4. Flat Heels

4.6K 442 52

"Cantik itu mahal. Cantik itu sakit.
Makanya cewek yang belum kesakitan sama sengsara itu masih jelek."

-Gauri Adoria Zoya-

*****

Kata siapa kerja di perusahaan milik keluarga itu enak? Tunjukan padaku si komentator itu, akan kutunjukkan padanya seberapa pedih cobaan hidup seorang Zoya.

Sudah kuceritakan bukan jika aku merupakan Manager Personalia di sini, tapi pekerjaanku justru setara dengan CEO. Aku heran dengan beberapa cerita novel fiksi yang mengisahkan percintaan seorang pengusaha muda, di mana mereka bisa sesuka hati meninggalkan pekerjaannya demi sang pujaan hati ataupun hanya untuk bersenang-senang di dalam Goa.

Hell, yeah! Kenyataannya tak seindah itu ....

Terkadang aku berpikir, apa karena aku terlahir sebagai wanita maka waktuku di penjara dan kebebasanku dihisap oleh dementor? Ah, tolong aku yang masih terbawa film remang-remang bersejarah tanpa bosan ku tonton semalam walaupun sudah berulang kali.

Ketukan di pintu ruanganku membuatku tersadar dari waktu melamun tak berguna. "Ya, silahkan masuk."

Seorang gadis muncul dari balik pintu. "Maaf Mbak Zoya, ini file rekap absensi karyawan sama hasil tes pelamar kerja yang Mbak minta, ada lagi yang bisa saya bantu?"

Aku tersenyum dengan wajah kuyu. Terang saja wajahku seperti ini, selama beberapa hari aku lembur. "Terimakasih ya Sarah, nanti akan aku hubungi lagi jika aku butuh bantuanmu."

Gadis baik yang bernama Sarah itu membalas senyumanku. "Baiklah kalau begitu saya permisi dulu, Mbak."

Aku mengangguk pelan. Kenapa? Heran jika dia memanggilku Mbak, bukan Ibu? Jangan membuatku mendengkus, aku tidak se-kadaluwarsa itu.

Baru saja aku berniat menyentuh tumpukan kertas paling berharga bagi karyawan di sini, seseorang tanpa permisi membuka dan menutup pintu cukup keras. "Ibu Zoya yang terhormat, apakah anda yang menyuruh Sarah memberikan data-data absensi? Saya tahu anda masih baru memegang jabatan sebagai Manager Personalia, tapi bukan berarti saya diam saja ketika anda mengambil alih pekerjaan saya!"

Ah, pria berkepala plontos ini lagi. Ehm, maksudku botak tengah. Papa hebat juga ya bisa mendapatkan pekerja yang seperti ini --Hardian Febriansyah-- seorang Manager HRD beristri dua dan memiliki seorang selingkuhan. Luar biasanya, baru kali ini aku menemukan orang yang keberatan jika pekerjaannya berkurang.

"Maaf sebelumnya Pak, tapi sebagai personalia, saya lebih memiliki hak kuat untuk mengerjakan segala hal bersifat administratif yang mengatur hubungan industrial antara perusahaan dan karyawan. Saya tahu Bapak memang memiliki hak lebih luas dari saya, maka ijinkan saya mengerjakan ini dan Bapak bisa lihat juga teliti lagi hasil kinerja saya nanti."

Tapi aku tak sebodoh itu memberikan hasil kerja lembur mata pandaku tanpa back up data ....

"Tetap saja saya tak bisa menerimanya. Anda telah menyalahi peraturan! Saya heran, siapa yang mengangkat pekerja bodoh seperti anda untuk memegang jabatan ini. Saya akan usulkan untuk menurunkan kembali jabatan anda nanti, kalau perlu ke bagian office girl!" sergah Hardian dengan mulutnya yang ingin sekali kujepit dan kujemur seperti celana dalam basah.

Yaaa ... dia hanya tak tahu saja, gadis bertompel di pipi pengantar kopi hitam yang sering digoda olehnya dulu, itu aku. Beruntunglah dia memakiku di kantor, jika saja ia lakukan selangkah keluar dari gedung ini, kupastikan rambutnya hilang total.

"Saya heran, kenapa Pak Hardian terlihat marah sekali jika saya membantu pekerjaan Bapak? Apa anda takut jika penyelundupan gaji karyawan dalam setahun terakhir ke rekening Bapak dan kekasih anda diketahui? Oh sayang sekali ... saya sudah tahu bahkan sebelum menyentuh berkas ini," balasku sembari menunjuk tumpukan kertas di meja.

All Eyez (#MOG 2) [END]Baca cerita ini secara GRATIS!