Chapter Seventeen [A]

285 31 11

Prediksi banyak pengamat tak meleset, yang menantang Karachi FC di partai final kompetisi tahun ini adalah Multan Academy

Prediksi banyak pengamat tak meleset, yang menantang Karachi FC di partai final kompetisi tahun ini adalah Multan Academy. Tiga hari usai babak semifinal, hampir seluruh media olahraga ibu kota mengulas hasil pertandingan Multan yang sukses membungkam Balochistan Rangers. Meski Multan Academy tidak menurunkan seluruh pemain utama pada laga semifinal, namun mengalahkan tim lawan 3-0 tanpa balas—dianggap pengamat bola merupakan modal bagus di final nanti. Bertabur pemain-pemain berbakat membuat pelatih punya banyak opsi untuk menyimpan pemain inti demi kemenangan di partai puncak.

Karachi FC sebagai tuan rumah, juga mendapat pujian. Bermain mengesankan sejak laga perdana, tim ini memang sudah disebut-sebut sebagai lawan paling ideal bagi Multan. Rekor kerap masuk semifinal beberapa tahun belakangan, layak membawa Karachi ke final.

Sehari jelang final Pakistan National Championship 2019 Adil jadi pria pemikir. Dia tak menyangka, besok dirinya akan mewujud sebagai pria pemberani demi Lintang. Berani untuk berterus terang kalau selama ini hatinya sudah dicuri. Semalam, balkon lantai atas jadi saksi bagaimana pria itu menulis banyak hal di notes cokelat. Pria itu bahkan sempat-sempatnya menggambar wajah Lintang yang dibuat nyaris setengah jam dalam satu halaman notes. Hasilnya tak jelek. Gambarnya cukup bisa membuatnya senyum saat menemukan bola mata Lintang yang dilukis berbinar.

Demi memuluskan penembakan, siang ini Adil langsug berkunjung ke markas Karachi FC di Saddar Town. Dia menjumpai Coach Javed di tribune lapangan yang menghadap asrama pemain. Pria berumur 50-an itu sedang mengawasi anak-anak didiknya mengontrol bola. Adil ikut menemani Coach Javed di anak tangga tribune paling akhir. Kendati ragu, Adil akhirnya membocorkan rencana penembakan besok kepada pelatih. Kehadirannya di sini, memang butuh dukungan dari pelatih. Detail Adil menjabarkan konsepnya.

"Adil, kita sedang fokus untuk final besok," Coach mengeluh. "Dan kini kau datang menyodorkan ide gilamu?"

"Tolonglah Coach."

"Tapi—"

"Ini hanya permintaan kecil. Tak akan menggangu anak-anak dalam pertandingan nanti," Adil memotong. "Kita punya kans besar memenangkan laga final besok, dan kurasa Coach juga tahu hal itu."

Coach Javed meluruskan pandang pada anak didiknya. Pria itu bisu sekian detik sebelum berujar lagi, "Kalau bukan saja kau mantan pemain terbaik yang dimiliki oleh Karachi, aku sudah menendang bokongmu sekarang. Berani-berani menyuruhku membuat hal-hal aneh." Coach tampak luluh.

"Terima kasih Coach," Adil bangkit dari tribune. "Kalau begitu aku balik dulu. Doaku menyertai tim kita." Adil menggenjot langkah pergi.

Kaki-kaki Adil yang tak sinergi jadi pusat perhatian Coach Javed kemudian. Pria yang masih tampak bugar tersebut menghela napas, iba. "Adil tunggu!" Coach Javed bangkit dan mendekati Adil yang sudah berada di lintasan joging.

Coach lurus menghadap Adil. Tanpa aba-aba Coach Javed langsung memeluk Adil, sekuat-kuatnya. Adil bingung.

Selang satu menit, pria itu mendengar mantan pelatihnya sesenggukan.

Adil kaget. "Coach menangis?"

Coach Javed melepas pelukan. "Aku belum meminta maaf padamu."

"Soal apa?"

"Insiden empat tahun lalu." Coach Javed menghapus air mata. "Aku adalah orang yang bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa kakimu di lapangan. Meski banyak orang mengatakan kejadian tersebut di luar perkiraan, namun sebagai pelatih, aku adalah orang yang harus disalahkan. Bertahun-tahun aku terlalu sombong untuk tidak mengucapkan maaf padamu."

"Tak perlu meminta maaf. Sebagai pemain, aku sudah tahu konsekuensinya. Toh memiliki sebelah kaki yang pincang bukan aib bagiku."

Coach meletakkan sebelah tangannya di pundak Adil. "Beberapa tahun lalu, kau masih seperti remaja yang tumbuh dengan ambisius besar. Namun hari ini aku melihat kau sudah menjadi pria yang dewasa." Coach Javed menepuk pundak Adil. "Jadilah pria kuat."

