8

16.5K 915 2

Seorang wanita paruh baya melihat seorang gadis sedang menangis di pinggir jalan sendirian. Wanita itu memarkirkan mobilnya di pekarangan rumahnya dan segera menghampiri gadis itu.

"Hei, apa yang sedang kau lakukan di sini, nak?"

Carissa mendongak dan melihat seorang wanita paruh baya berambut coklat, menghampirinya.

"Dimana rumahmu nak? Biar saya antar."

Carissa menggeleng, "Aku baru saja kabur dari tempat tinggalku." jawabnya dengan terisak-isak.

"Sekarang sudah tengah malam dan cuaca semakin dingin, mau singgah di rumahku dulu?" tawar wanita itu. "Namaku Andrea Kingsley. Siapa namamu nak?" wanita itu memperkenalkan dirinya.

"Na-namaku Carissa." Carissa tampak gugup.

Andrea tersenyum. Ia memberi tangannya, berniat membantu Carissa berdiri. "Tidak perlu takut. Aku warga di sini, rumahku di depan sana."

Carissa menerima uluran tangan itu dan berdiri. Andrea menuntunnya ke rumah wanita itu.

Setelah masuk ke dalam rumah Andrea, Carissa langsung merasakan hawa hangat di ruangan itu. "Mrs. Kingsley, apakah kau tinggal sendiri?" tanya Carissa sopan, setelah ia melihat seisi rumah sepi.

"Oh, jangan memanggilku seperti itu. Just call me Andrea. Aku tinggal sendiri dan tidak memiliki keluarga. Mari aku antar ke kamarmu."

Carissa menangguk lalu mengikuti Andrea. "Terimakasih banyak, Andrea. Aku tidak tahu bagaimana caranya membalas kebaikanmu." ucap Carissa setelah mereka masuk ke sebuah kamar minimalis dan sederhana.

Andrea tersenyum dan mengagumi cara bicara Carissa yang sopan dan logat britishnya. "Hei, kau tidak perlu memikirkan itu. Anggaplah ini sebagai rumahmu sendiri dan istirahatlah. Apa kau ingin memakan sesuatu?"

Carissa menggeleng dan tersenyum, "tidak Andrea, sepertinya aku ingin istirahat dulu, terimakasih."

"Ok. Istirahatlah, good night."

"Good night"

***

Seminggu telah berlalu, Andrea begitu baik pada Carissa. Wanita itu selalu membuatkannya sarapan setiap pagi seperti seorang ibu yang biasa lakukan. Andrea juga memberikannya baju-baju yang cantik dan manis untuknya. Setiap hari Andrea pergi ke kantor dan tidak lupa membawa makanan setelah pulang dan makan bersama-sama.

Sekarang hari libur, Carissa duduk di ruang tengah sembari memakan cemilannya. Ia tersenyum melihat Andrea yang ikut duduk bersamanya. "Ada yang ingin aku katakan padamu tentang kehidupanku yang lama. Sudah seminggu lebih aku tinggal di sini dan aku sudah menganggapmu sebagai ibuku."

"Aku senang kau menganggapku seperti itu. Aku juga sudah menganggapmu sebagai putriku. Jika memang kau sudah siap untuk menceritakannya, aku akan mendengarkannya." ucap Andrea tulus sembari mengusap rambut Carissa dengan lembut. "Kau mengingatkanku pada putriku."

Carissa menatap Andrea prihatin sekaligus bingung. Ia sedikit terkejut dengan apa yang barusan dikatakan Andrea, karena wanita itu belum pernah menceritakan tentang keluarganya sebelumnya.

"Grace. Grace Stecy Kingsley. Ia telah meninggal lima tahun yang lalu. Ia mengalami kecelakaan saat pulang dari pesta ulang tahun temannya dan meninggal di tempat." Andrea mulai menangis.

"Lalu bagaimana dengan ayahnya?"

"Suamiku sudah meninggal semenjak Grace masil kecil dan aku hanya memiliki Grace satu-satunya pada saat itu. Tapi, Tuhan berkehendak lain, putriku meninggal di waktu yang masih muda dan aku tidak memiliki siapa-siapa lagi. Aku meninggalkan pekerjaanku sebagai polisi tanpa alasan. Aku hanya ingin memulai hidup yang baru dan berusaha bangkit. Lalu aku menemukanmu." Andrea mengusap wajah Carissa dengan penuh kasih sayang.

"Aku turut berduka atas kepergian putrimu."

Andrea mengusap air matanya, "Terimakasih, Carissa. Seharusnya aku yang mendengar ceritamu terlebih dahulu," ucap Andrea dan terkekeh.

Carissa menggeleng, "tidak pa-pa, Aku akan menceritakannya sekarang.", "Aku kabur dari rumah bukan tanpa alasan. Aku kabur dari rumah pada saat hari pernikahanku.."

Andrea sedikit terkejut mendengar gadis yang masih sangat muda seperti Carissa hendak menikah. Ia tetap diam, mendengar penjelasan Carissa selanjutnya.

"Aku adalah gadis yang belum pernah merasakan seperti apa itu dunia luar. Sejak lahir aku selalu dikekang oleh kedua orangtuaku." Carissa menghela napas sejenak, "Aku ingin merasakan bagaimana kehidupan luar itu. Namun, orangtuaku mengatakan bahwa aku bisa merasakannya setelah aku menikah nanti. Kau tahu? Siapa yang mau nikah dengan orang yang baru kau kenal? Itu tidak masuk akal. Aku tidak menyukai Varrel dan aku kabur di hari pernikahan sampai aku bertemu.." Maxim.

"untuk yang ini aku masih belum bisa menceritakannya maaf," ucap Carissa kecewa. Ia jadi teringat kejadian seminggu yang lalu, dimana Maxim meninggalkannya.

Andrea menggeleng, "kamu tidak perlu minta maaf sayang, kau bisa mengatakannya jika kau siap," ucapnya dengan tersenyum sembari mengusap punggung Carissa.

Carissa mengangguk lalu menyandarkan kepalanya pada bahu Andrea. Carissa sangat beruntung bisa bertemu Andrea. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika ia benar-benar tidak diperdulikan oleh siapa pun.

***

Sebuah villa mewah yang cukup jauh dari kota, seorang lelaki sedang duduk menikmati kopinya. Ia melihat beberapa foto seorang gadis di layar laptopnya. Gadis itu sangat cantik dan terlihat sangat bahagia di foto itu membuat hati lelaki itu merasa tenang. Lelaki itu adalah Maxim. Ia memantau Carissa setiap hari, melalui anak buahnya.

Maxim merasa lega. Walaupun, ia melepaskan Carissa, setidaknya gadis itu tenang dan mendapatkan apa yang ia inginkan. Semoga ini adalah cara yang terbaik. Besok ia tidak lagi di Seattle. Maxim harus kembali ke Inggris dan berusaha meluruskan sesuatu. Ia sudah mencari cara agar Varrel tidak mencurigainya lagi.

***

Next?

IG: capricorn_rere

MY MYSTERIOUS BODYGUARDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang