Chapter 114: Hiiro di Tempat Lain

2.6K 167 26

*bushuuuu!

"Gaha !?" (Eveam)

Kiria menarik lenganya dari tubuh Eveam. Kiria hanya melihat Eveam jatuh dengan tatapan datar yang menyembunyikan semua pemikirannya.

Lalu sebuah bayangan besar muncul di belakang Kiria.

*buoooooooon!

Kiria pun memutar tubuhnya. Dia menghindari serangan dari bayangan yang besar itu. Lalu dia pergi menuju sisi Rudolf dengan anggun. Kiria berpikir kalau dia akan dipotong oleh serangan tangan yang seperti pedang. Tentara yang ada di sekitarnya terlempar karena angin yang disebabkan oleh serangan yang meleset tadi.

"Cih." (Kiria)

Penyerangnya adalah Aquinas. Walaupun Kiria sudah mengira kalau Aquinas akan melakukannya, namun Aquinas sama sekali tidak menyangka kalau pembantu Eveam, Kiria, akan melakukan tindakan tidak masuk akal itu. Penjagaan Eveam memang tidak direncanak dari awal. Namun ternyata salah kalau mereka menyerahkan tugas perlindungan kepada Kiria.

Judom juga terpaku karena serangan tiba-tiba itu

"Y-Yang Muliaaaaaa!" (Marione)

Wajah Marione menjadi marah bersamaan dengan langkahnya menuju Eveam. Dia menatap Kiria.

"Kiiriiiaaaaaaaa! Apa yang kau lakukan!" (Marione)

" Gu.... " (Eveam)

"Y-Yang Mulia! Apa kau baik-baik saja?!" (Marione)

Eveam mencoba berdiri dengan susah payah dengan bantuan Marione. Dia pun melihat Kiria dengan tidak percaya.

"Bagaimana keadaanmu, Maou?" (Rudolf)

Walaupun Eveam ingin mendengar kalimat Kiria, namun yang dia dengan adalah suara Rudolf.

"Rasa sakit di dadamu... bukankah rasa itu terasa lebih sakit sekarang? Akan aku beritahu... itu... rasa sakit itu... rasa sakit itu adalah rasa sakit karena telah dikhianati." (Rudolf)

Bohong. Bohong. Apapun ini pasti ada kesalahan.

Eveam terus mengulang kalimat itu di dalam pikirannya. Dia mengerti rasa sakit itu setelah mengalaminya. Dan kenyataan yang lebih menyakitkan baginya adalah Kiria yang berdiri di sebelah Rudolf.

"Ke... na... pa... Kiria...?" (Eveam)

Walaupun dia kehilangan banyak darah, Eveam tetap melihat orang yang telah bersamanya bertahun-tahun itu dengan perasaan tidak percaya.

"A... Apakah... mereka... menggunakan... kelemahanmu...?" (Eveam)

Eveam memikirkan hal naif itu. Dan dia memusatkan amarahnya yang sudah maksimal ke arah Rudolf.

Namun Kiria tidak menjawab. Kiria yang itu berbeda dengan Kiria yang ia kenal. Dia melihat Evam dengan dingin seakan melihat serangga yang sedang merayap di tanah.

"Tuan Putri, lihatlah kenyataan. Dia... Kiria adalah pengkhianat." (Aquinas)

Eveam tersentak oleh kalimat Aquinas yang diucapkan dengan nada biasa itu.

"Bohong! Ini tidak bisa dipercaya! Dia... Kiria sudah bersamaku sejak kecil. Dia selalu di sisiku... kita teman! Benar kan, Kiria?!" (Eveam)

Suara Eveam terdengar putus asa. Lalu, Kiria yang sejak tadi diam, mulai membuka mulutnya.

"Apa kau berbicara tentangku? Kupikir kau salah. Aku diciptakan demi hari ini." (Kiria)

Kiria mengatakannya dengan datar. Wajah Eveam mengkerut karena kalimat yang tidak bisa dipahami itu.

Konjiki no Wordmaster - Arc 3: Perang Antar RasBaca cerita ini secara GRATIS!