Chapter 118: Hiiro, Menuju Tanah Suci Oldine

3.1K 183 27

Setelah Hiiro mengingat kembali kontraknya dengan Maou Eveam, dia pun memakai kata『転移|Transfer』untuk menanyakan maksud sebenarnya dari isi kontrak tersebut.

Setelah muridnya, Nikki, melihat dia pergi, dia merasakan sensasi familiar yang ia rasakan setiap menggunakan telepotasi. Setelah memperhatikan tempat tujuannya, dia memutuskan untuk langsung komplain ke Maou.

"Hm? Dimana ini? Ah, kau di sana rupanya. Oi Maou, ada ketidaksesuaian dengan kontrak kita... hm? Apaan wajah itu?" (Hiiro)

Hal pertama yang dia rasakan adalah suasana yang sangat berat. Rasa haus darah seakan menjadi udara sekitar. Bukan hanya itu, namun hawa kehadiran disekitarnya membuat Hiiro berpikir kalau sebagian besar dari mereka bukan orang biasa.

Dan Eveam, orang yang harus ia temui, malah bersimbah darah dan dirinya sedang dipegang oleh orang tua yang mencurigakan.

Hiiro membuat wajah serius dan melihat sekitar dengan waspada. Sebuah bangunan besar mirip kuil masuk ke pengelihatannya.

(Itu pasti Kuil Agung Oldine yang dibicarakan Maou) (Hiiro)

Dia cukup memiliki informasi tentang konferensinya jadi dia tidak terlalu terkejut. Dia hanya terkagum pada besarnya kuil itu.

"Ka-Kau sialan! Siapa kau! Darimana kau muncul!" (Marione)

Tentu saja Marione yang khawatir dengan Maou sangat curiga pada orang misterius, Hiiro, yang tiba-tiba muncul. Namun Hiiro tetap diam. Dia melihat Eveam.

Orang yang lain juga kehilangan kata-kata mereka karena orang yang tiba-tiba datang dan hanya bisa mematung di tempat mereka. Bahkan Aquinas dan si pengkhianat Kiria membeku dan mencoba memahami apa yang terjadi.

(Wajah Kiria... jadi bocah itu bukan bawahannya ya?) (Aquinas)

Aquinas yang telah melihat wajah terkejut Kiria berpikir seperti itu. Tentu saja bukan hanya dia, namun Judom juga memikirkan hal yang sama.

"... Hi... iro?" (Eveam)

Eveam yang akhirnya merasakan kehadirannya bergumam perlahan.

"Yang Mulia? Anda mengenalnya?" (Marione)

Mungkin karena kesadaran Eveam yang sudah di ambang batas, dia mengabaikan Marione dan bergumam.

"Ah, tidak... ini pasti ilusi... Hiiro... aku menyerahkan negriku padanya..." (Eveam)

"Negri? Apa yang anda bicarakan Yang Mulia?" (Marione)

Hiiro memperhatikan situasi dan menganalisis perlahan.

(Seperti yang kuduga konferensinya gagal. Humas dan Gabranth juga disini... itu artinya Maou dan yang lain terkepung dan tidak bisa bergerak ya? Tapi siapa yang bisa membuat seorang Maou sampai mendapat luka seperti itu?) (Hiiro)

Dia pun melihat sekelilingnya lagi.

(Yang melakukannya... dia?) (Hiiro)

Sambil memikirkanna, dia melihat Beast King Leowald. Dari suasana di sekitarnya, Hiiro merasa Leowald memiliki aura berbeda dari kebanyakan orang. Kalau boleh dikatakan, dia sama dengan Liliyn saat dia marah. Dengan kata lain dia abnormal.

(Orang-orang itu... kelihatannya kawan) (Hiiro)

Tentu saja ada banyak orang abnormal lain. Mereka adalah Aquinas dan Judom. Namun dia tidak bisa merasakan perasaan permusuhan kepada Maou jadi dia tidak menggolongkan mereka sama dengan Leowald.

(... hm? Orang itu... aku tidak tahu) (Hiiro)

Dia melihat Kiria, namun dia tidak tahu apakah Kiria itu kuat atau lemah. Kalau harus dikatakan, Kiria hanya terasa menakutkan. Seakan dia adalah orang, tapi bukan orang. Hiiro merasakan perasaan yang ia rasakan saat menghadapi monster kuat. Namun pada saat yang sama dia merasakan kalau Kiria adalah boneka tanpa kemauan.

Konjiki no Wordmaster - Arc 3: Perang Antar RasBaca cerita ini secara GRATIS!