Chapter 123: Cara Pengkhianatan

2.4K 148 14

"Aku ingin menghancurkan Evilia. Terutama mereka yang dekat dengan Maou saat ini. Dengan kata lain... Balas Dendam." (Kiria)

"Mengapa kau ingin melakukan itu? Lagipula kalau kau membenci Maou mengapa kau melayaninya? Ataukah kau melayaninya sambil merencanakan pembunuhan?" (Rudolf)

"Ini bukanlah cerita yang singkat." (Kiria)

"Apa maksudmu?" (Rudolf)

"Orang-orang di sekitar Maou saat ini adalah orang-orang yang paling aku benci. Walaupun aku memang bisa membunuh Maou dengan mudah, namun aku ingin membunuhnya setelah mempermalukannya dan membuatnya putus asa dan tidak berdaya." (Kiria)

Rudolf dan Dennis pun bergetar karena kengerian. Mata Kiria yang seakan membeku oleh kegelapan menusuk diri mereka.

"Aku ingin membunuh Maou dalam skenario terburuk. Untuk itu bantuanmu sangat berpengaruh." (Kiria)

"Begitu ya. Jadi itu adalah alasan konferensi ini?" (Rudolf)

"Ya, memang itu alasannya." (Kiria)

Rudolf mengangguk dengan ekspresi kaku. Namun walaupun dia merasa terintimidasi oleh emosi gelap Kiria, dia tidak boleh langsung percaya begitu saja

"Kemungkinan besar aku akan menjadi salahsatu penjaga yang menemaninya ke konferensi. Kalau Maou terbunuh dihadapan para penjaganya, mereka akan meratapi ketidakbergunaan mereka. Lalu setelah mereka mengalami keputusasaan, aku akan menyiksa mereka sampai mati." (Kiria)

Suara Dennis yang menelan ludah dapat terdengar jelas. Kekuatan mulai keluar perlahan dari lengannya yang terkepalkan. Orang ini serius, pikir Rudolf yang gelisah dengan rencana nekat ini.

"Mengapa... kau ingin Balas Dendam?" (Rudolf)

"Oh? Bukankah kau kehilangan orang yang sangat berharga bagimu juga? Ataukah mungkin, walau kau sudah kehilangan orang berhargamu, kau tidak memiliki keinginan balas dendam?" (Kiria)

"... tidak, aku memang ingin membunuh Evilia... khususnya Maou. Namun perjanjian seperti ini... aku tidak bisa menerimanya begitu saja." (Rudolf) 

"Mungkin kau benar. Aku juga sudah kehilangan salahsatu orang yang paling berharga untukku, jadi aku tidak bisa memaafkan mereka. Jadi tolonglah. Akankah kau membantu kami untuk menghancurkan Xaos?" (Kiria)

Mereka berdua saling menatap. Waktu terus berjalan dengan keduanya yang saling menatap. Lalu Rudolf yang mengalihkan pandangannya pun berbicara.

"Kau baru saja berkata 'kami' kan? Apa ada orang lain yang mengetahui ini?" (Rudolf)

"Satu orang yang lain bernama Iraora, penjaga perbatasan." (Kiria)

"Apa-!" (Rudolf)

Kalimat itu sangatlah menarik perhatiannya. Jembatan Mütich adalah satu-satunya penghubung kedua perbatasan. Orang yang menjaga lini pertahanan absolut itu pastinya sangatlah kuat. Akan sangat menakutkan kalau orang seperti itu ada di pihak oposisi.

"Kalau begini ceritanya, akhirnya aku bisa membuat banyak rencana. Namun-" (Rudolf)

"...?" (Kiria)

"Itu hanya berlaku kalau ceritamu memang benar. Kau tidak berpikir kalau aku akan langsung percaya begitu saja tanpa ada bukti kan?" (Rudolf)

"Tentu saja. Aku mengerti kalau mempercayai butuh waktu. Jadi kirimlah intel paling terpercayamu ke Xaos untuk membuktikannya. Aku akan memerintahkan Iraora untuk membiarkannya melewati jembatan tanpa terluka." (Kiria)

"... Dennis." (Rudolf)

"Y-Ya?" (Dennis)

"Perintahkan unit ketiga mengecek kebenarannya. Ah tunggu dulu. Jika ini memang benar, akan lebih baik kalau kita mempercayakan informasi ini pada mereka yang benar-benar bisa Kita percaya kan?" (Rudolf)

Konjiki no Wordmaster - Arc 3: Perang Antar RasBaca cerita ini secara GRATIS!