1. New Begining

80.8K 5.3K 326

Dengan membaca dan menimbang kembali permohonan pihak penggugat saudari Aruna Zahrani Qotrunada terhadap pihak tergugat saudara Wildan Nimaira, maka pengadilan negeri memutuskan mengabulkan permohonan pihak pertama selaku penggugat tanpa syarat dan ketentuan khusus yang berlaku , maka dengan ini kami nyatakan saudari penggugat Aruna Zahrani Qotrunada dan juga saudara tergugat Wildan Nimaira di nyatakan resmi bercerai....

Tok tok tok...

Selesai semua sudah selesai. Tiga Ketukan hakim mengakhiri pernikahan yang ku jalani selama satu tahun bersama kak Wildan. Pernikahan yang sejak awal memang terjadi karena ada janji almarhum orang tua ku dan orang tua kak Wildan di dalam nya. Pernikahan yang membuat ku merasa sesak selama satu tahun penuh karena lelah terus mengejar cinta dari suami ku sendiri. Cinta yang tak bisa di berikan kak Wildan yang membuat nya tetap menjaga jarak dari ku meski kami sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Dan jarak tersebut yang mengantarkan kak Wildan pada konsistensi nya untuk tak mengambil hak nya sebagai suami ku.

Ya, aku seorang janda yang masih perawan. Belum tersentuh sedikit pun oleh jamahan pria manapun, bahkan suami ku sendiri.

Sial!!! Suami? Ralat. Maksudku mantan suami ku yang tengah duduk berjarak satu meter dari ku. Yang mengenakan pakaian senada dengan ku. Kemeja putih yang di padu padankan dengan bawahan berwarna hitam.

Aku melirik ke arah kak Wildan. Berharap raut wajah sedih tergurat di sana, namun sayang yang kulihat justru kebalikan nya. Kak Wildan nampak tersenyum lega, mata nya berbinar ,dia bahkan berdiri kemudian berjalan ke arah hakim menyalami ketiga hakim yang menjadi pengeksekusi pernikahan kami.

Tak mau menelan pil kekecewaan lebih banyak. Aku segera berdiri, kemudian berlari meninggalkan ruangan bernuansa putih itu. Aku tak ingin kak Wildan melihat betapa rapuh nya aku, betapa terluka nya aku dengan keputusan yang kami ambil ini.

Tidak bukan aku. Lebih tepat nya keputusan yang di paksakan kak Wildan terhadapku. Sampai sampai agar aku menyetujui untuk menggugat cerai dari nya, dia dengan berani selingkuh dengan terang terang di depan mata ku.

Aku terus berlari, tak memperdulikan tatapan heran dari orang orang yang berlalu lalang dipengadilan agama. Sampai akhirnya aku tersandung batu di pinggir jalan, membuatku jatuh terjerembab dengan lutut ku yang menjadi terluka karena mencium aspal.

"Mbak ga kenapa napa?" Tanya suara bariton membungkuk di depan ku

"Sa kit" lirih ku pelan di iringi suara tangisan yang tak bisa ku tahan lagi. Akhirnya cairan kristal yang sejak tadi tertahan di kelopak mata ku keluar begitu saja membasahi pipi ku.

"Sa kit ba nget" lanjut ku terbata karena suara isakan tangis ku yang semakin kencang

"Mah pah, sakit ba nget.. sa kit" adu ku lagi membuat pria itu berkernyit bingung

Tapi pria itu tetap diam tak menggubris ucapan ku. Karena aku yakin, melihat tampang tolol ku yang mengenakan pakaian hitam putih dan berada di sekitaran pengadilan agama pria itu tau bahwa aku baru saja di eksekusi di dalam sana.

"Sabar mbak. Mungkin Tuhan punya skenario yang lebih indah buat mbak, " ujar nya yakin bahwa penyebab rasa sakit yang ku alami memang bukan karena lutut ku yang terluka melainkan karena hal lain

"Ta pi.. sa kit, ya Allah sa kit ba nget, sa kit," ujar ku terus mengulang kata sakit yang memang mendominasi rasa nyeri di dada ku yang bahkan membuat ku sesak.

Bukan nya memegang lutut ku yang berdarah, tangan ku malah mencengkram kemeja di sekitaran dada. Meremas nya sekuat tenaga.

"Di si ni.. sa kit," adu ku lagi merujuk pada dada ku yang tengah ku remas.

JANDA RASA PERAWANBaca cerita ini secara GRATIS!