8. Aib Peluncur Karya

3.7K 419 32

"Lihat orang cuma pelukan aja bawaannya risih.
Wajar sih, jomblo cuma bisa peluk diri sendiri."

-Gauri Adoria Zoya-

*****

Sejak tiga hari yang lalu, hidupku tak sebebas sebelumnya. Di mana dulu aku bisa pergi ke mana saja, mengendarai mobil ataupun sepeda motor sendiri, sekarang aku diharuskan pergi dengan sopir.

Bukan sekedar sopir, tapi merangkap sebagai bodyguard dan asisten pribadiku. Kenalkan, namanya Jono. Udik memang, tapi dijamin kalian para wanita haus sentuhan pria pasti menggigil hanya dengan melihat perawakannya.

Roti sobeknya menggoda iman, wajahnya itu --entah dari mana dia bisa dapatkan dengan kedua orang tua murni berdarah Jawa-- seperti peranakan idola anak muda jaman sekarang, artis korea yang sipit menggemaskan seperti mantanku dalam mimpi.

"Ayo Sayang, temani aku rapat hari ini."

Ya, aku memanggilnya sayang. Lumayan bukan, pria tampan itu perlu dibanggakan. Berhubung ke manapun aku pergi seperti induk ayam --diikuti terus olehnya-- lebih baik ku gandeng saja dia. Setidaknya aku mampu membuat teman --baik di depan tapi di belakang doyan mencibir-- iri padaku. Aku harus bersyukur pada kebijakan Papa yang satu ini.

"Baik, Nona."

Aku berdecak pelan. Apa harus kuberi kecupan terlebih dahulu bibirnya itu? Percuma kupanggil manis begitu jika dia terang-terangan membuka aib-ku.

"Panggil gue Zoya saja, Jon. Kalau mau balik panggil gue sayang juga gakpapa, kalau perlu jadian beneran," bisikku terkesan menuntut.

"Tapi Non-"

Gemas, kucubit saja pipinya. "Sudah, ayo naik Sayang. Nanti kita terlambat." Segera kugamit lengannya tanpa permisi. Tak ada keluhan darinya. Memang seharusnya dia bahagia, kapan lagi dipeluk mesra wanita cantik sepertiku? Langka loh! Percaya kan?

"Hahahaha, miris banget sih elo, Kak? Di saat gue mau di grepe-grepe tinggal ngedipin mata doang, elo harus ekstra menggoda iman Jono," ejek Alan. Aku lupa, hari ini kami berangkat ke kantor bersama.

Tolong garis bawahi ya, semua ini terpaksa! Alasannya dia kehabisan tenaga bertempur semalaman sampai tak kuasa menyetir mobil, padahal kuyakin dia hanya ingin menggangguku saja selagi dirinya tinggal di negeri ini. Dia kutarik ke kursi belakang supaya aku bisa duduk berdampingan dengan Jono.

Kuinjak sepatunya dengan heels lima centiku hingga ia mengaduh. Alan memandangku seperti musuh bebuyutan sekarang, tapi aku tak peduli dan tetap santai berjalan dengan Jono.

"MACAN KUMBANG! PANTES AJA KURANG BELAIAN- AAWWW!"

Kebetulan, security di pintu masuk gedung kantorku sedang memegang pentungan. Berhubung berat dan walaupun kesal sekali dengan Alan, aku tidak sampai hati mengenai kepalanya, pentungan ini tersasar ke kakinya kembali. Nikmatilah pembalasanku!

>>>>>

Aku heran sekaligus penasaran. Siapa sebenarnya dia. Papa bilang meeting bersama client kali ini, kembali membahas kerjasama penggabungan antara perusahaan software kami, dengan perusahaan penghasil smartphone dan alat elektronik lainnya.

Tapi untuk apa seorang Agam Wafi Pranaja ada di sini? Kupikir ia seorang designer. Mengingat kejadian patahnya salah satu koleksi Stuart Weitzerman milikku yang patah di lift, saat itu mungkin saja salah satu karyawan Papa menjadi klien-nya. Kebetulan sedang musim kawin juga.

Coba kalian pikirkan, apa hubungannya designer dengan seperangkat alat elektronik dibayar tunai seperti kami?

Ku yakin proyek kami juga bukan untuk menghasilkan busana virtual ataupun dalam bentuk telegram. Tapi lihat itu, matanya sejak tadi menatapku di sepanjang presentasi, membuatku gelagapan sendiri. Terkutuklah pria tampan, Zoya gampang basah terlalu lama berlumut!

"Terima kasih Nona Zoya, anda bisa duduk kembali." Itu Papa yang barusan berbicara. Beliau sempat tersenyum lembut padaku, tapi sebelum designer salah ruangan ini berdiri dan menghampiriku dengan senyuman mengejek khas dirinya.

