#1 : Dear Allah, Why Him?

561K 24.6K 2.3K
                                    

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Tali iman yang kuat adalah Cinta karena Allah dan Benci karena Allah
(Anonim)

°°°

"Dear Allah, Why Him?"

🍁


°°°


Kalau dipikir hidup itu singkat, seperti baru kemarin aku jadi bullyan kegiatan ospek, sekarang sudah jadi pengisi acara. Benar kata mereka, bahwa waktu itu terus berjalan, umur semakin berkurang, dan dosa semakin bertambah.

Melihat maba berseragam putih hitam dengan dasi hitam itu menyenangkan, generasi baru telah datang dan akan meneruskan generasi lama. Tapi, melihat kedua kalinya ke barisan hitam putih itu aku merasa kasihan, jalan yang mereka tapak baru anak tangga pertama, mereka bakal melewati waktu dimana kehidupan bangku kuliah itu sangat menyengsarakan. Waktu di mana mereka akan merasa putus asa hanya karena dosen tidak memberi tanda tangan.

Ah, aku bernapas panjang. Alhamdulillah, berkat kekuatan dari Allah, aku bisa wisuda dan mendalam gelar Sarjana Keperawatan. Di mana, tahun yang paling berat ketika di semester tiga telah terlewati.

"Mbak Nai, beritahu Dokter Wildan kalau peserta sudah siap diberi materi." kata Dara, time keeper acara ospek Fakultas Keperawatan.

"Oke, Dek." jawabku seraya menutup buku materi yang aku sampaikan setelah Wildan memberi materi. Kakiku langsung berjalan cepat ke arah ruang Himpunan Mahasiswa, tempat dimana Wildan kini berada.

"Assalamualaikum.."

Aku membuka knop pintu dengan perlahan sambil menyeimbangkan detak jatungku yang berdetak tak keruan saat akan berhadapan dengan kaum Adam satu ini. Irama napasku sedikit memburu tapi aku berhasil menetralkan dengan beberapakali bacaan Bismillah. Ku sapu ruangan bernuansa abu-abu itu dan ku dapati sosok pria yang ku cari itu tengah duduk di atas sajadahnya.

"Allahu Akbar!" dia duduk diantara dua sujud.

Aku memandanginya penuh kagum. Di tengah kesibukannya sebagai Dokter sekaligus pembicara, tapi masih sempatnya dia sholat dhuha dengan khusyuknya. Masyaallah...

Aku kembali melangkahkan kakiku mendekatinya setelah ku dengar dua salam pertanda sholat sudah selesai.

"Assalamulaikum, Dokter Wildan." ucapku.

"Walaikumsalam." jawabnya sambil merapihkan sajadahnya.

"Laporan dari time keeper kalau pemberian materi ospek sudah bisa di mulai." laporku.

Ujung rambutnya yang basah karena air wudlu membuatku menelan air liur sejenak. Sungguh, syetan ramai- ramai membisikiku untuk terus memandanginya. Astagfiruallah..

Seketika aku menundukkan kepala menatap lantai putih dan membuyarkan khayalanku tentang Wildan.

Puk!

Astagah! Wildan seenak jidatnya menipuk keningku sambil berjalan berlalu begitu saja.

"Lapin tuh keringet, jelek banget keringetan gitu." celetuknya sebelum hilang dibalik pintu.

[DSS 1] Dear Allah Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang