Niall’s POV

Biiip. Seketika, terdengar suara Sheila berteriak memanggil Adriane, menyuruhnya membuka pintu. Pintu terbuka, dan senyumnya adalah yang pertama kulihat. Aku balas tersenyum.

“Good morning.” Lalu aku masuk.

Aku menaruh gitarku di sofa, lalu menghempaskan diri. Liftnya penuh, dan aku harus menaiki 5 seri tangga untuk sampai kesini. Agak kusesali juga, sih.

“Mau?” Adriane menawarkan cookies di piring berwarna biru keabu-abuan. Aku mengambil satu dan menggigitnya.

Aku sudah menyiapkan diri untuk sesuatu yang lebih keras, tapi ternyata cookie itu enak. Mungkin mereka beli di suatu tempat. “So, apa yang akan kita lakukan sebelum aku pergi besok?”

Adriane menjatuhkan diri, melambung sedikit di sofa di sebelahku. “Gak tau. Anything. Aku ingin nyoba sesuatu yang baru, mungkin?”

“Sesuatu yang baru, ya?” aku sengaja tidak menyembunyikan nada nakal yang menyelinap kedalam suaraku.

Dalam sekejap aku mendekatkan wajah ke arah wajah Adriane yang sontak merona. Dia membeku. Tangannya menahan berat badannya di belakang punggungnya, sofa ini berkeriut sedikit. Jari-jariku menyentuh wajahnya selembut mungkin, mendorong sejumput rambutnya ke belakang telinganya. Aku merendahkan pandangan ke arah bibirnya, sambil terus mendekat, mendekat…

“NIALL STOP. KAMU TAHU AKU GAK SU—“ protesnya tenggelam menjadi rangkaian tawa tanpa henti sementara aku menggelitikinya habis-habisan. “NIALL!” Adriane memukulku sia-sia, mengutuk dan mencaci dan memaki di sela-sela tawa. Mau tak mau aku tertawa dan melepaskannya karena kasihan.

Adriane melotot menatapku. “Awas kalau berani-berani lagi… Aku pulang ke Indonesia!”

“Hehe, jangan please.” Aku memasang puppy face ku yang terbaik. Dia mendesah kesal, kalah. “Oh iya. Hey, mau dengar lagu baru?” Adriane mengangguk semangat. Aku mengeluarkan gitarku, gitar yang sama dengan yang aku bawa-bawa lima tahun yang lalu. Kuletakkan gitar di pangkuan dan berputar 90 derajat, menghadap Adriane.

“Better than words, but more than a feeling

Crazy in love, dancing on the ceiling

Every time we touch, I'm all shook up

You make me wanna...

How deep is your love

God only knows, baby

I don't know how else to sum it up

'Cause words ain't good enough

There's no way I can explain your love, no

I don't know how else to sum it up

'Cause words ain't good enough

I can't explain your love, no

It's better than words

Better than words, you drive me crazy

Someone like you, always be my baby

Best I ever had, hips don't lie

You make me wanna sss

One more night

Irreplaceable, crazy, we're crazy”

Tanganku berhenti, mengambang di atas senar-senar gitar. Adriane masih menatapku, menunggu sampai dia sadar aku sudah selesai.

“Wow. Pasti Harry yang membuat lirik barusan itu.” Adriane menaikkan alis. “Cuma segitu?”

“Nope. Kalau kamu mau mendengarnya, kamu harus ikut besok.”

Replayed [UNDER SERIOUS EDITING]Baca cerita ini secara GRATIS!