April

Post Operation Day 1

I hate staying in bed all day. Kenapa gue mesti appendisitis segala sih, ah? Kan gue ketinggalan semuanya. Kalo ada kasus seru dan gue melewatkannya gimana? Gue gak ambis sih, gue cuma pengen liat aja. Siapa tau yang gue tonton di either Grey's Anatomy atau Night Shift itu beneran ada. Kan penasaran gue ilang.

Gue meraba perban yang terpasang manis di perut gue. Belum gue buka, belum waktunya. Takutnya luka operasinya masih basah, tapi gak ada rembesan darah atau nanah sih.

"Pagi,"

"Bimaaaaa, kelurkan gue dari sin-"

"Sssh!!" Bima masuk bersama beberapa orang koas di belakangnya. Perfect. Bima memakai gue sebagai topik bimbingannya. Semua residen memang diminta selalu memberikan bimbingan buat koas yang ada di rotasi tersebut, walaupun tetap utamanya koas akan bimbingan dengan para dokter konsulen. 

"Siapa yang laporan?"

Salah satu koas perempuan dengan mimik muka sedikit gelisah maju satu langkah lebih depan dengan teman-temannya dan membuka status, yang seharusnya status rekam medis gue.

"Nona April, 26 tahun, dengan POD 1 post laparotomi et causa appendisitis perforasi."

"Grading appendisitis ada apa aja? Vito?"

Koas bernama Vito tersentak. "A-Appendisitis akut, supuratif, gangrenosa....infiltrat, abses, perforasi dan kronik, dok."

Bima manggut-manggut. "Anatomi appendiks ada di mana aja? Kania?"

Kania yang dipanggil malah nengok kanan kiri, minta tolong ke temennya.

"Gak tau..." Bima melipat kedua lengannya di dada. "Siapa yang tau? Cepet dong, anatomi aja masa gak tau.."

Gue diem sediem-diemnya. Gue nahan ketawa sebenernya, karena tiba-tiba saat gue masih jadi koas bareng Bima sama Kaisar. Tiap hari kita gak pernah gak dimarahin. Mau ngasih jawaban yang benerpun, kita bakal tetep dimarahin. Koas selalu salah, itu udah hukum alam.

"Ada...retrocaecal, pelvic...subcaecal, preileal dan...postileal, dok." Koas yang berdiri di paling belakang mencoba menjawab.

"Apa aja yang harus difollow up?"

"Umm, luka operasi-"

"Itu pemeriksaan. Anamnesis dulu. Gilang, coba follow up. Dia pasien, perlakukan seperti pasien."

Gue menatap Gilang yang ragu-ragu buat maju. Temen-temennya pada bisikkin dia apa aja yang harus dilakukan. Gue berdeham dan mereka langsung kompakan kaget.

"P-pagi..dok,"

Gue mengerenyit.

"Permisi, d-dok.."

"Ganti." Belum sempat Gilang memeriksa gue, Bima udah memanggil nama lain untuk memeriksa gue. "Tasha."

"Pagi, dok." Tasha-Tasha ini senyum tapi keliatan kalo dia cemas. "Saya mau liat luka operasinya-"

"Ganti. Aduh, dia itu pasien. Paham gak? Periksa kaya ke pasien aja, gimana? Tristan."

Cowok dengan perawakan paling tinggi yang tadi menjawab pertanyaan Bima maju ke depan. Dia terlihat sedikit lebih pede dibanding kedua teman lainnya. Mungkin dia akhirnya ngerti apa yang dimaksud Bima.

"Pagi, Bu. Saya Tristan, asisten dokter Bima. Saya mau follow up sebentar ya, bu. Luka operasi nya masih sakit?"

"Masih, sedikit."

Tentang AprilBaca cerita ini secara GRATIS!