Seorang wanita terlihat gelisah dalam tidurnya. Bulir-bulir keringat terlihat di dahinya. Sesekali ia merintih.

"Uh.. jangan.. Mum.." igaunya.

Tiba-tiba wanita itu tersentak bangun. Wajahnya pucat, nafasnya memburu. Ia memejamkan matanya, lalu mengusap kasar wajahnya.

"Mimpi itu lagi..." gumamnya.

***

James' POV

"Korban di identifikasi bernama Sara White, 29 tahun. Dilaporkan diculik 3 hari yang lalu. Waktu kematiannya diperkirakan 12 jam yang lalu," ucap seorang petugas forensik padaku.

"Diculik? Siapa yang meloparkannya diculik?" tanya ku.

"Kekasih korban yang bernama Andrew Malory, Sir."

Aku berjalan ke samping korban lalu berjongkok. Wanita bernama Sara ini benar-benar dalam keadaan mengenaskan. Tanpa baju dan tubuhnya pun disiram dengan darah sapi yang kini juga sudah menjadi bangkai disebelah tubuh korban.

Aku memperhatikan petugas forensik yang sedang memeriksa tubuh korban. "Dimana lokasi kejadian wanita ini menghilang?"

"Whitecapel, Sir. Sir Malory mengatakan bahwa mereka sedang dalam perjalanan ke rumah temannya, lalu ada teriakan seorang wanita dari salah satu gang didekat mereka. Saat Sir Malory memeriksanya, korban menjerit lalu menghilang"

"Lalu yang menemukan korban?"

"Seorang anak lelaki menemukan mayat korban di lumbung ini saat sedang menggembala sapi-sapinya. Dugaan sementara kematian korban dikarenakan tikaman pada dada kirinya, langsung ke bagian jantung."

"Jadi wanita ini diperkosa dengan gagang alat pertanian," ucapku melihat kearah alat pertanian yang ujungnya masih menancap di kemaluan korban. "Lalu ditikam yang menyebabkan kematiannya. Tapi, darah sapi ini untuk apa?"

Ini benar-benar aneh, batinku. Aku mengerutkan keningku, berpikir.

"Komandan, ada luka di bagian punggung korban," ucap seorang forensik yang sedang memeriksa mayat korban, mengusik lamunanku.

"Luka apa?" ucapku. Aku membalik tubuh korban dan melihat lukanya.  "I..ini.. L 20;16.. "

"Aku tau maksud L 20;16 itu." ucap sebuah suara wanita di belakangku.

Aku membalikkan tubuh dan melihatnya tersenyum disana. 

"Lama tak bertemu ya, James. Bagaimana kalau ku traktir segelas kopi?"

***

Gabrielle's POV

Aku membawa James ke salah satu kedai kopi yang tak jauh dari lokasi yang sedang  James periksa.

"Lalu, apa yang kau tau tentang luka tadi, Gabby?" ucapnya membuka percakapan.

Aku menyesap kopi ku pelan. Menikmati tiap tetes kafeinnya yang bisa membantuku menjernihkan pikiran.

"Well, apakah kau tidak mau meanyakan kabarku dulu, James?" 

Aku melihatnya yang menatapku bosan, lalu .mendesah pelan.

"Baiklah.. baiklah.. Apa kabarmu dan karir jurnalis mu? "tanyanya setengah hati.

Aku tertawa kecil."Aku baik seperti biasa. Mengenai karir jurnalisku, sepertinya aku sangat terbantu karena mimpi-mimpiku. Dan kau juga sepertinya kelihatan sehat."

"Jadi.. apa yang kau tau tetang luka tadi?" tanyanya lagi, langsung ke topik yang ingin diketahuinya.

Aku benar-benar menikmati matanya yang penuh rasa penasaran.

The DreamsBaca cerita ini secara GRATIS!