"Cinta itu bukan tuntutan, tapi pemahaman."

-Aluna Amanda Nindiatama-


***



"Saya Nakula Magantara, meminta maaf pada kalian semua, karena sebagai ketua ospek saya sangat tidak baik dan tidak bertanggung jawab. Saya menghilang dan mengundurkan diri di tengah kegiatan..."

Nakula dengan penuh karisma meminta maaf kepada seluru peserta MOS sore itu, ucapan maafnya di respon baik oleh peserta yang ada di sana, terlihat dari mereka yang memberikan senyuman dan tepuk tangan untuk Nakula, tak terkecuali Aluna dan Rara yang sekarang berdiri di barisan depan.

"Unccch... kak Nakula gantle banget," gumam Rara, wajahnya begitu penuh hasrat menatap Nakula di depannya, "mau dia ngelakuin kesalahan berapa kalipun gue bakalan selalu maafin dia kok. Hihi."

Aluna mendengus, itu adalah perkataan paling bodoh yang pernah ia dengar dari mulut Rara.

"Amit-amit!" umpat Aluna, "mending lo kejer Bima deh dari pada pacaran sama dia. orang kasar gitu di sukain, ihh."

Rara melirik nakal ke arah Aluna, "Hmmmmm.... cemburu yaa? ngaku ayo!"

Aluna membulatkan mata, mendadak wajahnya merah merona.

"Idih! Ngapain juga cemburu! Ambil aja tuh cowok datar bin labil kayak dia!"

Rara terkekeh, "lo masih aja gak sadar-sadar Al!"

Aluna memandang Rara bingung, "sadar apa?"

"Ya Allah! Nih ya, Kak Nakula emang kasar, tapi dia juga kan yang nyelamatin lo? lo pernah mikir gak sih kalo dia sebenernya suka sama lo?"

Aluna terdiam, mendengar ucapan Rara membuatnya mengingat kembali kejadian-kejadian yang ia lalui dengan Nakula. memang cowok western itu sangat tempramental dan aneh, tapi dia juga orang yang tidak bisa di tebak. Apa lagi ketika ia memeluknya dari belakang.

"Bener kan ucapan gue?" celetuk Rara, membuat Aluna tersadar dari bengong sesaatnya.

"Eh? Gak mungkin! Orang datar kaya gitu mana punya perasaan." balas Aluna sedikit salting, "marah-marah mulu lagi."

"Marah tandanya sayang tau!" ledek Rara.

"Tau ah!" kesal Aluna memalingkan wajah dari Rara, sementara sahabatnya itu terkekeh puas.

Aluna menatap cowok yang ada di depannya sekarang. Berpikir sesaat tentang apa yang di katakan Rara padanya. Aluna sendiri masih belum bisa menebak Nakula begitu saja, karena Nakula masih terlalu tertutup untuk dia mengerti.

"Dan saya berterima kasih dengan kalian semua, sudah ikut berpatisipasi dalam kegiatan Ospek ini. walaupun saya bukan lagi ketua ospek kalian, saja masih memiliki tanggung jawab penuh terhadap kalian. untuk itu saya ucapkan sekali lagi terima kasih"

seketika suara tepukan tangan mengelegar di lapangan futsal. Nakula sudah memeberi tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada seluruh peserta. Kemudian Kainan datang dan menggantikannya untuk mengumumkan pengumuman Kelompok terbaik.


***


"Btw, kita nantinya bakalan susah ketemu dong?" ucap Rara pada Kaisar sambil menarik koper merahnya.

"Hahaha santai aja kali Ra, gedung kelas kita sebrang-sebrangan ini, kan?" jawab Kaisar dengan tawa.

"Iya sih, tapi canggung ah sama anak IPA."

SENIORBaca cerita ini secara GRATIS!