Ingat!! Sebelum baca di vote duluu yaww😉...
.
.
Happy Reading!!
---
Cinta pada pandangan pertama. Banyak orang bilang, cinta pada pandangan pertama itu diidentikkan hanya daya tarik sesaat.
Tapi Nadhia yakin, bahwa cinta pada pandangan pertama yang ia alami dengan Bintang bukan hanya sesaat. Tapi, untuk selamanya.
---
"Kayanya, gue suka deh sama dia." gumam Nadhia yang masih terbayang wajah Bintang.
Nadhia masih mengingat-ingat kejadian 3 hari yang lalu. Tepatnya kejadian bertemu dengan Bintang untuk pertama kalinya.
Inilah kelemahan Nadhia. Mudah jatuh cinta kepada laki-laki yang berparas tampan.
Memang, bintang itu perfact banget.
Dia itu gak cuma tampan, tapi dia juga captain basket di SMP Jaya Harapan, juara 1 Olimpiade sains, mewakili Indonesia dalam tim futsal, juara 2 dalam perlombaan Internasional Open Piano Competition di Australia, dan anak dari pejabat yang kaya raya. Perfact banget bukan.
Oh ya, jangan tanya mengapa Nadhia tahu semua informasi tentang Bintang, apa lagi kalau bukan dari hasil stalking semua sosial media Bintang. Bahkan, Nadhia pun membuat note kecil yang berisi semua informasi tentang bintang dibuku catatan pribadinya. Sungguh niat bukan.
"Nad, ini lo serius?" tanya Nadin heran sambil melihat buku catatan pribadi Nadhia.
Nadin bukan hanya heran, melainkan terpukau melihat isi note yang di buat Nadhia di buku catatan pribadinya. Semuanya lengkap, dari makanan favoritnya, warna kesukaannya, hobinya, dan lain-lain.
Nadhia mengangguk antusias.
"Ini mah jatohnya bukan suka, tapi obsesi!" ucap Nadin jengkel.
Nadhia melotot, "Enak aja! Gue gak sebegitu terobsesinya kok sama Bintang. Gue itu cuma kagum sama dia, nih liat prestasinya. Udah sampe keluar negeri 'kan, lo mah kalah, Din!" Nadhia membandingkan prestasi Nadin dengan Bintang.
Nadin menutup buku note yang ia pegang tadi dengan kencang, "Yaudah si, Nad! Gak usah banding-bandingin gue sama dia! Bintang ya Bintang, gue ya gue. Gak bisa di sama-samain!" Ucap Nadin ketus sambil melipatkan tangannya di dada.
Nadhia tertawa melihat tingkah Nadin, "Hahaha, bercanda, Din. Gue gak maksud gitu kok, bener deh, suwer." Nadhia mengangkat jarinya dan membentuk angka dua di jari telunjuk dan tengahnya yang mengartikan piss sambil bersuara layaknya anak kecil.
"Jangan bete dong." Pinta Nadhia
"Yaudah, iya iya." Nadin tersenyum.
"Oke, balik ketopik! Tapi ya, Nad, kok lu segitu niatnya sih sampe buat ini semua. Lo juga baru ketemu sekali 'kan sama dia, emang nya lo gak takut gitu kalo ternyata dia bukan orang baik?" Tanya Nadin.
Nadhia berpikir sejenak, "Kalau dari tampangnya sih, dia baik kok, Din."
Nadin menarik nafasnya, "Ya bukan gitu, Nad. Susah deh kalo ngomong sama orang yang lagi jatuh cinta."
"Tapi ingat ya, Nad, lo gak boleh terlalu berharap sama dia. Kerena, ketika harapan lo gak sesuai dengan kenyataan, rasanya akan sangat menyakitkan."
Nadhia terpaku mendengar perkataan Nadin barusan.
Benar apa kata Nadin.
Tapi, apa kuasa Nadhia yang sudah terlanjur jatuh hati kepada Bintang.
Semua masukkan yang di katakan Nadin yang hanya untuk mengingatkannya, terlihat sia-sia. Karena, Nadhia terlihat tidak memperdulikan dengan apa yang dikatakan Nadin. Ia juga tidak perduli bahwa nanti ia akan merasakan sakit yang amat sangat menyakitkan.
Intinya, Nadhia sudah jatuh cinta kepada Bintang.
Urusan nanti, biarlah waktu yang menjawab.
Apakah cinta Nadhia terbalas oleh Bintang? Kita lihat saja.
---
Haii..
Aku lagi nih hehehe..
Btw, Terima kasih sudah mampir ke cerita aku, tunggu kelanjutannya yaa. Byeeeeeeeee!!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Four Month [Hiatus]
Teen Fiction[HIATUS] "Oke, kita taruhan!" ujar Nadhia kepada Bintang. Bintang melongo. "Iya, kita taruhan. Selama 4 bulan, gue bakal diet. Kalo gue berhasil lo jadi pacar gue!" ucap Nadhia angkuh. Bintang menaikan satu alisnya, "Kalo gagal?" tanyanya. "E... Em...
![Four Month [Hiatus]](https://img.wattpad.com/cover/112418562-64-k906633.jpg)