Twenty Five

4.5K 196 6

"Al, kalo lo gak mau keluar gue aja yang keluar. " Kata Fienna sambil berjalan keluar kamar mandi sambil cemberut. Alfredo masih diam di tempat tidak bergerak ataupun merespon. Tetapi saat Fienna mencapai hendel pintu kamar mandi sepasang tangan melingkari pinggang Fienna.

*******

Fienna terlonjak kaget karena pelukan dari belakang yang tiba-tiba itu, tapi tidak berusaha melepaskan. Dia membiarkan Alfredo karena diam-diam dia juga merindukan kedekatan bersama Alfredo.

Perlahan dia membalikkan badannya dan berhadap-hadapan dengan Alfredo. Wajah mereka hanya terpisah oleh jarak satu dua cm saja. Alfredo mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Fienna dengan ciuman lembut yang tidak tergesa-gesa.

"Gue kangen lo." Ucap Alfredo di sela-sela ciuman mereka.

Fienna menggerakkan tangannya yang tadinya terkulai di sisi tubuhnya. Sekarang, kedua tangannya bergerak memeluk leher Alfredo dan memperdalam ciuman mereka.  Fienna memejamkan matanya dan menikmati semua itu. Setelah itu Alfredo yang memegang kendali. Dia memimpin permainan.

Alfredo membuka kemeja yang dipakai Fienna. Kemudian jeans milik Fienna. Selanjutnya, pakaian dalam Fienna. Pakaian mereka berserakan di lantai kamar mandi. Lalu, Alfredo sedikit demi sedikit mengarahkan Fienna ke shower. Dengan sebelah tangannya, Alfredo menyalakan shower. Air shower mengalir membasahi mereka berdua

Tangan Alfredo mengurung Fienna yang bersandar pada tembok kamar mandi. Alfredo mulai melancarkan aksinya. Fienna hanya mampu menatap sayu sambil mempertahankan tubuhnya tetap berdiri karena kakinya terasa sangat lemas. Jika saja tidak ada tembok mungkin dia akan jatuh terduduk di lantai.

"A..Al." Panggil Fienna dengan susah payah karena mulutnya terbungkam oleh ciuman Alfredo.

Alfredo menggerakkan kepalanya merespon panggilan Fienna tanpa menghentikan aktivitasnya.

"Ich liebe dich." Kata Fienna pelan.

Setelah mendengar itu, Alfredo menghentikan ciumannya dan tersenyum, "Me too. I'm totally into you, babe"

Fienna tertawa memecahkan suasana penuh cinta itu,"Sejak kapan lo manggil gue babe?"

"Sejak barusan." Jawab Alfredo singkat.

Fienna menyusurkan jarinya di perut milik Alfredo dan menatap Alfredo sendu, " Al, apa rencana kita bakal berhasil?"

Alfredo tersenyum menenangkan Fienna, "Tenang aja. Apapun yang terjadi kita hadapi bersama. Tapi sekarang, kita lanjutin ini dulu."

Alfredo melanjutkan apa yang dilakukannya. Alfredo mengangkat kedua kaki Fienna dan memegangi Fienna sehingga Fienna bersandar oleh tembok dan bertopang padanya.
Napas Fienna terengah-engah karena gairah. Begitu pula Alfredo. Alfredo tidak lagi menahan-nahan hasrat yang selama ini dipendamnya. Fienna menerima Alfredo sepenuhnya. Dia menikmati yang Alfredo lakukan.  Mereka berdua melakukannya lagi dan lagi hingga mencapai pelepasan.

Setelah itu, mereka mandi di bawah shower bersama. Alfredo membantu Fienna menggosok sabun untuk membersihkan badan dan Fienna juga membantu Alfredo dalam hal yang sama. Fienna mengambil shampoo dan menggosoknya ke rambutnya. Dia meratakan shampoo ke seluruh bagian rambut panjangnya. Lalu, dia mengambil shampoo lagi dan digosokkannya pada rambut Alfredo. Alfredo hanya diam saja. Sekujur tubuh mereka penuh dengan sabun dan busa. Air di shower mengalir membersihkan sabun dan busa di tubuh mereka. Fienna berinisiatif mengambil handuk dan membantu mengeringkan tubuh Alfredo. Tetapi Alfredo hanya diam saja. Dia tidak membantu Fienna sama sekali. Dia hanya menatap Fienna lekat-lekat. Wajah Fienna bersemu merah karena tatapan intens Alfredo.

