Kindness World: 23

9.6K 750 26

Perkataannya membuatku tersentak. Dan menatapnya dengan penuh pertanyaan. Aku tidak tau harus percaya padanya atau tidak. Tapi dari semua fakta bahwa ia sudah pernah bersamanya, itu membuatku percaya.

“Kau terlihat terkejut, ada apa? Kau pacarnya, huh?” selesai ia berbicara begitu, aku langsung menggelengkan kepalanya. Pacar? Aku sama sekali tidak pernah memikirkan itu dalam hidupku. “aku tidak yakin Evan sedang menjaga istanamu itu.”

Sebenarnya, aku juga tidak yakin. Setelah makan roti itu, aku tidak tau ia mau kemana. Aku berbaris, melihat Jubah Hitam yang ternyata Samantha lalu akhirnya aku di sini. Tidak tau apa yang sedang terjadi di sana.

Setelah keheningan yang panjang yang disertai serangga-serangga hutan, aku mulai berpikir akan kuapakan manusia di depanku ini. Jika kubunuh, aku ragu. Aku tidak pernah membunuh orang, tapi ia juga hampir membunuhku. Kulihat matanya terpejam dan napasnya teratur. Apa dia tertidur? Aku pun menaikan kepalanya yang tertunduk, lalu saat itu juga tangannya mencengkeramku. Sangat kuat. Hingga lenganku panas dan merah, ia sudah melakukan ini. Lalu aku meringis, meninju sebelah kepalanya dengan tangan bebasku. Lalu tersentak mundur menjauhinya.

“Oh.” Ucapnya setelah ia melihat darah di hidungnya. Wajahnya berubah menjadi sangat sinis, hingga menyerupai seperti ular yang sedang bersiap menikam mangsanya.

Akar-akar yang melilitnya telah lenyap ia panaskan. Lalu dalam satu kedipan ia menerjangku dengan mencekikku. Punggungku kembali terhempas ke batang pohon yang keras. Aku melotot dan memberontak mencari udara.

“Mati kau.” Gumamnya melalui giginya. Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Tenggorokanku menjerit-jerit membutuhkan udara. Aku terlalu lelah untuk memberontak. Benar, mati aku.

Lalu tiba-tiba, cekikan Samantha mengendur. Dan akhirnya aku jatuh terjatuh, terbatuk-batuk dan kembali bernapas sepuasnya. Kulihat Samantha yang tersungkur di depanku dengan posisi tengkurap dan 3 pisau yang menancap di punggungnya. Pisau itu berkilau di bawah sinar bulan. Mata Samantha terbuka hampa. Mati.

Siapapun yang membunuhnya, mungkin aku yang selanjutnya. Akhirnya aku pun mengambil salah satu pisau yang menancap itu, lalu berlari. Aku tidak menoleh ke belakang, yang kulakukan terus berlari. Yang kudengar hanyalah suara detak jantungku yang terus memukul-mukul dadaku dan langkah kakiku.

Kemudian aku memelankan lariku, lalu menoleh ke belakang. Kosong. Tidak ada yang mengejarku. Aku pun, bersembunyi di balik batang pohon yang besar dan tebal. Kucoba untuk memelankan napasku, walaupun aku sangat butuh oksigen. Kupegang dadaku yang mulai nyeri. Setelah napasku mulai normal, aku menghela napas panjang.

Aku pun menyandarkan kepalaku di batang pohon. Dan tepat saat itu, seluruh mulutku dibungkam oleh sebuah tangan. Aku berteriak di balik telapak tangannya yang besar dan refleks menjatuhkan pisau di tanganku.

“Ssshh,” Napasnya bisa kurasakan di telingaku dan leherku. Hangat. Ia pun melepaskan bungkamannya dan memutar-balikkan tubuhku. “ini aku.” Aku melihat tepat ke matanya, biru jernih yang cerah walaupun di sekeliling kami hutan yang gelap. Aku tidak tau apa aku harus lega atau tetap waspada, mengingat kalau ia adalah Penyihir Merah.

“Kau… kau membunuhnya.” Setelah aku berkata begitu, tatapannya berubah menjadi sangat menyesal dan terpukul. Aku menunduk, bingung atas pikiranku sendiri. Evan telah membunuh Samantha, tapi jika ia tidak membunuhnya, aku pasti akan mati.

“Aku tau,” Gumamnya. Kemudian kurasakan kedua tangannya di punggungku dan kepalaku berada di dadanya. Ia memelukku. Aku memejamkan mataku ketika mendengar irama jantungnya. “maaf.” Aku bisa mendengarnya mengucapkan kata itu, tapi aku tidak bertanya untuk apa ia meminta maaf.

Ia melepas pelukannya tapi aku tetap menunduk, “Kenapa kau tidak bilang padaku?” suaraku mulai tegas.

“Bilang apa?”

Kindness WorldBaca cerita ini secara GRATIS!