Dangereux ▪ 16

19.6K 1.7K 71


"I'm tired of acting.
Like I'm not hurting."


Seminggu kemudian.

Ruang Inap Nesya sedang ramai sekarang, teman-temannya----lebih tepatnya teman-teman Rey. Mereka berkumpul untuk membantunya berkemas untuk pulang, padahal Tasya saja sudah cukup.

Kondisi Nesya sudah mulai membaik, dokter sudah mengizinkan untuk pulang. Hanya sesekali, Nesya harus check up ke Rumah Sakit untuk memeriksa keadaan kepalanya.

"Kalian buat apa sih ikut, bikin ribet tau, nggak?" gerutu Tasya seraya membereskan pakaian Nesya.

"Lah, kita mah cowok-cowok mau jagain lu bedua." celetuk Revin.

"Auk, bersyukur dong. Dijagain lima cowok ganteng secara sukarela, di luar sana banyak yang ngarep, di sini malah sewot." sungut Rico.

"Idih, pede banget kalian." cibir Tasya.

"Biarin aja dong, sayang. Kasianin jomblo, kesepian." ujar Rio seraya terkekeh pelan dan langsung mendapatkan tabokan keras dari teman-temannya.

"Anjir, sementang lu doang yang kagak jomblo." cibir Rasya.

"Wo, jelas dong." Rio menepuk-nepuk dadanya bangga.

"Bacot." Rey menatap tajam teman-temannya untuk menyuruh mereka diam.

"Rey, galak ih kayak anjing tetangga." cicit Rio.

Langsung saja Rey mengalihkan tatapan tajamnya ke arah Rio, dingin dan menusuk. Rio yang mendapatkan tatapan itu, segera mengalihkan tatapannya ke arah lain, tidak mau melihat ke arah Rey. Seram katanya.

"Rey, mata lo mau keluar itu." tegur Nesya seraya menepuk lengan Rey yang berada di sampingnya.

Bukannya marah, Rey justru terkekeh seraya menatap Nesya. Berbeda 180° dengan dirinya 1 menit yang lalu saat menatap Rio.

"Temen lo, tuh." bisik Revin pada Rasya dan Rico.

"Doi udah mulai cair tuh." balas Rico.

"Taruhan, bentar lagi jadian." ujar Rasya.

"Bakso mang Dadang!" ucap Rico antusias.

"Bakso pala lo bulat," ujar Revin seraya menoyor kepala Rico, "itu anak anti sama cewek udah 2 tahun, yakali baru ketemu 2 bulan bisa langsung jadian."

"Orang mah kagak bisa ditebak Rev, kita liat aja entar," ucap Rasya.

"Semoga."

Setelah sampai di rumah Tasya, para lelaki langsung pulang karena diusir Tasya. Seperti biasa, lagi-lagi di rumah Tasya tidak ada orang. Hanya ada satu asisten rumah tangga, itupun sedang pergi ke pasar.

"Bentar Nes, gue ngambil kunci dulu." Tasya berjalan menuju pot besar yang terletak di samping rumahnya, ia mencari-cari sesuatu di sana. Tidak lama, Tasya kemudian kembali dengan sebuah kunci yang berada di genggamannya.

Membuka pintu rumahnya, Tasya dan Nesya segera masuk seraya menyeret koper kecil. Berisikan barang-barang Nesya selama berada di rumah sakit.

Dangereux  (Open pre-order)Baca cerita ini secara GRATIS!