Saat Fienna mengeringkan air di rambut Alfredo, Alfredo memekik, "Aww!" Sepertinya ada beberapa helai rambutnya yang tertarik.

"Fi, sakit!" Keluh Alfredo.

Fienna berkacak pinggang, "Siapa suruh diem aja. Masa lo gak ada respon sama sekali?"

"Emang gue harus respon apa?" Tanya Alfredo sambil menaikkan alisnya.

Fienna membalikkan badannya membelakangi Alfredo.

"Dasar cowok emang dimana-mana gak peka! Yah gue minta dia bantu gue ngeringin badan pake handuklah." Batin Fienna dongkol

"Lo gak mau bantu gue keringin badan pake handuk?" Tanya Fienna.

Alfredo tersadar dan terkekeh karena ketidakpekaannya, "Oo jadi lo minta gue bantu balik. Bilang dong daritadi gak usah pake ngambek."

Alfredo mengambil handuk baru dan mengeringkan Fienna dimulai dari rambutnya. Alfredo menggosok handuk kering di rambut Fienna hingga hingga tidak meneteskan air lagi. Lalu, Alfredo mengeringkan leher jenjang Fienna dan tulang selangkanya dan bahu mulusnya yang terlihat seksi itu. Setelah itu, Alfredo mengeringkan dada Fienna dengan serba salah. Walaupun dia pernah menyentuhnya saat "itu" Namun di luar seks rasanya aneh. Melihat Fienna tidak protes, Alfredo meneruskan kegiatannya mengeringkan Fienna hingga ujung kaki.

Fienna menggigit bibirnya menahan sensasi ketika handuk yang dipegang Alfredo menyentuh tubuhnya. Fienna seperti tersengat setiap kali tangan di balik handuk itu menyusuri kulitnya.

Alfredo meletakkan handuk yang sudah terpaksa dan memakai jubah mandi, lalu keluar dari kamar mandi. Fienna ikut mengambil jubah mandinya dan keluar dari kamar mandi. Jujur, Alfredo merasa saat rambut Fienna basah seperti ini ditambah memakai jubah mandi membuat kesan yang sangat sexy.

Fienna mengambil baju dari kopernya  dan memakainya dengan cepat. Lalu, dia mengambil hair dryer dan mengeringkan rambutnya hingga benar-benar kering. Sedangkan Alfredo, setelah memakai bajunya ia malah berbaring di ranjang dan melihat Fienna yang sibuk mengeringkan rambutnya.

Setelah selesai mengeringkan rambutnya, Fienna mematikan hair dryer -nya dan ikut berbaring di samping Alfredo. Setelah melewati semua rapat dengan orangtua Alfredo dan kegiatan mereka di kamar mandi, Fienna merasa mengantuk dan lelah. Dia meringkuk memeluk Alfredo dan jatuh tertidur.

Alfredo mencium kening Fienna yang sedang tertidur. Dia merengkuh Fienna dan ikut tertidur.

*********

Loire berjalan pelan dengan high heels -nya. Dia menyusuri lobby hotel dengan percaya diri. Sekilas dia terlihat seperti wanita umur 20-an biasa. Namun, dibalik gaun warna pastel yang dipakainya ada banyak senjata tersimpan. Dialah pembunuh terlatih yang sangat terkenal di dunia hitam, Loire Marckle.

Menurut informasi yang didapat Loire, ini adalah hotel tempat targetnya menginap, Vera Sky.

"Aku pasti sukses membunuh target tanpa perlu bantuan pihak lain karena akulah Queen Knife."

TBC

Update lagi. . . 

Karena kemarin sempet gak update lama makanya kali ini author langsung update lagi. Gimana part-nya?

Maaf ya kalo membosankan, baru segini idenya.

Thx for reading

My Wild BoyBaca cerita ini secara GRATIS!