Twenty Six

6.3K 218 22

"Aku pasti sukses membunuh target tanpa perlu bantuan pihak lain karena akulah Queen Knife."

******

Loire melangkah menuju lift dengan penuh tekad. Dia menekan tombol 18 yaitu lantai dimana kamar suite tempat Vera Sky menginap. Loire sudah mengantongi informasi yang terpercaya tentang keberadaan Vera Sky. Dulu mungkin dia pernah gagal, tapi sekarang dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Sekitar dua hari yang lalu, Loire sudah membayar salah satu pegawai hotel untuk memata-matai Vera, tentu saja dengan imbalan uang. Menurut laporan pegawai hotel itu, Vera menginap di kamar suite di lantai 18. Dia juga sudah mengetahui posisi kamar Vera itu. Kamarnya terletak di lorong kedua sebelah kiri paling pojok.

Lift telah sampai di lantai 18, Loire berjalan santai seperti penghujung kebanyakan. Tetapi matanya melirik tajam ke sekeliling tanpa ketara. Dia menandai lokasi CCTV yang dipasang di sepanjang lorong, terutama di dekat pintu masuk kamar.

"Great! Keamanannya sama sekali tidak ketat, bahkan bisa dibilang terlalu terbuka. Ini sama saja seperti menantang singa dengan membuka lebar pintu rumah. Dengan keamanan seperti ini, semua musuh Vera pasti akan sangat senang." Batin Loire girang dan heran.

Loire menghentikan langkahnya di depan pintu kamar hotel Vera. Dia sudah menyiapkan kartu untuk masuk ke dalam kamar tanpa menggunakan kartu asli dari pihak hotel. Jika hanya membuat kartu palsu untuk masuk, terasa sangat mudah bagi Loire. Dia meraih hendel pintu dan membukanya.

Ceklek

Loire membukanya perlahan, dia tidak gegabah langsung masuk ke dalam. Tiba-tiba Loire teringat sesuatu.

"Bagaimana jika ini semua adalah perangkap?" Pikir Loire.

Saat pintu sudah terbuka sepenuhnya, ternyata ruang itu kosong dan gelap. Loire melangkah masuk ke dalam kamar yang gelap dan menyalakan senter dari gadget- nya. Dia memeriksa semua ruangan di kamar itu tapi hasilnya nihil. Semua bersih, tidak ada satupun orang di dalam ataupun kemungkinan orang bersembunyi di dalam.

Loire memutar otaknya. Secara logika, ini tidak mungkin terjadi jika saja penyerangannya ini tidak ketahuan. Jangan-jangan sejak awal mereka sudah tau dia akan datang? Loire mengambil hp-nya dan menghubungi si informan. Pada dering pertama tidak diangkat. Begitu juga pada dering kedua. Loire mengumpat kesal.

Hp Loire berbunyi tanda ada panggilan masuk. Ternyata di informan yang menelponnya.

"Halo!" Sapa si informan.

Loire tidak membalas sapaan itu, dia langsung bertanya tentang informasi yang diberikan si informan, "Aku tadi pergi ke kamar yang kau beritahukan, ternyata disana tidak ada satupun orang. Apa kau mencoba membohongiku?"

"T-te-tentu saja tidak. Coba temui aku di tangga darurat lantai 3 dan aku akan jelaskan semuanya." Jelasnya.

Loire menutup telepon dengan kesal,"Kenapa kemarin aku tidak memilih pegawai yang lebih pintar saja. Jika ternyata dia sebodoh ini percuma aku membayarnya. Dasar informan tidak berguna!"

Loire kembali masuk ke lift menuju lantai 3, lalu dari sana ia menyelinap menuju tangga darurat seperti yang dikatakan si informan itu.

My Wild BoyBaca cerita ini secara GRATIS!