5. A-gamau Lepas!

4.5K 438 28

"Kalau jatuh yang dirasakan cuma dua, sakit dan malu.
Tapi kalau jatuh hati, malu pun tak peduli lagi."

-Gauri Adoria Zoya-

*****

Sudah lima hari berlalu dari insiden paling menyebalkan seumur hidupku. Aku serius saat mengatakan ini. Mungkin Pencipta-ku telah menentukan bahwa hari itu adalah hari kesialanku selama hampir tiga puluh tahun eksis di dunia sebagai seorang Zoya.

Bukan hanya hampir disosor pria botak seperempat dan heels berharga jutaan dolar dipatahkan tanpa ganti rugi saja yang menemaniku kala itu, tapi dilengkapi oleh menu yang kuinginkan entah mengapa telah habis terjual, dompetku tertinggal di ruangan, ban mobilku bocor depan belakang, dan mendapatkan pencerahan salah sasaran oleh Papa.

Ya, seharusnya yang diceramahi beliau itu bukan aku, tapi si berengsek Hardian.
Belum lagi ketika Papa memutuskan untuk tak lagi menyembunyikan nama belakangku yang jelas sekali mendapatkan protes keras dari aku dan Mama. Papa sangat emosi setelah melihat rekaman CCTV ruanganku kemarin, hingga rayuan ala Mama Alisha pun tak berhasil.

Pada akhirnya, jadilah aku berada di ruangan luas dan bersih ini setelah tadi pagi Papa mengumumkan bahwa aku adalah Putri pertama Diyas Erlangga dan Adoria Alisha yang tentu saja membuat banyak orang terkejut tak percaya.

Kudengar kasak kusuk beberapa orang yang membicarakanku, "Untung gue bisa jaga mulut, walaupun udah gatel banget mau maki-maki Bu Zoya."

"Iya, gue juga mikir enggak-enggak soal dia."

"Gue pikir juga begitu, cuma manajer personalia aja gayanya level artis. Gue pikir tadinya dia selingkuhan Direktur kita, ternyata anaknya."

Ya ampun, ceroboh sekali aku. Jadi mungkin ini salah satu alasan kenapa si Hardian itu memandang rendah diriku.

"Ngelamunin jorok ya, elo? Buruan nikah sana, biar dapet pelampiasan."

Tenang saja, itu bukan suara arwah gentayangan. Itu suara Alan yang tak kusadari telah berada di ruangan ini karena terlalu asyik melamun.

Aku mendengkus, "Otak elo perlu digulung pake mesin cuci, gue rasa. Jangan ngeledekin gue, elo aja belum nikah."

Alan terkekeh kecil, "Ya gimana gue mau nikah kalau elo masih doyan sendiri? Kan katanya gak boleh ngelangkahin Kakak, Bumali."

"Pamali, jangan ganti-ganti nama orang!"

Alan masih saja cengengesan. "Gimana rasanya jadi CEO?" tanyanya dengan alis yang di naik turunkan.

"Biasa aja, standar. Daridulu bukannya gue emang CEO, kan?"

Alan berdecak pelan, "Maksud gue, gimana rasanya ada di ruangan elo yang asli?"

"Gak enak," jawabku singkat.

Matanya melebar ketika berjalan mendekatiku, "Seriusan?!"

Aku mengangguk dan tertawa melihat Alan duduk di mejaku. "Gak enak soalnya ada muka elo sekarang!" Aku pun dilempari sebuah bolpoin yang tadinya tertata rapi di atas meja.

"Eh iya, apa kabar cowok masa depan elo?"

Pertanyaan anak ini membuatku langsung teringat dengan koleksi sepatuku yang patah. Aku memang pernah bercerita pada Alan jika aku sempat merasa sedikit tertarik pada seseorang yang sering datang ke cafe tempat kami nongki-nongki cantik. Tolong digaris bawahi, hanya sedikit tertarik tidak lebih.

"Kemarin yang matahin sepatu gue juga dia," sahutku.

Alan menarik tubuhnya semakin dekat padaku dan menopang dagunya di atas meja. "Wah, udah lebih dari tiga kali malah ya kalian ketemu? Kaian berjodoh gue yakin!" timpal Alan.

All Eyez (#MOG 2) [END]Baca cerita ini secara GRATIS!