Closer II

316 47 20

Joon Gi mengerjapkan matanya pelan, akhirnya Ia menyerah dengan niatnya untuk memperlama tidurnya dikarenakan paparan sinar matahari yang entah sudah berapa lama menyinari wajahnya. Perlahan mata elang miliknya terbuka sempurna, menyuguhi pemandangan langit-langit kamarnya yang berwarna putih mutiara.

" Akh", Joon Gi meringis kecil ketika Ia mencoba bangun dari posisinya. Reflek Ia mengangkat tangan untuk menyentuh kepalanya, tempat rasa sakit itu berasal. Namun saat itu juga, sesuatu yang berada di genggamannya yang tidak Ia sadari ikut tertarik pelan.

Joon Gi tersentak dan sedikit terperangah ketika melihat tangan mungil itu berada di dalam genggamannya. Matanya menatap dan menyusuri tangan mungil yang masih berada di genggamannya dan tak butuh waktu lama hingga Ia melihat tubuh mungil wanita itu bersandar di tepi tempat tidurnya. Ya, tentu saja wanita itu juga berada di sana, akan menjadi sesuatu yang horor kalau hanya ada tangan mungil wanita itu di genggamannya tanpa ada tubuh utuh wanita tersebut.

" Kheh ", Joon Gi terkekeh pelan mentertawakan kebodohahannya sendiri. Tapi tunggu.. Bukankah ada hal lain yang seharusnya Ia pikirkan? Misalnya mengapa wanita mungil itu berada di kamarnya? Bagaimana bisa mereka bergenggaman tangan? Kenapa wanita itu bisa sampai tertidur di tepi tempat tidurnya? Dan apa yang sebenarnya telah terjadi?

Joon Gi PoV

Keningku mengernyit, mencoba menelusuri labirin ingatanku semalam yang kabur bagaikan tertutup kabut.

" Joo Hyuk-ah, Nan... Michigetda "

" Ingat hyung! Tunggu di sini jangan kemana-mana "

" YAAK JOON GI-SSI!!! KAU INGIN MATI YA?! "

" Kka! Pergi saja! Tinggalkan saja aku seperti apa yang wanita itu lakukan! Tinggalkan.... "

Bagaikan potongan film pendek, ingatan kemarin malam berputar di otakku. Rahangku sedikit terbuka dan menggantung, tak percaya dengan kilas balik yang baru saja terjadi.

" Aniya.. ", desisku sambil menggeleng pelan. Aku mulai menyangkal semua ingatan yang masuk menyergap setiap inci otakku.

" Kajima... Kajimaseyo.. Kajimarago.. Jebal kajima "

" Uljima... "

" Andwe! Kau tidak boleh pergi! Kajima! "

Potongan ingatan lainnya yang baru saja terputar di otakku membuatku tertegun. Membuat lidahku kelu dengan rasa malu yang mulai muncul dan mengoyak harga diri. Bahkan memaki diri sendiri saja rasanya tidak cukup untuk menutupi rasa malu tersebut.

 Bahkan memaki diri sendiri saja rasanya tidak cukup untuk menutupi rasa malu tersebut

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kutatap lagi wanita mungil yang saat ini masih terpejam damai di sisi tempat tidurku. Melihat wajahnya membuatku mengingat kejadian semalam dimana Ia menepuk-nepuk pelan punggungku berusaha untuk menenangkanku. Cukup lama aku memperhatikan wajahnya yang membuatku sadar betapa indah wajah itu. Dari awal aku memang mengetahui kalau wajahnya tidak buruk, namun kali ini sesuatu bagaikan membuka lebar mataku dan membuatku sadar kalau wajah wanita mungil di hadapanku ini bukan hanya sekedar tidak buruk namun sangat cantik. Aku juga baru saja menyadari betapa cantik kulit putih meronanya dan bibir mungil merahnya, bahkan saat mata bulat miliknya terpejam seperti sekarang. Tanpa sadar aku melepaskan genggaman tanganku padanya dan menuntun tangan tersebut untuk menyentuh pipinya. Tapi hal itu tidak jadi kulakukan karena sesaat sebelum tanganku menyentuhnya, mata bulat itu mengerjap-ngerjap dan mulai terbuka sempurna, menatapku dengan penuh tanda tanya.

Your Handsome BastardTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang