Page 15

2.1K 329 45

Entah apa yang saat ini dipikirkan oleh Jung Jae Hyun. Ia benar-benar malam beraktivitas, ponselnya pun ia matikan agar tak seorang pun dapat menginterupsi keinginannya untuk sendiri. Namun sebagai sahabat, tentulah Cha Eun Woo tak akan tinggal diam apabila rekan senasib dan sepenanggungannya itu tidak masuk kerja tanpa adanya kabar. Maka dari itu, Eunwoo memutuskan mampir ke apartemen Jaehyun saat jam istirahat.


Keakraban Eunwoo dan Jaehyun memang tak perlu lagi dipertanyakan. Terbukti dengan luwesnya jari-jemari Eunwoo menekan kata sandi untuk membuka pintu kediaman kawannya itu.

"Jung..., apa kau ada di dalam?" seru Eunwoo setelah pintunya terbuka. Pemuda itu melepas sepatu dan menatanya di rak, kemudian lanjut melangkahkan tungkai untuk menyusuri wisma berluas empat puluh lima meter persegi itu.

"Huft!"


Sebuah embusan napas berat menyambangi rungu Eunwoo. Seketika ia pun tahu di mana keberadaan orang yang sedari tadi ia cari itu—di depan televisi sambil bergelung kemul di atas sofa.

"Bukannya masuk kerja malah malas-malasan di rumah!" Eunwoo sontak menghardik tatkala melihat keadaan Jaehyun yang sudah mirip dengan roti gulung.

"Datang-datang langsung ngomel. Kau mengajakku adu jotos atau bagaimana, nih?" sahut Jaehyun dan langsung beringsut dari tempatnya merebahkan diri sedari tadi.


Eunwoo cuma bisa geleng-geleng kepala melihat keadaan Jaehyun; rambutnya acak-acakan dan mata yang sayu. Ditambah dengan tiga cup ramen dan lima kaleng minuman berkarbonasi yang berserakan di karpet. Jangan pula lupakan satu pak rokok Marlboro yang telah habis ia sesap hingga tak menyisakan barang satu puntung.

"Kau terlihat mengerikan akhir-akhir ini. Membuatku takut, tahu!" sindir Eunwoo sambil mengerutkan dahi.

"As if I care, huh?!" balas Jaehyun tak acuh. Eunwoo pun lantas mengambil posisi duduk di sebelahnya, ia rangkul pundak Jaehyun dengan akrab.

"Rindu itu berat, 'kan?" tanya Eunwoo yang langsung disambut dengan mata yang memicing sebelah oleh sang kawan.

"Kau ngomong apa, sih? Enggak jelas!"

"Sudahlah, akui saja..."

"Please, ya, Cha... aku cuma sedang menikmati hari-hari merdekaku setelah lama tersiksa batin menjadi perempuan!" Jaehyun berujar dengan penuh penekanan di tiap katanya. Eunwoo menyeringai tipis, ia tahu kalau apa yang barusan dikatakan oleh Pemuda Jung itu adalah kebohongan.


"Akuilah, maka semuanya akan membaik. Jangan pura-pura tidak paham dengan apa yang aku katakan." titah Eunwoo yang tak ada lelahnya mencoba membuat Jaehyun bersikap jujur pada diri sendiri.

"Memangnya aku harus mengakui apa? Kalau aku rindu pada Chaeyeon? Percuma, enggak ada gunanya. Bahkan apabila hatiku mulai sadar bahwa sekarang dialah satu-satunya yang ada di hatiku, itu tidak akan mengubah apa pun. Dia membenciku, aku cuma seorang pengecut yang sudah membuat hatinya terluka." Jaehyun berucap sambil bergetar. Intonasinya jauh lebih pelan dari beberapa frasa yang ia lontarkan kepada Eunwoo sebelumnya.

"Bagus. Keyakinan di dalam hatimu adalah yang terpenting. Lelaki memang harus punya pendirian terhadap apa yang mereka rasakan." Eunwoo berpetuah. Tingkahnya itu semakin membuat Jaehyun geleng-geleng kepala. 


Sejak kapan, sih, dia jadi sok tua begini?


"Bagaimana kalau sekarang kau bersih diri? Akan aku bereskan ruanganmu yang sudah seperti kandang babi ini."

"Jadi kau mengasosiasikan aku dengan babi? Iya, iya, aku memang doyan makan dan punya pipi bulat, fine!" Jaehyun memekik dengan hati yang kesal. Ia pun sekonyong-konyong membungkus badan Eunwoo dengan selimut tebal yang semalaman ia gunakan untuk membalut tubuhnya dan lantas beranjak menuju kamar mandi.

My Lesbian Roommate [✔]Baca cerita ini secara GRATIS!