Introduction

9K 667 39

Umurku sudah hampir menginjak kepala tiga dan masih lajang. Tentu kalian sudah paham pertanyaan rutin yang paling membuat telingaku berdengung bukan?

Kapan kamu diajak naik ke pelaminan? Sering! Setiap aku datang menjadi tamu ke pernikahan temanku.

Apakah jawabanku salah? Benar, bukan?

Tapi kalau ada yang menanyakan kepadaku, apa aku sudah memiliki calon pendamping?
Aku hanya bisa tertawa miris. Mungkin benar, kita tidak boleh sembarangan memilih pasangan hidup, tapi tak boleh juga terlalu pemilih. Maka kamu akan berakhir sepertiku.

Di saat temanku bergelung dengan pasangannya di kamar kala hujan datang, aku hanya mampu menghangatkan diri di dalam cafe dengan secangkir kopi dan tumpukan buku.

Tidak, aku bukan kutu buku. Ini hanya sebagai pengalihan dari rasa jenuh. Karena kuyakin, jika aku berani satu langkah saja menginjakkan kaki ke tempat hiburan malam, Papa pasti akan mengasingkanku.

Dia egois, Papa curang. Papa tak sesuci itu, namun beliau selalu berdalih, "Papa melakukan di luar pernikahan hanya dengan Mama-mu. Toh, pada akhirnya Mama menjadi istri Papa. Tapi kamu? Pacar pun belum punya."

Aku hanya bisa tersenyum kecut. Lelaki itu egois maka tak salah jika aku mulai merasa lebih baik hidup tanpa hadirnya sebuah pernikahan.

Aku berpendapat selalu didasari oleh kenyataan, banyak di antara mereka yang menyombongkan diri telah melangkahiku justru berakhir pada perpisahan. Kasihan jagoan kecil yang terpaksa mengerti keegoisan orang tuanya.

Mama, Oma dan Tante-ku pun sudah mengibarkan bendera putih membujukku untuk berkenalan dengan pria pilihan mereka.

Aku bukan tak laku, banyak pria siap mengantri di depanku. Hanya saja aku tak ingin mengecewakan Mama dan Papa dengan salah memilih pasangan. Aku anak sulung dan aku tak ingin menjadi alasan umur mereka berkurang. Itu saja.

Maka aku sudah mempersiapkan telinga untuk dipanggil dengan sebutan 'Perawan tua' dan beruntung hingga kini aku belum mendengarnya. Mungkin sebentar lagi, saat otakku mulai berpikir untuk memuaskan hasrat liar dengan diriku sendiri.

Tapi itu sebelum aku bertemu dengannya. Seorang pria yang selalu datang ke cafe yang sama, tempat duduk yang tak pernah berpindah, menu yang tak pernah berubah di hari yang sama setiap minggunya, tak lupa dengan raut lelah yang tak pernah pergi dari wajahnya.

Bagaimana aku bisa sangat memperhatikan pria itu? Padahal namanya saja aku tak tahu.

Mungkin karena dia satu-satunya pria yang berani mengusirku. Gauri Adoria Zoya Erlangga --wanita yang terlahir dengan sangat menjunjung harga diri-- untuk pertama kalinya dipermalukan hanya karena menempati kursi favorit sang pria misterius.

Ketika dunia berubah poros, maka aku salah satu bukti nyata. Aku sangat tak sudi mengejar pria, karena wanita kodratnya untuk dikejar, bukan mengejar. Namun dia mematahkan telak prinsipku.

Kesialan paling indah yang pernah hadir dan memberikan warna dalam hidupku.

-Gauri Adoria Zoya .E.-

∞∞∞

Widih, bahasa gue keren amat ya? 😂
Kaget sendiri bisa bikin tulisan begini. Takut ujung-ujungnya mirip Auristela yang bikin pusing tujuh keliling lapangan bola. Lol.

Regards,

Ali

12 Juni 2017

All Eyez (#MOG 2) [END]Baca cerita ini secara GRATIS!