Alpha's Babies 12

3.2K 219 26

Resume: Setelah Kale dan komplotannya menculik adiknya, Colten mengamuk dan menyelamatkan Raiven. Namun Kale menyuntikkan serum yang membuat Raiven menjadi manusia biasa. Dengan susah payah, semuanya mencari cara untuk mengembalikan kondisi Raiven, dan sekarang mereka dalam perjalanan melaksanakan ritualnya.

------------------------------------
"Raiven, ayo, cepatlah!" teriak Colten dari balik bahunya. Semuana sudah lumayan jauh di depan. Colten mmbawa Caden dalam lilitan lengannya semantara Kody, yang masih dalam wujud serigala, mengigit Corbin yang masih berontak dengan liar ingin dilepaskan.

"Apa kau lupa kalau aku sekarang ini manusia?" teriakku terengah-engah. Kemudian aku terpekik saat aku terjatuh ke tanah karena sakit pinggang. Kukira sakit pinggang itu cuma mitos.

Cokten mengeluarkan erangan frustasi saat ia terus berlari. Tapi kemudian ia memberi tanda agar Kory berhenti. Colten meletakkan Caden di atas punggung Kory. "Jaga dia. Bilang pada yang lain untuk menggunakan kecepatan serigala mereka untuk keluar dari hutan. Aku akan menyusul."

Kory mengangguk patuh. Colten kemudian menatap Caden. "Pegangan yang erat, ya."

Caden mengangguk gembira, sambil mencengkeram bulu Kory dan menendang-nendangkan kaki mungilnya, "Ayo berangkat!"

Dalam sekejap, Kory telang ditelan hutan, bahkan sebelum aku bisa mengucapkan selamat tinggal kepada si kembar. Colten kembali padaku dan meraihku yang terduduk di tanah. Dengan satu tangan menggamit kedua belakang lututku dan yang satunya lagi di punggungku, aku berada dalam pelukannya dalam sekali gerakan, dan mendongak menatap wajahnya. Hanya Tuhan yang tahu berapa lama aku telah menunggu saat seperti ini.

Hal ini membawaku kembali kepada malam pertama bertemu dengannya, kedua tangannya sangat kuat, tetapi sangat lembut.

"Hei, kau keberatan untuk tidak berliur di kausku?" tanyanya tiba-tiba, sembari mengangkat kedua alisnya. Langsung kututup mulutku dan kurenggut diriku dari lamunan. Ia terlihat agak puas karena aku tertarik padanya.

Aku menatap langit gelap. "Kita harus bergerak cepat sebelum bulan terbit," kataku tak perlu. Colten hanya memutar bola matanya. "Tak mungkin kita bisa terlambat."

Bahkan sebelum aku punya waktu untuk berpegangan dengan benar, ia sudah berlari dengan kecepatan yang bisa mematahkan leher. Hanya terdengan suara desing angin yang  yang membuntu telingaku dan membuat rambutku tersibak ke mana-mana dengan brutal sementara pepohonan berubah menjadi buram kehijauan dan coklat di depan mataku. Aku mencengkeram kaos Colten kencang-kencang sampai kupiki aku membenamkan kuku-kukukj ke kulitnya terlalu keras. Tapi tak ada waktu untu meminta maaf.

Tanpa kusadari, ia memperlambat larinya, walaupun aku agak berharap ia tetap berlari menggendongku selamanya. Ia berhenti tiba-tiba. Begitu tiba-tibanya ia hampir menjatuhkanku.

Kuedarkan pandanganku dan kami berdiri di atas tebing berumput yang paling ujung. Tebing itu menonjol keluar dan aku bisa melihat jarak yang sangat jauh ke hutan di bawah sana kalau sampai jatuh. Aku bergidik, lalu turun dari pelukan Colten. Maya, Tara, Nick, dan Kory terlihat kelelahan.

"Bisakah kalian berdua bergegas dan menyelesaikan ini semua? Corbin membuat kita semua pusing," kataTara sembari menempelkan punggung tangannya ke dahinya dengan dramatis. Mendengar namanya, Corbin menyalak kepadanya, taring-taring kecilnya dipamerkan dengan agresif walaupun Kory masih mencengkeram leher Corbin di antara gigi-giginya.

Tara terlonjak dan mundur dengan was-was. "Idiiih, ada yang punya pengaman moncong dari besi buat anak anjing ini?" tanyanya.

Colten melotot padanya, lalu maju. Dan jika dia maju selangkah lagi, dia akan terjun bebas sekitar 60 kaki dengan hanya cabang-cabang pohon, ranting, dan duri-duri yang menahan jatuhnya.

Aku menggeleng membersihkan pikiran itu cepat-cepat dari kepalaku. Colten mendongak menatap bulan yang mulai muncul di langin malam.

"Baiklah. Kita harus melakukannya dengan benar dan cepat. Kory, Nick, aku butuh kalian untuk berjaga-jaga dari Derek dan kronilkroni kecilnya. Tara, kau akan menjaga Caden sementara kami mencoba untuk membuat Raiven kembali menjadi manusia. Dan Maya, kau yang akan memegang Corbin--"

Maya menggelengkan kepalanya dan mengangkat kedua tangannya dengan menyerah. Tidak, Alpha. Maaf, tapi dia akan berakhir menggigit kepalaku sampai putus jika aku berani menyentuhnya!"

Alis Colten mengerut dalam-dalam. "Kau akan melakukan perintahku!" katanya tegas. Maya menelan ludah dan mengangguk.

"Baiklah," balasnya dengan suara lirih.

"Colten! Berhenti menakuti semua orang!" kataku sambil memukul lengannya. Ia menggenggam pergelangan tanganku erat-erat dan menatap langsung ke dalam mataku. "Kau ingin Derek dan yang satunya berhasil mengejar kita?" geramnya padaku.

Aku merenggut tanganku darinya. "'Yang satunya' adalah kakakku--!"

"Oh, benar, yang mengurungmu berkali-kali lalu mengubahmu menjadi manusia?"

Setiap orang langsung terbungkam, menebak-nebak apa yang akan kukatakan selanjutnya.

Aku tak bisa berkomentar apa pun karena ia benar. Nick mendekat dan meletakkan kedua tangannya di pundakku. "Kita mungkin sebaiknya memulainya," katanya pelan, menghindari kontak mata dengan Colten.

Aku membiarkan Nick menghiringku bersiri di pinggir jurang. Kupeluk diriku sendiri erat-erat dan menatap langit. Bagaimana bisa aku berakhir di sini? Bagaimana mungkin bertemj seorang pria mengubah hiduomu debgan begitu dramatis... dan begitu buruk?

Aku melihat Colten melotot padaku. Rahangnya menggertak, mungkin saja ia tahu apa yang kupikirkan. Kugelengkan kepalakj akan semua pikiran kalau-kalau aku malah membuat segalanya menjadi lebih buruh di antara kami.

"Anu, Alpha?!" tanya Tara dengan gugup. Kami semua berbalik menatapnya. Tara menunjuk Corbin dengan tangannya yang gemetar.

Mata Corbin berkilat buas dan bada berbulu mungilnya berontak liar sehingga Kory kesulitan membawanya dengan aman dan menatap kami dengan pandangan memohon.

"Alpha! Lakukan sesuatu!" kata Maya putus asa. Colten berdiri di sana sejenak tanpa bisa apa-apa, lalu dia mengumpulkan kepercayaan dirinya dan melangkah maju menuju Kory dan Corbin. Ia mengulurkan tangan dan menggenggam Corbin erat dengan kedua tangannya lalu mengangkatnya. Corbin menyalak dan menyabetkan cakarnya dengan liar. Terdengar sebuah suara mengerikan saat kami melihat sayatan merah berdarah yangvterbuka di wajah Colten. Darah menetes dari atas alisnya ke bawah telinganya. Kami semua tersentak tapi wajah Corbin bertambah kaku dan menggenggam Corbin lebih erat.

"Hei! Colten membentak Corbin sehingga kami semua sedikit terlompat kaget. "Sudah cukup!"

Secara mengejutkan, Corbin berhenti menggeram dan menyalak. Ia menundukkan kepalanya, merengek dengan ekor di antara kakinya.

Setelah Coltem yakin bahwa Corbin tidak akan bertingkah liar lagi, ia meletakkannya di tanah.

"Duduk!" perintah Colten. Corbin duduk dengan patuh, kepalanya tertunduk rendah.

Aku agak jengkel pada cara Colten bicara. Colten tahu bahwa aku tak suka, tapi ia tak meminta maaf, tetapi hanya mengusap darah dari lukanya sambil lalu.

Caden melangkah maju sedikit dan menatap Corbin dengan waspada. "Corbin, kau baik-baik saja?" tanya Caden.

Corbin mendongak, ia tampak mengenali kembarannya itu. Ia lalu membuka mulutnya sehingga lidahnya terjulur keluar dan ekornya bergoyang. Caden mengulurkan tangan, lalu mengelus-elus kepala Corbin dengan gugup. Corbin kemudian berdiri dan melompat maju, untuk menjilat tangan Caden. Kami semua, selaim Colten, merasa kalau hal ini sangat imut.

"Bisakah kita lanjutkan sekarang?" tanya Colten, wajahnya tampak luar biasa marah. Moodnya berubah-ubah dengan mudah seperti saklar lampu yang tinggal dipencet on off. Semenit yang lalu ia dengan senang hati menggendongku melalui hutan. Namun selanjutnya, ia seolah ingin membakar seluruh dunia.

Alpha's Babies (Indonesian Translation)Baca cerita ini secara GRATIS!