya menyalakan mesin mobil itu. Tak lama kemudian, mobil pun melesat membelah jejalanan yang tak begitu ramai oleh kendaraan beroda empat.

Sementara, Angga memilih untuk diam. Ia mengalah, tapi untuk kali ini saja. Sesekali, ia menatap sinis ke arah Syammiel lewat kaca spion yang ada di atas.

"Ya Allah, semoga tidak terjadi apa-apa pada Haura. Kumohon, Ya Allah... Engkau Maha Segalanya dan hanya pada Engkau lah hamba berserah diri." Syammiel berdoa dalam hati kecilnya. Ia menatapku dengan penuh kekhawatiran.

*ayat tentang tawakal:

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ ٢١٧

Jomblo Until Akad #KyfaBaca cerita ini secara GRATIS!