"Haura, kita jalan yuk?" ucap Syammiel di seberang sana. Ia menelponku yang sedang santai di flat.

"Ke mana, Syam?"

"Udah, nanti juga kamu tahu kok. Mau ya? Aku jemput nih, oke?"

"Ih maksa. Belum juga bilang iya."

"Tapi, mau kan? Ya kan?"

"Hmmm... Gimana ya?"

"Ish! Tinggal bilang iya aja kok susah banget sih." Syammiel mulai kesal. Nada bicaranya mulai berubah. Dan, aku malah terdiam seraya membayangkan bagaimana ekspresi wajah Syammiel ketika sebal saat itu.

"Haura Azalea?" Syammiel memanggilku dengan menyebut nama panjangku. Tampaknya, sedari tadi ia tengah menungguku bicara.

Tapi, aku malah terdiam tanpa kata dan terus memikirkan hal lucu tentangnya. Aku menahan tawa seraya melamunkan Syammiel bila sedang kesal. "Eu... Iya, iya. Ayo."

"Chotto matte kudasai ne," ucap Syammiel. Lalu, telpon pun terputus.

Aku pun beringsut untuk mengganti pakaianku dengan long coat berbahan tebal dan menghangatkan. Tak lupa aku pun memakai jilbab, syal, dan sarung tangan. Kutahu, udara di luar sangatlah dingin dan salju masih saja menghujani Jepang. Namun, aku harus tetap beraktivitas seperti biasa walaupun dinginnya udara terkadang membuatku malas untuk beranjak dari atas kasur.

"Oh, iya. Besok kan aku ada workshop di Tokyo bersama penulis-penulis asal Jepang. Hmmm, lebih baik aku naik kereta cepat aja deh," gumamku seraya membuka pintu flat lalu menyusuri koridor.

***
Aku berdiri mematung di tepi jalan depan bangunan flat yang kutempati. Dari sana aku bisa melihat rumah-rumah bergaya tradisional Jepang dan jejalanan yang tertutupi oleh butiran-butiran salju. Aku menatap arloji hitam yang melingkar di pergelangan tanganku lalu berkata, "Baiklah. Aku tunggu dia lima menit lagi."

Selang beberapa detik, tiba-tiba ada seseorang yang menutup mataku dengan kedua tangannya. Ia terkekeh geli.

"Syammiel, jangan becanda deh." Aku mengerucutkan bibirku beberapa senti. Ah! Jail sekali dia ini.

"Taraaa!" pekik Syammiel seraya menunjukkan sebuah boneka teddy bear besar berwarna pink. "Ini buat kamu," lanjutnya. Ia masih menutupi wajahnya dengan boneka itu lalu menggesernya ke kanan. Sehingga, wajah Syammiel jadi terlihat di samping teddy bear.

"Wah! Doumo arigatou, Syammiel-san...," ucapku seraya tersenyum senang. Aku menerima pemberiannya itu dengan suka cita. Mataku pun kini dihiasi binar-binar, setelah semalaman menangis.

"Haura...," panggil Syammiel lembut. Ia menatapku lamat-lamat. Ada keseduan di bola matanya nan teduh.

"Iya...," jawabku seraya tersenyum. Aku menyembunyikan sesuatu di balik senyumanku itu. Ya, kesedihan.

Tapi, Syammiel bisa membaca apa yang kusiratkan lewat sorotan mataku itu. Ya, Syammiel tahu tanpa perlu kujelaskan.

"Matamu sembap. Kamu nangis ya semalem?"

Aku tersenyum lebar. "Hehe. Iya, Syam. Aku capek soalnya...." Aku berjalan dan meninggalkannya di belakangku.

"Kenapa? Kamu lagi ada masalah, ya?" Syammiel mengekor lalu menyeimbangkan langkahnya dengan langkahku.

Aku dan Syammiel menyusuri jalan di sebuah taman. Jejalanan itu kini tertutupi oleh salju yang kian menebal. Salju bagai menjadi lantai nan putih bersih. Salju pun bak hujan yang mengguyur bumi. Butiran halusnya jatuh dengan penuh kelembutan. Dan, bumi dengan ikhlas menerima tancapan dinginnya.

"Eu... Kita bicarainnya jangan di jalan gini, Syam. Bisa-bisa kita kejedot tiang atau pohon nanti," selorohku seraya mempercepat langkah kakiku. Aku agak terkekeh dan agak menjauh darinya. Aku berlari kecil seraya memeluk boneka yang Syammiel berikan padaku. Ah!

Jomblo Until Akad #KyfaBaca cerita ini secara GRATIS!