9. Si Bodoh Gengsi

3.5K 375 31

Maaf baru aku post sekarang, aku benar-benar gak punya draft dari awal. Jadi aku sekalinya nulis langsung di upload.

Kemarin belum sempat nulis, dan baru bisa sekarang. Insyaallah double, tapi gak janji ya. Happy reading!

*****

"Jangan senyum, nanti aku gila.
Jangan tertawa, nanti aku jatuh cinta."

-Gauri Adoria Zoya-

*****


Aku melirik ke Agam kali ini, dan kulihat senyuman puas terlukis di kedua sudut bibirnya. Hanya berselang beberapa detik dia pun melirikku. Bibirnya bergerak pelan tanpa suara tapi aku cukup mengerti. "Tunggu aku di luar nanti."

Aku ragu untuk menurutinya. Untuk apa? Memperkenalkan pacarnya yang berbatang kepadaku? Yang benar saja!

Kedua tanganku bergerak ke atas mengedikkan bahu berikut bibirku yang bertanya tanpa suara, "Untuk apa?"

Dia terkekeh. Lagi. Aku semakin takut, apa jangan-jangan selama ini aku naksir pasien buronan rumah sakit jiwa?

Dia menatapku dalam dan berkata, "For marry you."

FIX. DIA MEMANG BURONAN.

>>>>>

Sudah satu setengah jam berlalu dan malangnya nasib bidadari cantik sepertiku, masih terduduk ditemani secangkir kopi menunggu pria yang katanya akan menikahiku.

Hey, apa dia lupa telah memintaku untuk menunggunya? Seketika aku merasa bodoh, kenapa aku bisa percaya begitu saja? Si tengil itu, tak mungkin benar-benar akan melamarku bukan? Ah, Zoya bodoh!

"Tadi dia pasti bercanda. Selamat Tuan Agam, elo berhasil. Gue udah mirip hewan piaraan nurut gitu aja! Makasih banyak deh udah mempermainkan gue," lirihku berbicara sendiri layaknya manusia salah letak otak. Setelah menghabiskan dua cangkir kopi Aceh, aku memutuskan pulang ke rumah Mama. Aku lelah, hatiku pun sama.

"Nona mau pulang sekarang?" tanya Jono kepadaku. Kata Nona itu membuat emosiku semakin tersulut.

"Udah gue bilang, jangan panggil Nona! Bisa kan elo bantu gue sedikit aja?!" Sepertinya tamu bulananku akan segera menghampiri. Emosiku cepat sekali terpancing hari ini.

Jono, pacar tampanku yang mirisnya hanya sebuah oase fatamorgana di tengah gurun, takut-takut dia membungkuk untuk mempersilahkanku masuk ke mobil.

Well, aku sangat berterimakasih pada bodyguard tampanku ini, karena aksi tepukan bahu yang ia lakukan secara tiba-tiba membuat kepalaku yang baru masuk sedikit harus rela terkantuk pintu mobil.

Apa hari-hariku tidak pernah lepas dari kesialan? Ingin rasanya aku memaki tapi itu bukan Zoya sekali. Lagipula mulutku langsung terkunci ketika melihat orang yang menepukku tadi ternyata bukan Jono, melainkan ....

"Sudah ku bilang, tunggu aku di luar. Kenapa mau pergi?" Ya, dia Agam. Pria bodoh yang membuatku hampir mati kebosanan.

"Saya menunggu anda sejak satu setengah jam yang lalu, bodoh!" makiku kesal. Tahan Zoya, tetap jaga sikapmu karena dia tetaplah rekan kerjamu bukan seorang teman.

Heran, dia terkekeh mendengar makianku. "Kubilang tunggu di luar kan? Maksudku di depan ruangan, tapi setelah sepuluh menit urusanku selesai, aku tak menemukanmu di manapun. Sedangkan salah satu rekan bisnisku bilang jika kau menungguku. Aku tak tahu jika kau berada di sini dan hampir mati karena bosan jika kau tak memberikanku clue walau hanya mengirimku pesan, padahal ku yakin kau memiliki nomor ponselku, Zoya. Waktuku terbuang banyak hanya untuk menemukanmu. Lalu sekarang siapa yang bodoh, hm?"

All Eyez (#MOG 2) [END]Baca cerita ini secara GRATIS!