Aku berbisik hingga kuyakin hanya Agam yang mampu mendengarku. "Tolong jangan modus di sini. Nanti aja, dibawa pulang juga aku ikhlas."

Agam terkekeh pelan, "It's my turn, Baby."

Rasanya aku ingin sekali menutup wajahku dengan helm full face dan dirangkap dengan selimut tebal lalu pergi bersembunyi ke dalam mobilku setelah mendengar jawabannya. Bodoh kau Zoya! Tentu saja dia maju dan berdiri di sampingmu, dia juga akan presentasi!

Di saat kakiku akan melangkah ke tempat duduk yang kosong, Agam menahan sebelah tanganku dan menggeleng pelan dan melanjutkan presentasinya. "Saya terinspirasi dari Nona di sebelah saya ini. Rencananya desain ini akan digunakan sebagai wallpaper utama produk kita. Saya yakin ini cukup menarik selain dari perangkat sistem android terbaru yang saya keluarkan akhir-akhir ini-"

"GOSH! WHAT THE ...." Aku terpekik melihat layar proyektor. Sebuah contoh layar utama smartphone dengan high heels berwarna merah yang telah kehilangan haknya sebagai wallpaper. Satu kata yang dapat ku deskripsikan, Beautiful!

Aku masih menutup mulutku seraya meneliti setiap detail gambar di sana. Tunggu, aku baru menyadari gambar itu sama persis seperti sepatuku yang patah!

Agam tersenyum manis sekali saat ini. Aku tahu dia bangga pada karyanya begitu melihat tatapan terperangah milikku. Ternyata dia tahu sepatuku keluaran Stuart Weitzerman!

"Jadi kau tahu bukan, sepatu yang kau patahkan itu mahal?" tanyaku tepat di telinganya.

Keningnya berkerut. "Lalu?"

Tatapanku berubah garang. "Ganti rugi!"

Agam terkekeh. Apanya yang lucu? Aku masih tak bisa terima jika high heels kesayanganku berubah menjadi sepatu flatshoes. Harga diri wanita terletak pada sepatu, karena sepatu itu memiliki hak. Beraninya dia tertawa!

"Kubuatkan lagi yang lebih khusus, kali ini hanya ada satu di dunia. Nanti kau akan melihatnya," balasnya enteng.

Apa katanya? Membuatkan lagi  untukku?! Aku curiga dia selama ini berpura-pura jantan padahal menyukai wanita berjanggut. Setelah kemarin kupikir dia seorang desainer pakaian, tadi desainer smartphone, kini desainer sepatu. Ughh ... aku ilfeel! Pantas saja dia selalu mengabaikan wanita cantik sepertiku.

Tepuk tangan terdengar satu-persatu hingga terdengar riuh dalam ruangan ini. Aku yang baru saja berniat ingin memastikan apakah sebenarnya dia manusia berbatang atau berlubang pun mengurungkan niatku.

"Ide brilian! Saya semakin optimis untuk bekerja sama dengan anda.
Saya yakin biaya yang kami keluarkan, hasilnya akan seimbang, bahkan melebihi ekspektasi kami," seru seorang pria berkepala botak plontos membuat ruangan ini terasa terang karena kepalanya itu.

"Saya setuju. Proyek kita pasti mampu menyaingi produk ternama sebelumnya, seperti Samsung ataupun I-phone," timpal pria yang duduk di sebelah kepala botak, aku melihat hampir seluruh audiens yang hadir pun mengganggu setuju. Dari sini aku dapat melihat Papa tersenyum kecil dan memberikan kedipan singkat kepadaku, tanda jika beliau cukup puas dengan keberhasilan hari ini dalam menarik investor lebih kuat.

Aku melirik ke Agam kali ini, dan kulihat senyuman puas terlukis di kedua sudut bibirnya. Hanya berselang beberapa detik dia pun melirikku. Bibirnya bergerak pelan tanpa suara tapi aku cukup mengerti. "Tunggu aku di luar nanti."

Aku ragu untuk menurutinya. Untuk apa? Memperkenalkan pacarnya yang berbatang kepadaku? Yang benar saja!

Kedua tanganku bergerak ke atas berikut bibirku yang bertanya tanpa suara, "Untuk apa?"

Dia terkekeh. Lagi. Aku semakin takut, apa jangan-jangan selama ini aku naksir pasien buronan rumah sakit jiwa?

Dia menatapku dalam dan berkata, "For marry you."

FIX. DIA MEMANG BURONAN.

TBC

*****

Semoga gak bosen ya bahas bisnis~

Regards,
Ali

15 Juli 2017
1083 Words

All Eyez (#MOG 2) [END]Baca cerita ini secara GRATIS!