Satu Nama

982 87 10

"Apa yang kau pikirkan hingga kau nekad menemui Ratu Kunti? Apa kau sudah gila?"

Aku menggigit bibirku, takut mendengar suara Karna yang menggelegar. Meski beberapa kali bertengkar, ini adalah kemarahannya yang paling menakutkan. Aku tak berani memandang wajahnya. Aku hanya menunduk... membiarkan air mataku jatuh, terus jatuh ke atas permadani.

"Siapa... yang memberitahukanmu hal itu?"

Aku mendengar helaan napas Karna, tahu kalau kemarahannya mulai mendingin. Dia mengulang pertanyaannya lagi, kali ini dengan nada yang menyakitkanku.

"Kalau aku mengatakan, aku tahu ini semua dari awal, apakah kau akan marah?" kataku dengan suara terputus-putus. Karna menghela napas lagi. Dia memeluk dan menepuk-nepuk punggungku untuk menenangkan.

"Hari ini terlalu berat untuk kita berdua."

Aku terus menumpahkan tangisku di dadanya. Selama beberapa saat dia menepuk punggungku, sambil sesekali mencium puncak kepalaku.

"Kata para pelayan, tabib yang menyembuhkan aku menghilang begitu saja," Karna berkata, "Pengawal di luar mengatakan, ada cahaya terang yang keluar dari jendela saat tabib itu menghilang."

Aku mengangkat wajahku, berusaha menyatukan pandangan kami.

"Tabib itu adalah ayahmu, Dewa Surya."

Dia mengusap sisa-sisa air mata di pipiku, "Dewa Surya?"

Aku mengangguk. Dia memelukku lagi, kali ini dengan kehangatan yang selalu membuatku merasa terlindung.

"Kau tahu, Vrushali," dia berkata, "Sebenarnya aku tak ingin mengorek-ngorek asal-usulmu. Tapi dengan semua yang terjadi, aku jadi bertanya-tanya, siapa kau sebenarnya."

"Kalau aku mengatakannya, mungkin kau juga akan tertawa."

"Aku tidak akan tertawa."

Aku mengembuskan napas berkali-kali. Karna masih memandangku dengan sorot ingin tahu. Rahasia masa lalunya yang kupegang pasti membuatnya sangat penasaran. Tidak banyak orang yang tahu selain Krisna.

"Aku Putri Saraswati, Tuanku." Akhirnya aku mengucapkannya, "Aku telah hidup sejak zaman pemerintahan Maharaja Yayati, leluhur Maharaja Sentanu."

Karna membuka mulutnya, namun tidak tertawa.

"Saraswati memberikan air dan nyanyian terakhirnya kepadaku," aku menjelaskan, "Karena itu, aku tidak diperbolehkan bicara. Jika suara itu keluar, maka semua kekuatan dewata yang menghadirkanku akan musnah. Aku akan menjadi manusia fana. Sama sepertimu dan yang lain."

Karna mengangkat daguku, dia mengusap bibirku, lalu memandangku dengan sorot terkejut, sekaligus bahagia.

"Kau melepaskan kekuatan dewatamu hanya karena satu nama." Karna menarikku, kali ini dalam pelukan yang begitu erat. Terlalu erat hingga aku merasa dia akan meremukkanku.

"Aku selalu merasa dunia ini tidak adil," dia mengecup pipiku berkali-kali, "Vrushali. Vrushali. Kau membuatku harus segera meminta maaf kepada para dewa."

#StopPlagiarism

Author Putfel

Legenda Negeri Bharata [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang