Bagian Dua Puluh Lima

1.9K 285 218

Girls shouldn't be hit, not even with a flower.

-anonim
____________

Hujan turun dengan lebat. Sayangnya, di kantin rumah sakit Nintomo, air conditioner justru dipacu dengan jor-joran.

Aku yang duduk di tepian jendela tepat pada lantai tiga, telah berulang kali mengusap bagian kulitku yang terasa agak membeku sambil sesekali mengamati awan pekat yang menggantung di luar sana.

"Kenapa?" Suara berat Gusta menyela kegiatan menelitiku.

Melepaskan objek yang sedari tadi menjadi perhatianku. Aku termenung sejenak sebelum berujar, "Kira-kira hujannya bakal berhenti apa nggak?"

Sudah lebih dari tiga jam, aku juga Gusta terjebak di rumah sakit. Pasca selesai konsultasi dan keluar dari ruang praktik dokter Fema, guyuran hujan di sore ini tampak tak tertarik untuk berhenti.

Melirikan pandangannya ke sekeliling tempat kami berdiam, Gusta lalu berkata, "Dilihat dari mendungnya sih kayaknya bakal sulit berhenti. Tapi, kalau emang dalam lima belas menit situasinya begini terus. Nanti aku pesankan taksi saja yah?"

"Kamu ikut naik taksi?" tanyaku seolah melupakan bahwa kami datang ke Nintomo bermodalkan sebuah sepeda motor.

"Boleh saja aku tetap naik motor. Asal kamu janji, kalau aku sakit kamu mesti tanggung jawab."

"Ish!" desisku tak puas seraya kembali mencicit, "jangan sakit."

"Pasti. Yang penting kamu juga wajib berusaha untuk tetap sehat."

Dan aku hanya mampu membalasnya dengan dengusan ringan.

"Ta?" Aku memanggilnya lirih. Bahkan bunyi percakapan di sekitar kami terang lebih nyaring gaungnya.

"Hm?" Gusta menyahut tenang.

Menghela napas diam-diam, aku bersusah payah untuk berani berujar, "A-aku udah melupakan banyak hal."

Gusta praktis menantapku bersama sorot yang kaya akan perhatian. Meski demikian, dia memilih untuk tak berkata apa-apa. Di mana maksudnya, Gusta ingin aku lebih banyak terbuka padanya.

"Begitu banyak kenangan, hilang. Ada yang tanpa bekas, ada yang samar-samar."

Sejarah buruk dari masa lalu, belakangan dengan usaha yang teramat mati-matian sanggup kukubur dalam-dalam. Meskipun, pada saat-saat tertentu mereka kadang kerap menyelinap demi menggentayangiku.

Bahkan di masa-masa tertentu, tubuhku juga masih cukup sering diterjang oleh nyeri tanpa alasan yang pasti. Jelasnya, aku telah mengorbankan diriku di masa lalu supaya dapat terlahir kembali. Dan melalui setemupuk fase itu, sama sekali tidak mudah.

"Di titik ini, tiba-tiba aku jadi nggak percaya, Ta. Apakah ada orang yang bisa bertahan hidup tanpa masa lalunya?" ungkapku pada akhirnya.

"Me?"

"Jujur, kadang aku ingin tahu hal penting apa sebenarnya yang udah kulupakan? Tapi, sewaktu aku coba buat ingat ulang, mendadak aku ngerasa takut. Aku takut sakit itu bakalan datang lagi, Ta."

Aku memandang Gusta, kekasihku tepat di manik matanya yang sehitam malam. Sementara dia, dengan sigap langsung menggenggam sebelah telapak tanganku yang tertumpu di atas meja.

"Kamu udah melakukan hal yang benar, Me. Kenapa memangnya kalau kamu kehilangan satu tahun atau bahkan sepuluh tahun dari kenangan kamu?

"Di sini, bersamaku ayo kita buat memori lain. Ayo, kita jalani hari-hari yang menyenangkan. Denganku, ayo kita bahagia, hm?"

[1] Wedding Mate ( COMPLETED ) Baca cerita ini secara GRATIS!