1. Kesialan yang Hoki

7K 570 49

PERHATIAN untuk kedua kalinya, ini penting!!!

Berhubung cerita ini sudah selesai, untuk menghindari plagiatisme cerita ini di PRIVATE secara acak. Disarankan untuk FOLLOW terlebih dahulu.

Apabila sudah FOLLOW tapi masih ada bagian yang hilang, coba hapus cerita ini dari library, lalu di add ulang.

Setiap part selalu punya soundtrack, jadi bisa diputar mulmed-nya yaaa. Hehe

Semua dilakukan untuk kenyamanan pembaca dan penulis. Happy reading! 😘

*****

"Sekeras-kerasnya hati wanita, pasti ada saat di mana mereka kelewat baper nonton drama korea."

-Gauri Adoria Zoya-

*****

"Zoya!" Suara wanita yang sangat aku hafal terdengar dari balik pintu kamar, membuatku sejenak berhenti merias diri.

"Ya, Ma. Masuk aja, pintunya gak dikunci kok!"

Aku dapat melihat senyuman tulus wanita paruh baya dari pantulan cermin rias, sebab posisiku membelakangi pintu kamar. Wanita yang entah mengapa terlihat lebih muda dari seumurannya. Adoria Alisha Lituhayu dan dia ibuku.

Jika aku sedang menikmati waktu bersamanya, selalu saja kami dikatakan sebagai adik kakak yang kompak. Nanti aku akan tanyakan apa rahasia ibuku hingga tetap terlihat awet muda seperti ini.

Aku menoleh ke samping di mana ibuku telah duduk dengan anggun. "Ada apa, Ma?"

"Hari ini kamu ada waktu luang, Zoya?" tanyanya.

Satu-satunya yang tak kusukai dari ibuku adalah pertanyaan ini yang selalu terulang dari bibir cantiknya. Untuk ke dua puluh tiga kali kalimat yang sama itu hadir, tentu aku sudah mengerti maksud dan tujuan akhirnya.

Aku berusaha tak memutar bola mata walaupun aku sangat ingin demi menjaga kesopanan. "Ma, Mama kan tahu sendiri Zoya sibuk bantuin Papa di kantor."

Ketika aku berusaha untuk tetap menjaga kesopanan, ibuku mewakiliku memutar bola matanya. "Jangan beralasan sibuk terus, Zoya. Mama yakin Papa-mu itu tak keberatan ditinggal anak gadisnya sebentar."

Aku mendengkus mendengar penekanan di bagian kata gadis itu. "Ma ... jangan mulai deh."

"Makanya nanti malam datang. Hanya makan malam, Zoya. Nanti terserah kalian mau dilanjutkan atau tidak, yang penting kamu datang dulu," terangnya. Nah, aku benar bukan? Pasti ujung-ujungnya acara perjodohan terselubung.

"Zoya sudah dewasa, Ma. Lagipula masih jaman memangnya jodoh-jodohan seperti itu? Zoya masih bisa cari sendiri," ujarku memberi pengertian.

"Terus mana? Sampai kapan?" tuntutnya.

"Sampai es teh manis ada yang anget, Ma," jawabku sekenanya.

"Mama serius, Zoya ... mau sampai kapan kamu melajang? Sebentar lagi hari ulang tahunmu yang ke-tiga puluh,"

Aku menarik napas dalam-dalam, "Lalu kenapa, Ma? Aku tak terganggu dengan itu. Aku sudah cukup bahagia sekarang. Zoya punya Mama dan Papa, itu sudah lebih dari cukup."

"Tapi Mama ingin segera memiliki cucu!" Bibir ibuku mengerucut. Oh Tuhan ... dia kekanak-anakan sekali. Bagaimana bisa ia pantas sebagai seorang nenek dari anakku yang entah kapan akan lahir itu.

All Eyez (#MOG 2) [END]Baca cerita ini secara GRATIS!