Pelayan dan Majikan

934 83 2

Aku tak tahu apa yang harus kukatakan pada Drupadi ketika dia datang. Aku memandang dendam yang semakin berkerak di matanya. Mendera tubuhnya hingga semakin kurus... hanya pancaran anugerah kecantikan itu yang membuatnya terlihat indah. Sementara bibit-bibit derita membuat sosoknya semakin mengering. Sungguh berbeda dibandingkan masa gadis dan masa-masa kejayaannya.

"Duduklah, Putri. Anda tampak begitu lelah."

Drupadi bergeming tanpa berniat menjawabku.

"Jika anda masih marah, saya siap mendengarkan kemarahan anda," aku berkata dengan nada lembut. Aku menyentuh bekas luka di dahinya. Saat itulah dia menatapku dengan sorot penuh benci.

"Bagaimana mungkin suamimu bisa berpihak pada kejahatan? Padahal suami-suamiku adalah adik-adiknya," dia berkata dengan nada berapi-api, "Dia tak seharusnya mendukung orang yang menjadi musuh dunia."

"Menurut anda, yang manakah yang lebih mudah? Memusnahkan musuh dunia? Atau menghancurkan saudara?"

Drupadi menelengkan kepala, menghindari tatapanku.

"Kebencian hanya akan melahirkan dendam dan penderitaan."

Drupadi mengembuskan napas lalu tersenyum mengejek, "Kau mengingatkanku pada Supriya lagi."

"Saya tidak keberatan, anda menganggap saya sebagai Supriya."

Senyuman di wajah Drupadi saat itu terlihat sebagai kekejaman yang bercampur keputusasaan, "Kalau begitu, suamimu akan kembali membalasku."

Rona merah muncul di wajahku saat Drupadi mengatakan kalimat itu, sengaja mengingatkan aku akan penghinaan Karna di permainan judi dadu.

"Jika Supriya masih ada, apa yang akan anda katakan kepadanya?"

Perkataanku itu seakan menyengat Drupadi. Dia memandangku dari atas ke bawah, kerinduan kini membaur bersama semua kebenciannya.

"Aku ingin bertanya kepadanya, bagaimana mungkin dia bisa...meninggalkanku?"

Aku mengulum senyum lalu menyentuh bahunya, "Putri, anda adalah orang yang baik. Anda begitu mengasihi Supriya. Tak dapatkah sekarang anda menggunakan rasa kasih ini untuk menghapus kebencian di hati anda?"

Drupadi terkejut mendengar penjelasanku. Aku masih tersenyum dan menyentuhnya, kali ini, menyentuh rambutnya yang tak pernah tersisir.

"Putri, setelah anda mencuci rambut dengan darah Dursasana, apakah anda akan merasa bahagia?"

Drupadi gemetar mendengar pertanyaanku.

"Anda mengutuk dinasti Kuru. Penderitaan anda akan menghancurkan semua wanita yang memiliki suami, atau memiliki saudara lelaki. Penderitaan anda, akan menghancurkan anak yang akan tak memiliki ayah, atau para ibu yang akan segera kehilangan putra-putranya."

Tubuh Drupadi gemetar mendengarkan semua penjelasanku. Amarah berganti ketakutan yang semakin membayang di wajahnya.

"Anda memiliki kecantikan yang membuat semua wanita iri. Lima suami yang sempurna. Putra-putra yang berbakti. Hidup anda terlalu indah untuk dinodai dengan dendam."

"Aku masih belum bisa melupakan penghinaan itu," rahang Drupadi mengeras, "Dan yang paling menyakitkan, suamimu ikut di sana untuk menganiayaku. Sekarang pun dia berniat berperang melawan suami-suamiku. Untuk apa kau datang ke mari? Sengaja ingin menceramahiku dan membuatku merasa bersalah?"

"Oh, Panchali, Putri... saya tidak punya hak untuk menghakimi," aku berbalik dan membelakanginya, "Sebenarnya, tadi saya enggan pergi ke mari. Tuanku Karna yang membujuk saya. Sejujurnya, Putri, bahkan saya pun sulit untuk menerima maaf dari suami-suami anda. Dewa Indra, ayah Arjuna, telah meminta satu-satunya pelindung suami saya dari kematian. Lalu tadi pagi... saya melihat Ratu Kunti datang, mengatupkan tangan dan memohon kepada Tuanku untuk tidak memerangi saudara-saudaranya."

"Seharusnya memang itu yang dia lakukan," kata Drupadi masih dengan nada dingin.

"Memang itu yang akan dia lakukan, Putri," aku meremas sariku menahan pedih, "Tuanku Karna menangis di pelukan ibunya. Dia bersumpah, takkan membunuh saudara-saudaranya. Yudhistira, Bima, Nakula, dan Sadewa... akan tetapi dia telah mengambil mengambil sebuah sumpah saat pertama kali berhadapan dengan Arjuna."

Tanganku mengepal sangat keras, aku tak bisa mengatakan kalau suamiku akan menemukan takdir kematian di tangan Arjuna.

"Tuanku Karna mengatakan, dia harus bertarung dengan Arjuna hingga salah satu dari mereka mati." aku memejamkan mata, menelan air mataku dalam-dalam, "Karena itu adalah sebuah sumpah Wangsa Ksatriya yang tak boleh dilanggar."

"Jadi suamimu tidak akan membunuh suami-suamiku?"

Saat aku menggeleng, Drupadi segera menumpahkan kesedihannya di atas dadaku. Semua keluhan yang dia pendam bertahun-tahun luluh bersama tangisan itu. Dia mengadu, dia marah, dia berteriak!

"Supriya! Kau tak tahu bagaimana penderitaanku bersama suami-suamiku saat menjalani pengasingan! Tidak cukup dua belas tahun hidup dalam keadaan mengenaskan, kami harus menjalani satu tahun lagi penyamaran! Kami harus menjadi bagian dari Wangsa Paria yang hina! Tuanku Yudhistira harus menjadi pelayan Raja Wirata. Tuanku Bima menjadi kokinya. Tuanku Nakula dan Tuanku Sadewa setiap hari bergelung dengan rumput dan kotoran ternak. Arjuna yang gagah, harus menanggalkan pakaian ksatrianya, lalu mengenakan sari dan berias seolah dia perempuan. Setiap hari, Tuanku harus berputar-putar dengan Putri Uttara, mengajar Sang Putri menari."

Drupadi semakin terisak-isak saat melanjutkan ceritanya, "Supriya! Kalian semua terlalu kejam kepada kami! Karena kalian, aku harus menjadi pelayan Permaisuri Sudhesna! Tidak tahukah kau betapa kejamnya permaisuri itu? Dia mengatur siasat licik menyerahkanku pada Kichaka—komandan pasukan kerajaannya! Tidakkah dia sadar betapa tak bermoral perbuatannya???"

Aku menepuk punggung Drupadi dengan lembut. Tak berniat membantah satu kali pun. Dia kembali berteriak beberapa kali. Dia memukul dadaku. Namun aku membiarkannya kali ini. Dia berhak melakukan itu. Semua penderitaan itu harus dikeluarkan. Semua tuntutannya harus didengarkan. Luka-luka jiwanya harus disembuhkan.

Dan demikianlah api kebencian di hati Drupadi berhasil dipadamkan. Bukan oleh api balas dendam. Melainkan oleh air mata.

#StopPlagiarism

Author Putfel

Legenda Negeri Bharata [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang