Epilog

4.4K 212 12

Rasanya seluruh tulang di badan Cellyn mau rontok semuanya. Bagaimana tidak, kegiatan di Universitas barunya, Univ Duisburg Essen, yang terletak di Jerman menguras tenaganya. Yup, gadis itu baru saja mendapatkan beasiswa untuk berkuliah di luar negeri dengan gratis tanpa pungutan biaya apa pun. Bahkan sudah disediakan asrama di negara itu sehingga Cellyn bisa leluasa menabungkan uangnya.

Yah, meskipun berulang kali Darrel membujuk adiknya itu agar mau kuliahnya dibiayai, namun Cellyn selalu menolak dengan alasan yang sama. Dia tidak mau membebani kakaknya yang sebentar lagi akan melancarkan pernikahannya dengan Naya.

Cellyn turut lega mendengar kabar bahagia itu, akhirnya sepenuhnya Darrel bisa melindungi sahabatnya yang yah, sedikit gila menurut Cellyn.

Oke abaikan hal itu, sekarang Cellyn tidak mau membuang sia-sia waktu istirahatnya yang hanya berkisar tiga puluh menit.

Kemudian setelah itu dia harus bergegas ke rumah sakit untuk praktik karena sebentar lagi kuliahnya akan berakhir dan ia resmi menyandang gelar dokter spesialis kanker. Cita-cita itulah yang membuat Cellyn bersemangat kuliah. Dia ingin menyembuhkan penderita kanker agar bisa berkumpul bersama keluarganya lagi.

Selama berkuliah Cellyn memang tidak mementingkan hubungan asmaranya, dia hanya sesekali berbicara dengan cowok teman kuliahnya atau Denin. Status cowok itu masih sama bagi Cellyn, sebagai sahabat. Dan Denin dengan perlahan mulai menyadari hal itu dan tidak pernah memaksa Cellyn lagi. Karena memang seharusnya cinta datang dengan rasa yang terbiasa tanpa pakasaan ataupun ancaman kan?

Lagu berjudul Closer itu berbunyi sangat keras dari ponsel Cellyn yang ia letakkan di atas nakas.

Oh sial, bahkan ponselnya pun tak ingin Cellyn menggunakan waktu istirahatnya. Tangannya meraba ponsel itu kemudian melihat siapa pelakunya, ternyata Denin.

"Halo?" Cellyn mendengar tawa dari seberang sana. Pasti Denin senang bisa mengganggu Cellyn.

"Den!" Kali ini Cellyn membetak Denin yang tak kunjung menyahutinya dan malah sibuk tertawa.

"Sorry, gue terlalu larut sama suasana. Lo ada urusan nggak?" Tawa Denin sudah menghilang dan berganti dengan nada serius.

"Urusan apa?" tanya Cellyn ketus.

"Nggak sekarang. Gue jamin ini akan menjadi kejutan terindah yang lo terima."

"Lo udah tau Den gue nggak suka kejutan. Lagipula selama ini orang yang berusaha buat kejutan untuk gue selalu gagal bukan, right?"

Fakta itu memang benar, berbeda dengan cewek lain yang dengan senang hati menerima kejutan, justru Cellyn sangat tidak suka dengan kejutan. Baginya untuk apa diberi sesuatu yang disembunyikan? Toh nanti dia juga bakal tau setelah kejutan itu dibeberkan.

"Gue tau kok. Lo datang aja ke kafe biasa kita makan. Di sana kejutan siap menanti lo."

Tut tut tut ...

Denin memutuskan panggilan secara sepihak. Cellyn menepuk dahinya lupa, dia kan masih ada praktek di rumah sakit nanti. Bagaimana bisa dia menemui Denin dengan kejutannya di kafe?

Ponselnya berdering lagi, dengan cepat Cellyn mengangkatnya dan hendak marah-marah sebelum suara di seberang sana menyapa. Ternyata itu adalah suara rekan kerjanya sekaligus seniornya selama di rumah sakit. Beliau mengabarkan kalau praktek hari ini dibatalkan karena ada pasien yang harus ditangani secara langsung oleh beliau. Tentu itu akan membatalkan praktik karena tanpa adanya dokter itu Cellyn tidak bisa menuntaskan praktik itu.

Mungkin saja dia memang harus menerima kejutan itu, pikir Cellyn.

*****

Cellyn memasuki kafe milik orang Indonesia yang ada di Jerman. Mulai dari pertama kai dia datang ke sini, Cellyn sudah menetapkan kafe ini sebagai kafe langganannya karena sudah dijamin halal dan pas untuk lidahnya.

Matanya mencari sosok Denin. Akhirnya dia menemukannya. Denin duduk di pojok kafe yang berhadapan langsung dengan pemandangan sungai di pinggir kafe ini.

"Cell?" Denin mengacungkan tangannya menyuruh Cellyn mendekat.

Tapi tunggu, kenapa Denin tidak sendiri? Melainkan dia bersama seseorang yang memakai topi coklat dan jubah tebal berwarna hitam. Cellyn mengernyitkan keningnya, sepertinya dia familiar dengan punggung orang itu yang meskipun terbalut jaket tebal.

Dengan perasaan tegang dan tangan yang dingin Cellyn berjalan. Tepat di belakang orang itu Cellyn berhenti. Membuat Denin mengerutkan dahinya lagi yang membuat orang di hadapannya kini ikut memutar tubuh menghadap Cellyn.

Mulut Cellyn ternganga melihat siapa orang di depannya. Bahkan rasa kecewa itu kembali terbesit meskipun sudah hampir seratus persen Cellyn memaafkan orang itu.

"Ke ... Kevin." Akhirnya kata itulah yang muncul pertama kali mengawali pertemuan mereka yang sudah berakhir lama.

"Dan inilah Cell kejutannya. Lo suka kan?" Denin dengan mata berbinar tersenyum puas tanpa dosa.

Sedangkan Cellyn melayangkan tatapan tajamnya ke arah Denin. Tubuhnya membeku tidak bisa melawan matanya yang terus menatap mata biru itu.

Tanpa disangka, Kevin memeluknya dan mendekapnya dalam. Cellyn tak memberontak sedikitpun. Bahkan ia merasa nyaman dengan kehangatannya. Air mata Cellyn jatuh perlahan, entah kenapa rasanya ia ingin menangis. Entah karena bahagia atau sebaliknya.

"Maaf baru bisa menemui kamu setelah waktu yang terbuang lama untuk menghilang."





An:

Alhamdulillah, akhirnya aku bisa menyelesaikan cerita pertama yang aku buat di wattpat ini. 

Sumpah seneng banget! Tamat juga cerita yang udah 14 bulan lebih di wattpad. 

Gak tau mau bikin note gimana lagi, intinya aku seneng untuk kalian yang baca, vote, dan coment. So luv luv luv

Secret Admirer ✔️Baca cerita ini secara GRATIS!