_____


Jika menyumpal mulut seseorang menggunakan lemari adalah hal yang memungkinkan, sudah sedari tadi Sena melakukannya pada Akai. Siapa yang tidak muak oleh kedatangan di malam hari yang tiba-tiba, parahnya jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Malam ini—ralat pagi buta ini Sena didatangi oleh sepupunya yang entah dari mana penampilannya sangat kacau, tubuhnya bau alkohol, rambutnya acak tak karuan, belum lagi mulutnya yang berisik karena meracau tidak jelas.

Bangsat, YaAllah maafkan hati hambamu yang kotor ini karena si bleki yang minta di katain. Sena membatin, ia membantu Akai memasuki ruang tamu dengan susah payah. Si Bleki baru saja pulang dari club malam yang entah Sena tak mengerti kenapa anak dibawah umur bisa mampir ke tempat malam seperti itu.

Bagaimana bisa status Sena yang berjabat sebagai Ketua Osis, justru harus menghadapi kenakalan sepupunya yang selalu menjadi biang keladi dari sebuah kenakalan. Kenapa Akai memilih pulang ke rumah Sena? Tentu saja, kalau pulang ke rumahnya sendiri, sudah pasti di tebas sama Bokapnya.

"Nyusahin banget sih dasar Bleki!"

Akai tiduran di sofa ruang tamu sembari meracau tak jelas. "Blek sadar Blek, Elo sadar nggak sih depan lo ini ada ketos! Ketos woy! Mau gue aduin ke guru BK?"

"Haus! Airnya mana?!" Sena menghela nafas, dengan sigap melangkah ke dapur dan kembali ke ruang tamu dengan segelas air putih. "Sadar mah udah gue tampol lo!"

Akai menaikkan alisnya, menatap gelasnya dengan tanya. "Kok rasanya manis sih?" Setelah itu matanya menatap Sena dengan seksama, kemudian tersenyum bego. "Oh iya pantes, gue minumnya sambil ngeliatin sepupu sendiri"

Diambil gelas itu oleh Sena, kemudian dengan air yang tersisa, disiramnya tepat di wajah Akai dengan emosi. "SEMPAK MONYET! ELO NGAPAIN NGALUS KE SEPUPU SENDIRI! BLEKI SINTING!"

Akai tak sadarkan diri, ia tertidur di atas sofa setelah terkejut sebentar karena siraman air. Sena mendengus kemudian berdiri dan menujuk wajah Akai. "Besok nih anak harus gue tampol"


Jagoan
_____

"Et bentar ngapa! Gue belom selesai ini nulisnya!"

"Elo nulis apa ngukir sih? Lama amat buruan gue juga belum selesai nyonteknya" Jovan tak tenang menunggu Samuel menyalin PR yang baru saja ia tulis dari buku Baim, tapi sayangnya setelah anak-anak rame bermunculan, buku Baim berjalan-jalan entah dimana, dan Jovan belum selesai mencontek dengan benar.

Pagi ini kelas 3-2 disibukkan oleh PR Kimia. Ini semua karena Baim sang ketua kelas yang lupa memberitahu kalau guru Kimia memberikan PR minggu lalu, dan harus di kumpulkan hari ini. Jadilah semua orang rusuh tak karuan, karena hanya Baim yang ingat dan baru mengerjakan. Bayangin aja satu buku dicontek sekelas, dan meja Sena kebetulan menjadi saksi atas tindakan asusila terhadap buku Baim.

"TIPE-X GUE MANA?!"Jeno berteriak kencang.

"TIPEK MANA SIH AH! JANGAN DIBAWA-BAWA DONG SAT!" Disambung oleh Darrel. Dari sini kita bisa tahu, bahwa ada dua tipe orang yang menyebut nama benda khas warna merah dan biru itu sebagai Tipek dan Tipe-X.

Dilain sisi Sonho merasa kesal lantaran tangan Mark yang menutupi hampir separuh buku Sonho, hingga membuat anak itu tidak bisa menulis dengan benar. "Jangan ditutupin bego! Gue nggak bisa nulis ini!"

"YANG UDAH GANTIAN DONG! GUE MASIH KOSONG INI" Handaru yang nggak kebagian lapak mulai kesal.

"Pelan pelan anjir rusak buku gue" Baim yang nggak tega melihat bukunya digilir beramai-ramai mulai tak tenang.

Jagoan | REVISIBaca cerita ini secara GRATIS!