Chapter 2 : Gibran

3K 79 13

Siang itu, seluruh murid bersorak gembira karena suara bel telah berbunyi nyaring di seantero sekolah. Membuat beberapa murid lainnya bangun dari tidur nyenyaknya yang hanya beralaskan jaket diatas meja sebagai bantal seadanya. Bangun dengan separuh nyawa yang masih melayang, sehingga menopang kepala menggunakan sebelah tangan. Sama seperti apa yang Gibran lakukan saat ini.

Ia tak sengaja tertidur saat sedang mendengarkan penjelasan Pak Hasan mengenai materi Bahasa Indonesia yang entah tentang apa. Gibran sendiripun tertidur disaat Pak Hasan baru saja menjelaskan dua paragraf yang tertera di buku cetak.

"Van, bangun," katanya dengan suara agak serak sambil membangunkan Revan, teman sebangkunya, yang masih saja tertidur pulas.

"Apaan sih?" balas Revan yang masih dalam posisi menelungkupkan kepala diatas kedua lipatan tangannya.

Gibran mendecak pelan sebelum berkata, "Udah pulang, bego." yang kemudian hanya dibalas anggukan singkat dari Revan.

Cowok itu kemudian mengacak rambut hitam legamnya sebelum ia memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Ia melihat lagi isi tasnya. Merasa tas itu terlalu berat, ia kembali mengeluarkan beberapa buku yang sudah ia masukkan tadi. Kemudian menyimpan beberapa buku itu di dalam laci mejanya.

"Woii, yang betak buku di laci gua, besoknya bisulan!" teriaknya sebelum teman-temannya bergegas pulang.

Revan yang berada di sebelahnya kemudian menepuk bahu Gibran dengan pelan. "Pulang duluan, ye. Mau anter inces dulu." pamitnya sebelum berjalan sambil merangkul Kara yang sudah menunggunya. Gibran pun hanya membalas ucapan Revan dengan anggukan kepala.

"Lea," panggil Gibran setelah sadar kalau Milea belum beranjak dari tempat duduknya. "Belum pulang?" tanyanya di detik yang berbeda.

Milea menoleh. Menghentikan aktivitas membereskan bukunya ke dalam tas. Menatap Gibran sejenak seraya menggeleng. "Gue masih mau rapihin buku dulu." jawabnya yang kemudian langsung ditawari sebuah ajakan dari Gibran. "Abis itu gue anter pulang yuk?"

"Gue kan bawa mobil, Gib."

Gibran lupa.

Ia merutuki dalam hatinya. Kenapa ia harus menawari Milea tawaran seperti itu? Jelas-jelas tadi pagi, ia melihat Milea keluar dari mobil milik gadis itu sambil berlari menembus hujan.

Ah, ia jadi ingat.

Tadi pagi, saat melihat Milea keluar dari mobilnya tanpa payung, Gibran ingin sekali memayungi gadis itu. Ia sudah berlari dari mobilnya sambil menggenggam payung lipat berwarna hitam. Namun, hanya dalam hitungan langkah saja, temannya, yaitu Arkan, sudah memayungi gadis itu menggunakan jaket kulit kesayangan Arkan.

Pagi itu, Gibran telat beberapa langkah untuk melindungi gadis yang mencuri hatinya.

"Gib? Woi, ngelamunin apaan sih?" ucapan Milea membuat Gibran tersentak dan kembali pada kenyataannya kali ini. "Hah? Kenapa?" tanya Gibran balik yang Membuat Milea tertawa pelan.

"Gue pulang duluan, ya." pamit gadis itu sebelum ia melangkahkan kakinya dari hadapan Gibran.

Gibran mengangguk sejenak. Sebelum akhirnya ia sadar akan sesuatu. "Barengan dong ke parkirannya." katanya.

Modus.

Ia tidak melupakan modus pada siang itu.

Tadi pagi gagal mah gapapa, yang penting sekarang gak boleh gagal.

Kemudian, Milea hanya mengangguk saja. Berjalan keluar kelasnya diikuti Gibran yang kemudian mensejajarkan langkahnya dengan gadis itu. Sesekali mencuri pandang untuk memperhatikan wajah Milea.

Hujan & SenjaWhere stories live. Discover now