Chapter 2 - Being a new wife and mother is the hardest job

852 12 1

Menjadi seorang ibu itu sulit. Aleena cuma tahu sedikit ini dan itu tentang mengurus bayi. Ia sebelumnya hanya pernah beberapa kali membantu mengurus Sophia saat almarhumah kakaknya tengah sibuk merimpunkan tesisnya. Tapi itu cuma sebentar, hanya setengah hari, dan karena Sophie sudah sangat kalem sejak bayi, ia tidak harus melakukan banyak hal selain mengganti popok, memberinya makan dan menemani bermain. Tidak seperti Salif. Bocah laki-laki kecil dan menggemaskan itu membuat hari-hari Aleena menjadi penuh dengan liku-liku.

Aleena baru sebentar saja memejamkan matanya ketika suara tangisan Salif terdengar. Ini sudah ketiga kalinya Salif terbangun malam ini dan mau tidak mau ia harus bangkit dan bergegas meraih Salif dari dalam boks bayi ke dalam pelukannya. Aleena melirik ke arah jam yang sekarang menunjukan pukul tiga subuh,  sembari mengayun-ayunkan Salif dengan pelan. Si kecil langsung terdiam tetapi Aleena berani bertaruh, dia akan menangis lagi begitu  diletakkan kembali ke dalam boks bayi.

Sebuah ketukan pelan terdengar dan pintu kamar Aleena terbuka setelahnya. Di sana berdiri Faiz, masih dalam pakaian kerjanya, menatapnya sebentar lalu beralih memandangi Salif. Pekerjaan Faiz sebagai seorang dokter bedah trauma membuat jam kerjanya jadi tidak terlalu beraturan begini.

"Dia rewel lagi? Sini biar saya yang jaga saja," Ucapnya pelan dan datar tanpa setitik emosi pun di dalamnya.

"Gapapa. Kakak istirahat saja, nanti sebentar lagi dia juga pasti tertidur."

Tak ada sanggahan. Faiz kemudian masuk dan mencium kening Salif lalu keluar dari kamar.

Aleena masih memanggilnya kakak, panggilan yang sudah ia pakai semenjak Faiz menikah dengan kakaknya dulu. Ia bingung harus memanggil Faiz dengan sebutan apa jadi ia memilih memanggilnya kakak saja. Faiz tak pernah mengomentarinya, jadi ia pun memilih untuk menggunakan nama panggilan itu. Sementara Sophia masih memanggilnya dengan sebutan bunda kecil dan Aleena tidak berencana untuk mengubahnya.

Setengah jam kemudian Salif akhirnya tertidur pulas dan Aleena pun kembali rebahan sembari memejamkan matanya. Dua jam lagi ia harus bangun menyiapkan sarapan dan mengurus Sophia yang mulai minggu lalu sudah mulai masuk Playground.

Tapi rasanya ia hanya memejamkan matanya sebentar saja saat Aleena tiba tiba terbangun dan kaget begitu melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 6 lebih. Ia buru-buru bangkit dan melirik ke arah Salif yang masih tertidur pulas dan buru-buru melangkah ke arah kamar Sophie.

Langkahnya terhenti di depan meja makan. Sophie sudah duduk dengan rapi dan manis di depan meja makan dengan seragam merah mudanya, sementara Faiz terlihat tengah menyendokkan nasi goreng ke dalan piring.

"Bunda kecil... Bunda kecil..."

Sophie yang pertama kali menyadari kehadirannya. Gadis kecil itu tertawa lebar padanya kemudian menyuruhnya untuk duduk di sebelahnya.

"Maaf kak, aku telat bangunnya."

Ia tersenyum kecut sembari memandang Faiz yang tak pernah meliriknya sekalipun. "Bundaaa suap." Sophie kembali merengek padanya.

"Nggak apa-apa. Salif masih tidur?"

Faiz memandangnya dengan wajah datar, lalu menyerahkan piring nasi goreng Sophie padanya. "Masih kak," jawabnya pelan. Ia lalu mulai menyuapi Sophie sementara Faiz sendiri juga sudah memulai sarapannya. Seperti biasa, Faiz hanya mengambil beberapa lembar roti tawar dan mengolesinya dengan selai cokelat.

Selain celoteh Sophie yang sesekali terdengar, tak ada percakapan lain yang terjadi antara  dirinya dan Faiz. Keheningan yang sudah menjadi kebiasaan setiap dirinya dan Faiz sedang berada dalam ruangan yang sama.

My Husband's LoversBaca cerita ini secara GRATIS!