6. Alien Rupawan

4.2K 395 31

"Kalau aku harus ketakutan terlebih dahulu baru dipeluk kamu,
Aku rela berkali-kali ditakutin asal kamu yang peluk aku, bukan Kang Cireng."

-Gauri Adoria Zoya-

*****

Beruntunglah hari pertama perkenalanku sebagai pemimpin perusahaan --calon pengganti Papa untuk sementara sampai Alan mendapatkan gelar S3-nya-- berjalan lancar dan tidak memalukan. Oke, maksudku hampir. Karena untukku, insiden terjatuh di pelukan Alien itu termasuk hitungan.

Aku ingat sekali senyum miring tanda mengejek di wajah alien yang sialnya dikaruniakan wajah rupawan itu. Aku hampir saja tak mampu mengendalikan tubuhku ketika Papa memanggilku untuk berdiri ke depan, tepat di sampingnya.

Bukan hanya aku takut memalukan, nervous, berikut dengan cucu cicitnya. Tapi, sepasang mata tajam itu melirikku dari sudut ruangan yang awalnya kupikir dia melamun. Aku melihat dia melirikku hingga gugup setengah mati, tapi Dewi batinku mengingatkan jika dia tak pernah terfokus padaku, dia seperti memikirkan hal lain. Mungkin hanya perasaanku saja.

"Kenapa Spagetti buatan Mama cuma kamu putar-putar begitu, Zoya?"

Aku tersentak ketika mendengar namaku dipanggil oleh Mama. Bodohnya aku, saat sedang makan pun lelaki itu masih saja melintas di anganku. Aku meringis, "I am sorry ...."

Mama menatapku seakan menuntut penjelasan. "Apa masakan Mama enggak enak? Iya, Pa? Alan?" tanya Mama beralih menatap Papa dan Alan. Mereka kompak menggeleng, karena memang masakan Mama selalu juara.

"Kakak lagi bayangin ena-ena sama cowok masa depannya itu kali, Ma!" cetus Alan seenak kentut.

Kuinjak saja kakinya hingga ia mengaduh dan menatapku kesal. Siapa suruh cari masalah denganku?

"Alan, kita lagi makan," ucap Papa mengingatkan.

"Yaelah, Pa. Ini meja malah udah gak kehitung berapa kali dipake buat properti ena-ena Papa sama Mama, kan?" timpal Alan dengan mulutnya yang sama persis seperti mulut Papa.

Wajah Mama hampir serupa dengan paprika merah dan berpura-pura tak mendengar dengan sibuk menepuk pundak Papa yang tersendak air minumnya sendiri.

"Aww- Pa!" Aku cekikikan melihat Alan merintih kesakitan akibat diserang kaki Papa di bawah meja, karena posisi Alan tepat di hadapan Papa.

"Mulut kamu itu dijaga!" protes Papa.

"Yang nyebarin kecebongnya aja begitu, wajar kalau anaknya ngikutin," gumam Mama yang masih terdengar oleh kami semua. Terbukti dari Alan yang tertawa puas dan Papa yang cengengesan disindir oleh istrinya sendiri.

"Sebenarnya kamu kenapa, Zoya? Ada masalah di kantor? Papa sih ... udah Mama bilang, gak perlu harus membuka identitas Zoya. Mama jadi khawatir," keluh Mama.

"Zoya gakpapa kok, Ma. Sejauh ini baik-baik aja. Cuma sedikit penasaran, tapi gak begitu penting, kok. Hehe," ujarku cengengesan.

"Sejauh ini? Dari mana jauhnya kali? Baru juga dua hari," celetuk Alan. Ia berpura-pura tak melihat wajahku yang kesal.

Mama menghiraukan ucapan Alan. Sepertinya Mama benar-benar khawatir padaku. Mama memegang sebelah kanan pergelangan tanganku. "Kamu yakin baik-baik aja, Zoya?"

Aku mengangguk pasti. "Iya Ma, Zoya baik-baik aja."

"Tuh, Alisha. Kamu dengar sendiri kan? Putri kita gak masalah. Zoya oke-oke aja, kamunya aja yang terlalu khawatir."

Mama mendelik, "Tapi kan Zoya-"

Ucapan Mama terhenti ketika sebuah kecupan mendarat di pipinya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Papa? Kami sebagai anak yang berbakti hanya mampu berdeham kuat-kuat dan berpura-pura tidak melihat kejadian barusan.

All Eyez (#MOG 2) [END]Baca cerita ini secara GRATIS!