"Adam!" teriak Nabila antusias saat melihat Adam tak jauh dari tempatnya berada. Nama aslinya adalah Nabila Permatasari. Gadis mungil berwajah manis itu adalah fans-nya Adam sejak SMA. Dan, setiap kali ia melihat Adam, ia pasti langsung mendekati pria beralis tebal itu sambil menggandeng tangannya.

Kini, Nabila tengah kuliah di jurusan Sastra Sunda, Universitas Pajajaran. Ia periang, namun bawel. Ia juga memendam perasaan pada Adam sejak masa orientasi siswa di SMA, namun Adam tak memiliki rasa yang sama dengannya. Ya, terkadang apa yang kita inginkan memang bukan untuk kita miliki. Kadangkala, itu hanya dijadikan Allah sebagai perantara dan ujian kesabaran agar kita lebih belajar dewasa.

Adam hanya tersenyum tipis melihat Nabila yang kini sudah berada di depan kedua matanya. Dalam hati ia bergumam, "Duh! Siap-siap dengerin dia nyerocos nih."

"Adam, loe apa kabar? Kemana aja ih? Dua tahun kok ngilang gitu aja?" cerocos Nabila. Matanya berbinar-binar. Bibir pink-nya pun melengkungkan seuntai senyuman bahagia.

"Kabar gue baik. Loe gimana?" Adam menatap Nabila yang lebih mungil darinya. "Mmm, gue ada kok. Gue cuma sibuk kerja sama kuliah aja di Jakarta." Pria bertubuh jangkung itu terpaksa berbohong pada Nabila, teman semasa SMA-nya dulu. Sebab, ia tak ingin ada yang tahu tentang apa yang telah terjadi padanya. Biar saja waktu dan takdir Allah yang kan menguaknya.

"Oh, loe kuliah di Jakarta? Kenapa gak di sini aja sih? Kan biar se-kampus sama gue."

Adam hanya tersenyum mendengar penuturan Nabila.

Gadis manis berkulit putih itu berkata lagi. "Eh! Loe kok tumben sih main ke taman? Loe sendirian?"

Adam menggelengkan kepalanya. Tak lama kemudian, seorang wanita berjilbab cukup lebar pun datang bersama temannya.

"Hey, Bil! Assalamu'alaikum?" tutur wanita berjilbab warna peach itu. Ia tersenyum ramah pada Nabila.

"Wa'alaikumussalam warahmatullah. Eh, loe Haura kan? Kok gaya loe jadi gini sih? Kampungan banget," cibir Nabila dan itu sangat menyakiti perasaanku. Memang terkadang lisan itu lebih tajam daripada pedang.

Aku hanya tersenyum tipis menanggapinya. Lalu, aku berucap, "Adam, Nabila, aku sama Yuki duluan, ya? See you next time." Aku menarik tangan Yuki dan berlalu meninggalkan Adam dan Nabila yang sepertinya sedang asyik ngobrol dan bernostalgia. Ya, itu diagnosisku.

"Ish! Apa-apaan sih kamu, Ra? Kok ninggalin Adam gitu aja sih?" Yuki mencebik kesal. Ia adalah rekan kerjaku sekaligus teman baik bagiku. Nama aslinya adalah Yuki Hanazawa. Ia berkulit putih, hidungnya tidak begitu mancung, matanya sipit, dan bibirnya tipis. Ia memang lahir di Tokyo, Jepang. Ayahnya pun asli dari negara sakura, tapi Ibunya berasal dari Bandung.

"Udah biarin aja, Yuki... Emangnya kamu ada keperluan apa sih sama Adam?" tanyaku seraya berjalan dengan langkah yang sedang di area taman.

"Gue kan mau pedekate-an sama Adam, Ra. Masa kamu gak peka sih?" kata Yuki seraya mengerucutkan bibir tipisnya.

Aku terdiam sejenak dan memberhentikan derap langkahku. Aku tepekur. "Yuki suka sama Adam? Yuki kan beda agama."

"Haura, kamu mau kan nyomblangin aku sama Adam?" ucap Yuki. Ia berhasil mengoyakkan lamunanku.

Aku agak tertegun mendengar permintaannya itu. "Mungkin ini adalah cara Allah memberiku jalan agar aku mudah melupakan Adam, walaupun itu sebenarnya sangat sulit." Aku tercenung. Aku terus membatin 'tuk mengambil sebuah keputusan yang sangat bertolak belakang dengan hati dan perasaanku. Ya, despacito i will forget you. Ya, perlahan-lahan.

"Haura Azalea?" panggil Yuki seraya mendengus kesal. Matanya yang sipit itu tampak melotot ke arahku. Ia bersut padaku. Angry.

"Hmmm." Aku berdehem seraya menatap gadis keturunan Jepang itu.

Jomblo Until Akad #KyfaBaca cerita ini secara GRATIS!