Part 10:grateful

26 4 0
                                                  


Jangan jadi silent reader ya! Tolong menghargai author dengan vote dan komen. Author tunggu pendapat kalian.

******************************************************************************************

Previous~~

Kago, tanpa melepaskan pandangan sedikit pun dari Rei membalas,"Ya tentu dia bisa menolong kita. Tapi dia hanya seorang pengecut! Apa yang bisa dilakukan seorang pengecut selain lari?!"

"Penakut!"

"Dasar egois!"

"Kau meninggalkan kami!"

"Aku benci kau!"

"Pengecut!"

Kata kata tersebut terus berputar di kepala Rei seperti kaset rusak. Seakan hal tersebut belum cukup membuat Rei menderita, ibunya, Kago, dan Lien ikut berputar, membisikkan hal buruk padanya. Wajah mereka sungguh mengerikan. Rei serasa dikelilingi oleh 3 iblis dari neraka yang siap mengambil jiwanya. Sudah tidak tahan menghadapi semua ini, Rei berteriak. Ia berteriak sekencang-kencangnya, lalu....................                

*****************************************************************************************

Start chapter~~


".........ei! Hei Rei! Ayo bangunlah! Astaga!"

Hari ini merupakan hari yang buruk bagi Raid Alanis. 

Pertama, pria yang lebih tua 5 tahun dari Rei itu hampir membunuh seorang siswa hanya karena siswa tersebut memanggilnya tua bangka. 

Raid yang sensitif jika disinggung soal rambutnya menjadi lupa diri. Untung saja guru lain menariknya dari belakang, kalau tidak mungkin dia sudah diinterogasi oleh klan Drakos dari tadi. Laki laki yang walaupun masih muda tapi beruban itu memang sering dikatai 'tua' oleh orang lain. 

Memangnya itu salahnya kalau dia beruban? itu karna gen yang diwariskan orangtuanya, makanya dia jadi seperti ini. 

Kedua, dia nyaris telat bertemu dengan pacarnya yang seorang warga kerajaan biasa. Hubungan mereka berdua bisa dibilang...... cukup mengkhawatirkan. 

Sudah beberapa kali mereka hampir putus karena Raid yang sering telat dalam kencan mereka, terkadang malah tidak datang sama sekali.

Ketiga, pria yang dia anggap sebagai adiknya sendiri beberapa menit yang lalu berteriak kencang sekali. 

Raid yakin seluruh mansion dapat mendengar teriakannya tersebut. Anehnya, Raid dapat melihat bekas air mata di pelupuk matanya.

 Apa Rei bermimpi buruk? 

Mimpi macam apa yang dapat membuat adiknya yang seperti patung es itu menangis?

"Rei, ayo bangun adikku! Itu hanya mimpi buruk!"

Raid menepuk pipi Rei perlahan. 

Tidak ada efek sama sekali. Rei masih berteriak, walaupun tidak sekencang tadi. 

Rei bergelut tidak nyaman di kasurnya. 

Keringat mengucuri sekujur tubuhnya. Kakinya menendang nendang ke atas.

Raid mulai kesal.

 Merasa sudah cukup dengan kelakuannya, Raid menepuk – ralat, menampar – muka Rei dengan kencang sekaligus berteriak ,"BANGUN!!!" di telinganya.

"AHHHHH!!!!!" teriak Rei yang berguling ke sebelah kiri kasur refleks karena kaget. 

Duk! Tubuhnya terjatuh diatas karpet. 

Rei mengelus bokongnya dengan kesal. 

Pipinya memerah akibat tamparan Raid. Dengan usaha yang minim, Rei menggunakan tangan kanannya sebagai tompangan untuk naik ke atas kasur kembali. 

Dia melihat kakaknya Raid, tersenyum menyeringai padanya. Bola matanya yang berwarna biru bersinar akibat bias cahaya matahari dari jendela di sebelah kirinya.

Wajah Raid yang menunjukkan aura keseriusan sekaligus keramahan itu terlihat khawatir.

"Hei..? Kau....baik-baik saja?", tanya Raid dengan nada tidak yakin. 

Namun Rei tidak mengerti apa yang Raid maksud. 

Hanya ada satu hal yang terlintas di pikrannya, apa dia demam karna kemarin pulang malam? Seakan baru menyadari suatu hal, wajah Rei memucat.

Gawat!!

Kalau dia ketahuan pulang malam kemarin, dia bisa dimarahi ayahnya. 

Belum lagi nanti ditanyai macam-macam, seperti apa yang ia lakukan sehingga pulang malam kemarin. Dia mau menjawab apa? 

Rei menepuk jidatnya, bermaksud untuk mengukur suhu tubuhnya sendiri.

Laki-laki itu menghembus napas lega begitu mengetahui suhu tubuhnya normal-normal saja. 

Raid yang melihat perilaku adik angkatnya yang aneh itu hanya bisa mengangkat sebelah alis matanya.

"Uh....umm..apa maksudmu Raid? Aku baik-baik saja."

Raid mengerutkan alisnya, menatap Rei tidak percaya dengan tatapan yang seolah berkata,"baik-baik jidatmu!"

"Tidak usah berbohong! Kalau kau baik-baik saja, mengapa kau berteriak kencang sekali 1 menit yang lalu, hah?", sembur Raid.

"Huh?"

Rei bengong sesaat, berusaha mengira-ngira apa maksud Raid. 

Seketika, mimpi semalam tercetak kembali di benak Rei. 

Ia mengingat semua yang dia alami, termasuk pertemuannya dengan ibu kandungnya, Kago, dan Lien, dan semua yang mereka katakan. Wajah Rei kembali menjadi sendu. Ia bersyukur semua itu hanya mimpi, tapi sekaligus sedih. 

Bagaimana tidak?

 Dia sudah lama tidak bertemu dengan mereka, dan setelah mereka bertemu kembali apa yang mereka katakan? Mereka memakinya, mengatainya, mengutuknya. 

Namun Rei tidak bisa menyalahkan mereka jika mereka benar-benar marah padanya. 

Dia memang pantas mendapatkannya. 

Raid yang melihat Rei kembali terdiam memutuskan untuk kembali berkata,"Rei? Ada apa?"

Rei membuang mukanya ke arah lain, menghindari kontak mata dengan Raid. Entah kenapa, hati Raid menjadi sedih.

"Uhh..i-itu hanya mimpi buruk.............," ucap Rei, masih menghindari tatapan Raid.

"Kau yakin tidak apa-apa?"

"...ya"

Raid melakukan hal yang selalu ingin ia lakukan sejak lama, memeluk adiknya dan mengelus rambutnya perlahan. 

Rei terkejut begitu merasakan sentuhan tangan Raid. Dia ingin menangis, tetapi egonya mengalahkannya. 

Jika ada satu hal yang Rei tidak ingin lakukan di depan Raid, itu adalah menangis. 'Laki-laki tidak menangis', mungkin perkataan Raid ketika dia berumur 11 tahun itu jugalah yang mempengaruhinya. 

Tangan Raid yang coklat marun menepuk pundaknya perlahan.

"..Jika kau butuh teman bicara, kau bisa datang padaku. Kita akan bicarakan ini dan temukan jalan keluarnya. Jangan paksakan dirimu, datanglah jika kau sudah siap. Lagipula itu gunanya saudara bukan?"

Rei mengangguk kepalanya lantas bergumam,"Terima kasih."


******************************************************************************************End chapter

Bersambung...
The Ascension Of The Wreis (Abandoned)
Terakhir diperbarui: Jul 01, 2017
The Ascension Of The Wreis (Abandoned)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang