Aku tergugu menatap bulir-bulir salju yang jatuh perlahan. Aku pun terperosok dalam lamunan. Lamunan yang membawaku ke labirin yang paling gelap. Lamunan yang menyesakkan dadaku. Tapi, dengan bodohnya aku masih tetap memikirkan tentangnya.

"Lebih dari sewindu aku mengenalmu baik-baik. Lama-kelamaan aku pun mulai merasakan ada yang berbeda dengan perasaanku tiapkali kita bertemu. Yang kutahu rasa itu bernama cinta. Dan, kau tak pernah menyadarinya." Aku membatin seraya mengaduk-aduk matcha latte yang masih panas. Saat itu, aku tengah duduk manis di salah satu sudut kafe di Jepang. Aku sendirian. Tak ada yang menemaniku di sana. Hanya hujan salju lah yang setia menungguku di luar. Sentuhan dinginnya pun iringi langkahku senja itu.

"Bodoh. Ini adalah kesalahan terbesarku. Karena apa? Karena, aku telah menghancurleburkan hatiku sendiri. Aku pun telah menciptakan luka itu dengan ulahku sendiri. Aku mencintainya diam-diam, dalam-dalam. Dan, tanpa kusadari, kubiarkan hatiku melawan sepi dan berjuang seorang diri. Pun, memperjuangkan cinta yang tak pasti." Kuangkat cangkir matcha latte itu lalu menyeruputnya. Kukira, aku akan sedikit lega dan bahagia setelah meneguk minuman kesukaanku.

Namun, nyatanya aku tak merasakan reaksi apa-apa. Perasaanku masih sama. Nyeri. Hatiku terluka, meskipun lebamnya tak kasat mata. Luka itu kian menganga saja saat kuingat pada dirinya. Ya, Adam Ahmad Fauzan namanya. Ia adalah sahabat kecilku.

"Ternyata, selama sewindu ini aku telah salah mengartikan setiap perhatianmu padaku, Adam. Aku salah. Dan, memang akulah yang salah. Aku terlalu berharap padamu, karena kita terlalu akrab dulu. Kau pun tak pernah berubah padaku. Perhatianmu masih sama. Pun, dengan tatapan teduhmu yang menyiratkan sesuatu-- yang tak pernah kutahu apa maksudmu." Aku membatin. Di awal musim salju ini, seharusnya aku bahagia karena winter adalah musim yang paling kusuka. Meskipun kutahu bahwa dinginnya salju begitu menusuk, tapi aku tetap menyukainya.

Ya, aku menyukai salju tanpa alasan. Sama halnya seperti saat aku mencintai Adam. There's no reason to love him.

"Haura-san, konnichiwa...." Ucap seseorang. Ia menghampiriku lalu duduk di kursi yang masih kosong.

"Syammiel...," ucapku. Ya, ia adalah Syammiel Hussain. Aku agak terperangah melihat kehadirannya di sini. "Kenapa Syammiel ada di Jepang? Bukankah dia sedang ada job di Paris?" batinku.

"O genki desuka?"

"Kabar baik. Kamu?" tanyaku balik. "Ngobrolnya pake bahasa Indonesia aja ya? Ya, meskipun kita lagi ada di Jepang, tapi setidaknya kita harus tetap mengingat bahasa Tanah Air kita," sambungku seraya tersenyum. Kemudian, aku merekatkan longcoat-ku. Udara di senja itu terasa semakin dingin.

Syammiel mengangguk seraya tersenyum simpul. Matanya yang berwarna jingga bak mata kucing tampak berbinar-binar. Entah apa yang tebersit dalam benaknya. "Haura, dari dulu kamu pakai jilbabnya gak berubah-ubah,ya?"

Aku menyeringai. "Kenapa gitu? Bosen ya lihat style aku gini-gini terus?"

Syammiel menggeleng cepat lalu berkata, "Nggak, Ra. Bukan begitu maksudku. Aku suka kok."

"Suka apa?" Aku mengernyitkan keningku.

"Aku suka kamu yang apa adanya. Sederhana, tapi terkesan manis."

'Ah, dia ini bisa saja menggombaliku," pikirku. Pipiku pun merona tanpa kusadari. Dan, Syammiel menyadari bahwa aku sedang tersipu malu saat itu.

"Udah lama deh aku nggak lihat lesung pipi kamu, Ra," kata Syammiel seraya tersenyum manis. Sepertinya, ia sedang merayuku agar tersenyum lebih lebar lagi. Atau mungkin ia tengah mengekspresikan rasa rindunya padaku setelah dua tahun tak bertemu.

"Mau pesan apa?" Aku tak menggubris perkataan Syammiel yang tadi ia ucapkan padaku. Aku masih trauma. Aku takut terluka lagi. Karena, hatiku masih belum sembuh benar. Hatiku masih rapuh setelah sewindu lebih memendam perasaan pada sahabat kecilku sendiri. Aku mempertaruhkan kebahagiaanku sendiri hanya karena mencintai Adam dalam diam. Dan, pada kenyataannya cintaku tak pernah terbalaskan. Cintaku bertepuk sebelah tangan.

"Capuchino aja, Ra," jawab Syammiel. "Sama...,....." Ia menggantung ucapannya.

"Sama apa?" tanyaku penasaran. Seraya menunggunya bicara lagi, aku pun membenarkan jilbabku yang mulai longgar dan membuatku tak nyaman.

"Sama senyuman kamu satu." Syammiel terkekeh melihat ekspresiku yang amazed. Ia melihat jelas pipiku tengah blused bagai diolesi blush on.

"Ish! Sejak kapan kamu belajar jadi raja gombal? Tumben amat," ucapku agak ketus. Namun, aku tak sanggup menahan tawaku yang siap menggelegar. Akhirnya, aku menutupi mulutku seraya tertawa kecil. Detik itu, kurasa perasaanku mulai menghangat. Hatiku tak lagi beku.

"Sejak aku ada di Paris. Hehe. Banyak bule yang ngajarin aku ngegombal." Syammiel menunjukkan deretan gigi putihnya.

"Ah! Apa benar?" batinku. Aku hanya terdiam menatapnya. Bibirku menggumam. Bungkam.

"Contohnya... Aku memang gak bisa membuat mahakarya seperti kisah Romeo dan Juliet yang ditulis oleh Shakespeare. Aku pun gak bisa menciptakan puisi-puisi nan indah seperti Kahlil Gibran dan Chairil Anwar. Tapi, aku hanya bisa mendoakanmu dalam diam dan mencintaimu dengan sederhana."

Speechless!

Aku tepekur mendengar penuturan Syammiel. Seketika, benakku melesat pada kubangan kenangan bersama Adam. Langit-langit hatiku pun mulai terasa perih dan nyeri. Perasaanku yang telanjur luluh-lantak pun kini semakin berderak patah.

"Aku dan ketidakberanianku, kamu dan ketidakpekaanmu. Ah, sudahlah! Semakin aku mengenangnya, maka semakin menganga pula luka ini bersemayam di sudut hatiku. Hmmm, baiknya aku move up saja. Not move on."

Aku membatin seraya menundukkan pandanganku dari Syammiel. Tanpa kusadari, air mata pun memburai dari sudut-sudut mata sipitku. Air mataku jatuh bersama salju yang berguguran dari atas langit. Ya, aku menangis. Mungkin saja, aku sudah terlalu lelah. Lelah menahan pilu selama sewindu.

"Haura, kamu nangis?" tanya Syammiel. Ia kelihatan panik. Ia pun mengangkat daguku sedikit agar aku menatap manik-manik matanya.

Spontan, aku mengusap air mataku lalu berkata, "Ah. Nggak kok, Syam. Aku cuma terharu aja dengar kata-kata kamu." Aku berdalih seraya memaksakan untuk tersenyum tipis. Kemudian, kualihkan pandanganku ke arah kaca jendela besar yang membuatku bebas memandangi langit, salju, dan keadaan di luar kafe itu. Air mataku luruh lagi dan aku menyekanya dengan jariku.

"Kanasanai de," tutur Syammiel dalam bahasa Jepang yang artinya 'jangan bersedih'.

Aku pun menatap Syammiel. Mataku dan mata Syammiel saling bertemu selama beberapa jenak. Bersitatap.

Tak lama kemudian, seorang pelayan pun datang seraya membawa pesanannya Syammiel. "Douzo," ucapnya yang artinya 'silakan'.

"Arigatou gozaimasu," ucap Syammiel pada pelayan itu. Kemudian, pelayan itu pun beringsut menuju pengunjung lain yang hendak memesan sesuatu.

"Kalau ada yang ingin diceritakan, ceritakanlah, Haura. Jangan dipendam sendiri. Karena, terkadang kita butuh seseorang yang siap untuk mendengar keluh kesah kita. You aren't alone."

"I will tell you if my heart was fine."
Detik selanjutnya, Syammiel menyeka air mata yang masih tersisa di pipiku. "Baiklah, aku akan menunggu sampai kamu siap bercerita padaku."

Deg!

Entah kenapa hatiku terasa teduh dan damai saat Syammiel menatapku lamat-lamat. Detak jantungku pun berdegub lebih kencang. Rasanya, jantungku seakan-akan diguncang-guncangkan begitu keras. Aku serasa terpental ke dalam samudera bahagia yang perlahan-lahan mulai merasuki hatiku. Dan, semua itu karena Syammiel Hussain.

***

Jomblo Until Akad #KyfaBaca cerita ini secara GRATIS!