Prolog

5.3K 125 11

Hujan rintik-rintik menjadi pandangan gadis itu saat ini. Kala ia duduk di sebuah cafe yang letaknya tak jauh dari sekolahnya. Matanya terkunci pada rintikan air hujan diluar sana. Tatapannya meneduh. Tangannya sesekali mengaduk greentea latte kesukaannya.

Ia melamun. Terlihat sedang memikirkan sesuatu, hingga suara ponselnya menginterupsi lamunannya.

Arkan P : nadina masih di cafe?

Milea Arthasy : masih ar. lo dimana?

Arkan P : tunggu 5 menit lagi ya? gue baru selesai futsal. ini gue otw

Milea Arthasy : oke ar. gue tunggu

Milea tersenyum menatap ponselnya. Hingga sebuah pesan kembali masuk ke dalam ponselnya. Merubah raut wajahnya dan merubah getaran hatinya sedikit demi sedikit.

Gibran Bramantyo : lea

Gibran Bramantyo : jalan kuy

Milea Arthasy : sorry gib, gabisa

Gibran Bramantyo : oh udah ada janji? sama siapa?

Milea Arthasy : sama arkan

Gibran Bramantyo : oh yaudah

Gibran Bramantyo : have fun ya, milea

Gibran Bramantyo : awas, si arkan kadang suka kumat kalo liat banci kaleng. ntar kalo dia malu2in tinggal telfon gue ya

Tangannya terdiam. Keningnya berkerut samar. Memikirkan jawaban yang tepat untuk ia ketik dan ia kirimkan untuk Gibran. Saat tangannya mulai bergerak, suara yang familiar di telinganya itu, menginterupsi pergerakannya untuk berhenti.

"Maaf udah nunggu lama."

Milea langsung mendongakkan kepalanya dari ponsel ke arah lelaki yang sudah ada dihadapannya. Kemudian, Milea tersenyum maklum. Ia kemudian mengunci layar ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas. "Nggak apa-apa, Ar." balas Milea kemudian.

"Yaudah, lo minta gue temenin ke toko buku kan? Let's go!" ajaknya sambil memamerkan deretan gigi putihnya.

Milea hanya mengangguk. Setelah ia membayar pesanannya, ia berjalan di samping cowok berperawakan tinggi itu. Sedangkan cowok itu, tersenyum kemudian merangkul hangat bahu Milea. Hanya sekedar rangkulan seorang teman.

Mereka tertawa bahagia dibawah rintikan hujan. Merasa beban yang mereka miliki sebelumnya menguap begitu saja di udara. Tanpa mereka sadari, semesta akan segera mempermainkan mereka. Mempermainkan ketiga perasaan orang itu. Perasaan Arkan, Milea dan Gibran tanpa tahu akan berakhir dimana.

Hingga pada saatnya, hujan dan senja yang menjadi saksi bisu kemana hati mereka akan berlabuh.

*

Bukan sequel Hujan & Semesta. Ini cuma spin off dari Hujan & Semesta tentang Arkan, Milea sama Gibran. Disini alurnya dimulai dari semuanya masih baik2 aja. Masih ada Revan.

Buat kalian yang kangen Revan, gue kabulin keinginan kalian buat bisa berkangen ria sama Revan disini.

Semoga cerita ini dapat memuaskan hati pembaca yaa. Walaupun gue ngebuat 1 part aja sampe berbulan-bulan karena ga srek. InshaAllah ga ngebuat kalian kecewa.

btw, follow ig ku ya gais

@rekyanlitha

thankiees♥

Hujan & SenjaRead this story for FREE!