Chapter 3

147 4 0

Aku mengangguk. Ya, mungkin hanya perasaanku saja.

Setelah Zayn dan aku membayar belanjaan, kami keluar dari supermarket. Aku pergi kesini berjalan kaki, karena memang jarak antara asrama dan supermarket tidak terlalu jauh. Sementara Zayn menggunakan mobil, entah mobil siapa. Setahuku mahasiswa yang tinggal di asrama dilarang mengemudikan mobil ke kampus atau kemanapun kecuali atas izin pemilik asrama.

“Ayo, aku antar.” Tawar Zayn.

Aku hanya menggeleng, “Tidak, terimakasih. Aku bisa jalan kaki.”

Namun kali ini Zayn yang menolaknya. Ia bersikukuh untuk mengantarku pulang namun sebisa mungkin aku menolaknya dengan halus. Zayn terus memaksaku. Tapi sepertinya Zayn tidak kehabisan akal, ia membuka pintu penumpang dan menarikku untuk masuk kemudian mengunci pintunya. Kulihat ia menyeringai saat masuk kedalam mobil.

Ya Allah, tolonglah hamba-mu ini... Jauhkanlah aku dari semua hal yang tidak baik...

Aku terus mengulang-ulang kalimat tersebut di dalam hati. “Z-zayn...”

Zayn hanya menoleh kemudian menyalakan mesin mobilnya. “Tolong dibuka jendelanya.”

Zayn tergelak, “Kau ini kenapa sih? Aku hanya ingin mengantarmu pulang. Kalau kau sampai celaka di jalan bagaimana? Niatku ini baik, Regita.”

Bagaimana jika kau yang akan mencelakaiku, Zayn? Bagaimana?

Selama di perjalanan aku hanya diam dan tertunduk. Tidak lama kemudian gerbang asrama sudah terlihat. Aku langsung meminta Zayn untuk berhenti dan menurunkanku disini. Tanpa banyak berpikir, aku langsung turun dari mobilnya tanpa mengucapkan terimakasih.

Kutaruh semua belanjaanku di atas pantry dengan kasar. Ya Allah, apa yang baru saja aku lakukan? Napasku tercekat dan jantungku berdetak lebih cepat. Aku tidak mengerti mengapa aku jadi seperti ini. Apakah aku merasa ketakutan sekarang? Takut karena telah mendekati zina atau takut Zayn akan mejauhiku karena kau telah bersikap kasar padanya...

Zayn’s POV

Sialan! Kulemparkan seluruh belanjaanku ke lantai. Kau ini kenapa Zayn?! Mengapa kau memaksa Gita seperti itu?! Lihatlah, dia ketakutan setengah mati! Mengapa aku jadi bertindak bodoh begini?! Mati sudah, Gita pasti akan segera menjauhiku karena perbuatan bodohku tadi. Argh!

Semalaman aku tidak bisa tidur nyanyak karena memikirkannya. Ya, Regita. Siapa lagi kalau bukan dia? Jujur aku merasa bodoh dan sangat menyesali perbuatanku itu. Hari ini aku ada kelas yang sama dengannya dan aku akan meminta maaf padanya.

Kulihat Gita sudah duduk di bangkunya seperti biasa. Ia menunduk. Ia terlihat lemah dan... lesu? Aku jadi bingung apakah aku harus meminta maaf atau tidak. Tapi, hei! Aku ini laki-laki.

“Git.”

Ia hanya diam, tidak memperdulikan keberadaanku. Seperti yang telah aku duga. Aku menghela napas berat.

“Aku minta maaf. Aku menyesal. Sangat menyesal, sungguh. Aku tidak tahu kalau aku bisa bertindak sebodoh kemarin. Aku—“

“Mr Malik, duduklah.”

Aku memutarkan badanku dan melihat professor Jenkins telah berada di depan kelas. Ia mengenakan sebuah kemeja hijau dan celana coklat. Aku mengangguk pelan dan duduk di tempatku, di depan Regita. Selama pelajaran berlangsung aku tidak fokus memperhatikan pelajaran. Memang dasarnya aku tidak pernah memperhatikan dosen manapun, dan sekarang di tambah dengan Gita yang mendiamkanku. Hal ini benar-benar membuatku tidak fokus dalam melakukan apapun!

Saat jam pelajaran berakhir, aku melihat Gita bangkit dari kursinya dan berjalan keluar. Tentu saja tanpa menyapaku terlebih dahulu seperti biasanya. Ia pergi ke taman belakang dengan nampan berisi udang panggang lada hitam dengan youghurt kesukaannya.

QALBUN [Zayn Malik Fanfiction - One Shoot]Read this story for FREE!