"In my dreams you're with me, We'll be everything I want us to be."

-Aluna Amanda Nindiatama-


***



"Nakula!! tungguin ih!" panggil Aluna yang berjalan dengan susah payah mengikuti Nakula, "kaki gue masih sakit nih, jangan cepet-cepet jalannya!"

Yang di panggil tidak menghiraukan, dengan santainya cowok itu berjalan begitu saja tanpa menghiraukan gadis malang yang susah payah mengejarnya itu.

Kambuh lagi kan diemnya. Batin Aluna kesal.

"Nakula, ih!" Aluna menghentikan langkahnya, ia menautkan kedua alisnya dan mengkerucutkan bibirnya menatap Nakula, "lo masih marah?"

Nakula menghentikan langkahnya. Cowok itu diam untuk sesaat dengan kepala menyerong ke kanan.


FLASHBACK ON

Nakula mengernyit, cowok itu perlahan membuka kedua matanya. Ia melihat sekelilingnya dengan nyawa yang masih belum terkumpul, kemudian pandangannya terjatuh pada sosok gadis yang sedang tertidur pulas di leher kanannya.

Nakula tersenyum, untuk sesaat ia merasa ingin sekali menarik hidung Aluna yang kecil itu. Entah bagaimana perasaan itu muncul begitu saja, Nakula memang sudah merasakan perasaan ini sejak lama, lebih tepatnya pada saat Aluna tidak sengaja mencium pipinya, namun ia berusaha untuk selalu memungkiri apa yang ia rasakan pada Aluna.

Namun kali ini ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri, ia tidak bisa menolak perasaannya lagi kalau sebenarnya ia mulai menyukai Aluna, walaupun terkadang gadis itu sangat merepotkan dan menyusahkannya.

Matanya bekedut kecil, Aluna menghela napasya dan menggerakan kepalanya yang sedikit pegal, perlahan gadis itu membuka matanya dan mendapati Nakula sudah bangun sambil menatap dirinya.

"Nakula?" ucap Aluna setengah sadar, "Udah bangun?"

Nakula hanya diam, ia terus saja memberikan senyuman manisnya pada Aluna. Aluna ingin mengucak matanya untuk memastikan apakah yang ia lihat benar-benar Nakula atau bukan, namun tangannya yang terjepit pelukan Nakula membuatnya susah untuk bergerak.

"Lo beneran Nakula kan?" tanya Aluna mengernyit.

"Aluna," ucap Nakula, "gue mau lo dengerin sesuatu."

"Sesuatu? Sesuatu apa?"

"Dengerin baik baik."

Jantung Aluna berdegup kencang walaupun masih belum sepenuhnya sadar, batinnya terus bertanya ucapan apa yang ingin Nakula katakan padanya sampai ia harus mendengarkannya baik-baik.

Nakula memejamkan matanya, kedua alisnya sedikit menaut, ia juga sedikit mengangkat kaki kirinya. Aluna memperhatikan wajahnya dengan sangat serius, dan kemudian.

BRET.

Aluna membulatkan mata terkejut.

"Duh.." ucap Nakula sambil tersenyum, "lega."

"JOROK!" seru Aluna memberontak sambil menutup hidungnya, berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Nakula, "LO BUANG ANGIN SEMBARANGAN! GAK MALU APA?!"

Nakula terkekeh, sementara Aluna semakin memberontak.

"Bau gak?"

Aluna tidak menjawab, ia mengernyit kesal.

SENIORBaca cerita ini secara GRATIS!