Adil pamit pergi, ada persiapan lain yang harus dilakukan untuk besok, termasuk menelepon teman-temannya agar bareng ke Lyari Town.

---

Malamnya, Adil setengah gelisah. Rasanya semacam menghadapi pertandingan pertama dalam kompetisi bola. Walau sudah mencurahkan segala isi hati di notes cokelat, namun hal tersebut tak mampu menolongnya tenang. Di kamar pria itu mondar-mandir, dari ujung ke ujung. Bosan, pria itu rebahan di kasur, guling ke kiri, guling ke kanan. Jemu, pria itu beralih ke meja dan bersandar. Belum lima menit pria itu pindah lagi ke jendela. Begitu terus, berulang-ulang.

Merasa buang-buang waktu, pria itu ke dapur. Dia mengambil stoples kopi dan menyeduhnya dengan air panas. Bermodal secangkir kopi pria tersebut kembali ke kamar. Adil duduk di kursi dan meletakkan cangkir kopi di meja. Pria itu membiarkan buku-buku dan majalah yang berada di depannya tampak blur.

Pelan-pelan Adil mengenang waktu-waktu bersama Lintang [tentu memori pasca siuman]. Perjalanan mereka ke Gulshan Town menemui ayah. Kebersamaan mereka saat menghabiskan banyak waktu di Kemari Town mencari makam ibu hingga berkunjung ke Cape Mount. Lintang jadi teman setia saat dia melakukan pemeriksaan ke dokter. Momen manis juga memori lewati saat bertandang ke markas Karaci FC di Saddar Town, di sana mereka terlibat duel yang akhirnya dimenangkan Adil di bawah guyuran hujan. Pria itu juga mengenang masa-masa ketika mereka barbeque-an bersama. Terakhir, kenangan di foodcourt jadi momen indah yang seliweran di kepala. Huf, semoga penembakan besok berjalan baik, harap Adil dalam hati.

Astaga! Adil mendadak sadar. Ada yang mesti dia cari.

Pria itu buru-buru bangkit dan mendorong kursi ke belakang. Dia cepat-cepat membuka laci meja paling atas. Isinya kemudian diacak-acak. Sayang, apa yang dicari tak ada. Adil menarik laci kedua. Di dalam terdapat bertumpuk-tumpuk alat tulis. Meraba hingga paling dalam, Adil belum menemukan apa yang dicari.

Tak puas, Adil beralih ke laci paling bawah. Pria itu setengah menunduk sebelum membuka laci. Di dalam terdapat sejumlah buku dan berkas-berkas berupa kertas yang distapler. Adil mengeluarkan sebagian buku. Tak sengaja tiga lembar kertas tebal bergambar jatuh ke lantai. Adil memungut tiga lembar kertas berukuran 4 X 6 tersebut. Dia tercengang setelah mendapati wajah Ayesha dalam tiga foto tersebut. Foto pertama, Ayesha berpose menggunakan kemeja longgar dengan wajah yang dibikin marah. Foto kedua, tampak Ayesha sedang tersenyum sembari mencium setangkai lili. Dan foto ketiga, ada seseorang lain di samping Ayesha di sebuah tempat yang rasanya familier—meja paling akhir di perpustakaan. Dan seseorang itu adalah dirinya!

Kenapa ada foto-foto ini di laci? Adil mengamati ketiga foto ini berganti-ganti. Apa hubungan Ayesha denganku? Adil berpikir sebentar.

Tak menemukan jawaban, Adil meletakkan foto-foto tadi di meja. Dia mengeluarkan lagi sisa buku dan berkas. Adil memeriksa laci yang sudah kosong. Tak ada benda yang dia carinya. Pria itu mencebik mulut. Setahunya hanya di salah satu laci ini, dia menyimpan kotak itu. Kotak merah persegi yang menyimpan sebuah kalung liontin. Adil ingat kalung yang terbuat dari emas itu memiliki ukiran mirip kembang yang berongga. Benda itu diberikan ibu sehari sebelum meninggalkan rumah.

Simpanlah baik-baik kalung ini dan berikan kepada wanita yang akan jadi pendampingmu kelak, begitu kata ibu dulu saat menyerahkannya pada Adil kecil.

Sayangnya, malam ini kotak merah ini sudah raib. Entah kemana.

***

.....bersambung ke Chapter Seventeen [B]

Author Note:
-Akhirnya bisa kontinue untuk update cerita ini. Gak sabar untuk Chapter selanjutnya.

Amnesia: Karachi Untold Story (COMPLETE)Baca cerita ini secara GRATIS!