Chapter 1 : Milea

4.3K 142 17

Pagi ini Milea terbangun dari tidurnya. Jam sudah menunjukkan pukul 06.00. Lantas, ia bergegas menuju kamar mandi untuk bersiap ke sekolah pada pagi hari yang gelap ini. Kalau ini hari Sabtu atau Minggu, Milea pasti akan memilih meringkuk di dalam selimutnya daripada harus beranjak dengan terburu-buru untuk bersiap ke sekolahnya.

Ah ya,

Namanya Milea Nadina Arthasy. Teman-teman terdekatnya lebih suka memanggilnya dengan nama Lea. Tetapi, berbeda dengan satu cowok itu. Ia lebih suka memanggil nama Milea dengan nama Nadina di beberapa waktu.

Milea adalah gadis yang biasa-biasa saja di sekolahnya. Ia tidak terlalu dikenal seantero sekolah tetapi juga tidak dilupakan di sekolah. Ia lumayan dikenal oleh anak-anak gaul di sekolahnya karena memiliki wajah khas yang manis keturunan ibunya. Membuat orang-orang mudah mengingat wajahnya.

"Lea, jangan lama-lama! Cepet sarapan, nanti telat!" teriak mamanya dari lantai bawah yang menginterupsi lamunan Milea.

"Eh? Iya, Ma! Ini udah kelar!" balas Milea yang langsung menyambar tas sekolahnya sambil berlari menuju ruang makan untuk sarapan.

*

Pagi itu sepertinya siswa-siswi sekolahnya sedang malas untuk menuju sekolah. Ditambah, rintikan air sudah membasahi bumi sejak lima belas menit yang lalu, membuat para murid semakin malas datang ke sekolah. Bisa dilihat dengan sepinya murid yang baru saja memasuki gerbang. Padahal, biasanya jam segini, mereka masuk bergerombol seperti sedang menonton konser.

Milea menghela nafasnya dibalik kemudi. Bisa-bisanya, ia lupa membawa payung dari rumahnya tadi. Dengan terpaksa, ia keluar dari mobilnya. Berlari dibawah rintikan hujan dengan tangan yang ia jadikan sebagai perlindungan untuk puncak kepalanya.

"Lo tau gak, hujan yang kayak gini, malah bikin sakit."

Milea menoleh ke arah seseorang yang sedang berbicara di sebelahnya. Lelaki itu menaungi keduanya menggunakan jaket kulit hitam kesukaannya. Tatapannya masih lurus ke depan. Tak sadar kalau gadis yang ia payungi ini, sedang menatap ke arahnya disertai sebuah senyuman tipis.

"Hai?" Milea mengeluarkan suaranya setelah beberapa detik terdiam.

"Apa sih, Nad?" balas cowok itu lalu terkekeh.

"Habisnya gue bingung mau ngomong apa. Lo ngagetin sih, tiba-tiba ada di sebelah gue terus mayungin gue. Situ sekarang jadi tukang ojek payung?"

"Nggak." jawabnya sebelum menolehkan wajahnya ke arah Milea. "Karena liat lo kehujanan aja jadi tukang ojek payung dadakan." tambahnya yang membuat Milea tertawa.

Sedangkan di belakang mereka, seorang cowok memperhatikan mereka berdua. Sebelah tangannya mengepal di sisinya. Tangan yang satu lagi, mengeratkan pegangannya pada payung lipat yang tidak ia jadikan naungan dari hujan.

Ia terdiam.

Ia terlambat sedikit untuk mengambil kesempatan itu.

*

Milea berpisah dengan cowok itu di pertengahan koridor yang menjadi akses utama dari gedung IPA ke IPS. Ia mengulas senyum kepada cowok yang lebih tinggi darinya. Mengucap terimakasih dan bergegas berjalan menuju kelasnya.

Setelah beberapa kali melangkah, Milea melangkah masuk ke dalam kelasnya. Menatap suasana kelas Milea yang terlihat muram. Sepertinya karena mereka masih menginginkan tertidur dibalik selimut hangat. Enggan untuk beranjak menuju ruang kelas yang terasa pengap saat pelajaran matematika nanti.

Yah, kalau begitu, Milea juga ingin.

"Hai, Ra, Van!" sapa Milea kepada teman sebangkunya, Kara, dan cowok yang duduk dibelakangnya, Revan.

Hujan & SenjaWhere stories live. Discover now