Pengakuan Kunti

987 83 4

Sebelumnya, Author mau minta maaf karena minggu lalu sinyal sangat parah T___T #NangisKejer

Maunya update tapi rupanya sinyal lagi cari perkara. Huhuhuuuu T___T

Mohon maaf buat komen yang belum sempat dibalas. Beneran stress banget saya T___T

Sebagai catatan, Author membuat cerita ini berdasarkan pakem cerita India. Jadi tidak ada hubungannya dengan pewayangan.

Terima kasih :)

*

Perkataan Dewa Surya membuatku putus asa. Tanpa menunggu Karna bangun, aku berlari ke istana Kunti. Aku menerobos penjaga dan dayang yang menjaga. Kunti tampak kaget melihat kehadiranku. Namun dia memberi tanda untuk mengizinkanku masuk.

"Bicaralah, Vrushali. Apa yang ingin kau sampaikan hingga kau melanggar tata krama istana?"

Ucapan Kunti seakan mengejekku. Aku melihat Subadra, istri kedua Arjuna sedang ada di sana bersama Abimanyu, putranya. Sikapku pasti terlihat gila bagi mereka, tetapi dengan segera aku mengatupkan tanganku, menangis dan memohon kepada Kunti.

"Ratu Kunti, anda adalah Ratu yang baik dan bijaksana," kataku dengan suara pecah dan serak, "Anda adalah ibu dari lima putra yang hebat. Sakti mandraguna..."

Dengan cepat, aku menceritakan keadaan yang menimpa Karna. Aku menceritakan bagaimana Dewa Indra datang menyamar untuk meminta kawach dan kundalnya.

"Ini seharusnya tidak ada urusannya dengan nenek," sergah Abimanyu.

Alih-alih mendebat Abimanyu, aku melanjutkan permohonanku, "Jika anda mengasihi Hastinapura, mengasihi Indraprasta, mengasihi putra-putra anda, tidakkah anda menaruh belas kasihan kepada seorang seorang putra lagi?" aku menyusut air mataku yang semakin membanjir, "Ratu Kunti, Tuanku Karna menjadi seorang sutaputra karena yang memungutnya di sungai adalah keluarga suta. Dia tidak tahu karma apa yang membuatnya dilahirkan di wangsa yang rendah..."

Semakin aku berbicara, semakin Kunti meremas sarinya. Ketakutan, cemas, kasihan, sedih, semua perasaan itu berubah bagai awan yang mulai menggulung di wajahnya.

"Ratu Kunti. Saya tahu, saat anda pertama kali melihat Tuanku Karna, anda pingsan. Apakah anda masih ingin mengingkari? "

Subadra dan Abimanyu tampak kaget mendengar pertanyaanku. Mereka berdua berpandangan, lalu memandang Kunti sejenak sebelum ganti memandangku.

"Hal sebenarnya mengenai Tuanku Karna, tentu hanya Ratu Kunti yang tahu," kataku masih terisak-isak, "Dan tentang bagaimana duka ini akan ditanggung, Ratu juga yang tahu."

Tangisan Kunti meledak saat itu. Dia terisak-isak di pelukan Subadra. Abimanyu memandangku dengan bingung. Ingin marah, namun dilarang Subadra.

"Apa maksud perkataanmu itu, Vrushali?" kata Subadra, "Kalau kau ingin menyakiti Ibu Mertua, bukan begini caranya."

"Tidak, Putri, saya sama sekali tidak berniat menyakiti Ratu Kunti," aku menggeleng masih membawa tangisku, "Saya hanya ingin membagi duka saya dan duka suami saya."

Aku mengatupkan tangan lagi, "Tuanku Karna, setiap hari memuja Dewa Surya, dia mengatakan ada perasaan aneh yang membuatnya terikat dengan matahari. Dia senang saat sinar matahari menyentuh kulitnya..."

"Kalaupun kau mengatakan hal itu tidak akan ada yang percaya, Vrushali."

Itu suara Karna. Aku terkejut saat melihat Karna telah berdiri di depan pintu. Lukanya telah sembuh total. Pandangannya saat itu gamang, aku benci kekosongan yang ada di dalam manik mata itu.

"Orang akan tertawa jika aku menyebut diriku Suryaputra, Vrushali," Karna berkata dengan nada datar, "Dan mereka akan makin tertawa jika aku mengatakan aku juga Kaunteya (putra Kunti)."

Baik aku, Subadra, Abimanyu, dan Kunti terkejut saat mendengar pernyataan Karna itu.

"Sri Krisna pernah datang mencariku," Karna menelan ludah, pandangannya kali ini tertuju pada Kunti, "Dia mengatakan, jika aku berpihak pada Pandawa, maka tahta akan menjadi milikku. Karena aku... adalah saudara tertua mereka."

Subadra memekik tanpa suara. Wajah Kunti semakin pucat mendengar perkataan Karna itu. Aku tak sempat bereaksi, karena saat itu Karna langsung menyambar tanganku. Mengajakku pergi dari istana Kunti.

*

Cerita ini cukup menguras emosi saat menulisnya T___T

Semoga suka.

Oya, mohon doanya karena author mau ikutan #WAWA2017 :) Hehehe

*

#StopPlagiarism

Author Putfel


Legenda Negeri Bharata [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang