Twenty One

5.6K 234 7

Fienna pun jatuh tertidur. Kepalanya bersandar pada kursi pesawat. Lama-kelamaan kepala Fienna semakin miring ke kiri dan hendak terbentur dinding pesawat. Sebelum itu terjadi, Alfredo dengan sigap menahan kepala Fienna lalu membiarkan kepala Fienna bersandar di bahunya.

"Can we start again, Fi?" Gumam Alfredo pelan.

******

"Maybe." Jawab Fienna dengan suara lirih.

Alfredo terlonjak kaget. Ia mengira Fienna tidak mendengar.

"Lo denger, Fi?" Tanya Alfredo dengan mata yang membesar.

Fienna mengulaskan senyumnya,"Gue belum sepenuhnya tidur. Gue masih denger pas lo ngomong itu."

Alfredo menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal,"Jadi kita bisa mulai lagi, Fi?"

Fienna menyandarkan kepalanya di dada Alfredo dan merangkulkan tangannya di tengkuk cowok itu. Lalu, perlahan Fienna menciumi rahang Alfredo yang tegas dan berkarakter itu.

"Hmpph , Fi. . Jangan disini." Kata Alfredo dengan napas memburu.

"Kenapa? Gue cuma mau coba. Kita kan udah lama gak pernah. ." Ucap Fienna dengan gaya kenes nya.

Alfredo mengeraskan rahangnya,"Fi, please. . Kita lagi di pesawat. Nanti aja ya pas udah di hotel."

"Gue maunya sekarang." Kata Fienna.

Alfredo menghembuskan napasnya kasar. Dia tau benar bahwa Fienna berniat menyiksanya lagi. Alfredo mengalihkan pandangannya. Dia menutup matanya dan menahan hasratnya yang menggebu-gebu.

"Biarlah gue nahan sekarang, ntar kan pas sampe hotel bisa bebas gue." Pikir Alfredo.

Setelah melihat napas memburu Alfredo, Fienna akhirnya merasa kasihan dan berhenti menggoda Alfredo. Fienna kembali di tempat duduknya. Tapi, ia tetap meminjam bahu Alfredo untuk bersandar.

"Al." Panggil Fienna.

"Kenapa, Fi?"

"Pas lo ketemu gue sama Robert di restoran waktu itu, apa yang lo pikirin?" Tanya Fienna.

"Gue saat itu bener bener mikir kalo lo udah lupain gue. Pas itu gue sempet pengen nyerah dan ninggalin lo. Tapi ternyata kelanjutannya diluar perkiraan gue. Ternyata itu semua jebakan dari Robert. Untung aja gue gak ketipu." Jelas Alfredo.

Fienna mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia menjadi kembali mengantuk. Dia memejamkan matanya rapat dan tertidur pulas. Tetapi kali ini, Alfredo juga ikut tertidur bersama Fienna. Mereka menghabiskan sisa waktu perjalanan mereka dengan tertidur.

Empat jam kemudian. . . . .

Mereka tiba di Toronto Pearson International Airport Kanada. Suasana bandara saat itu sangat ramai. Hal itu tidak mengejutkan karena bandara Toronto dinyatakan sebagai bandara tersibuk di Kanada dengan 38,571,961 penumpang per tahun. Tidak heran jika bandara itu begitu ramai dan banyak orang yang berlalu-lalang.

Fienna dan Alfredo mengambil barang mereka dan masuk ke dalam taksi. Mereka melalui perjalanan menuju hotel mereka selama satu jam. Walaupun letak hotel itu cukup jauh dari Toronto Pearson International Airport, tetapi letak hotel itu cukup dekat dengan penginapan orangtua Alfredo.

Setelah sampai di hotel. Alfredo dan Fienna masuk ke kamar. Mereka hanya memesan satu kamar hotel sehingga mau tidak mau mereka berada di kamar yang sama. Tetapi jangan salah, mereka tetap tidur terpisah karena di kamar itu ada double bed. Fienna yang masih jet lag langsung membanting badannya ke ranjang tanpa mengganti baju. Ia benar-benar merasa lelah setelah melalui perjalanan panjang di pesawat.

"Fi, gak ganti baju dulu?" Tanya Alfredo.

"Gak." Jawab Fienna sambil memejamkan mata.

Lalu, Fienna lagi-lagi jatuh tertidur. Sebenarnya, Fienna juga merasa tidak nyaman dengan baju yang dipakainya karena baju itu sudah dipakainya sejak dalam perjalanan di pesawat. Tetapi, karena dia sudah terlalu lelah untuk mengganti bajunya akhirnya dia menyerah dan lebih memilih untuk beristirahat.

Alfredo menatap Fienna yang sedang tidur. Alfredo yakin Fienna pasti tidak nyaman dalam tidurnya dengan memakai jaket, kemeja dan jeans. Oleh karena itu, Alfredo berinisiatif untuk menggantikan Fienna baju sewaktu cewek itu sedang tidur.

Pertama, Alfredo membuka koper milik Fienna. Lalu, Alfredo memilih sebuah kaos tipis  berbahan katun yang nyaman untuk dipakai, serta celana pendek dari antara tumpukan baju itu. Kemudian, Alfredo mendekati ranjang Fienna dan dengan hati-hati membuka jaket, kemeja, dan jeans yang dipakai Fienna.

Saat melihat Fienna yang hanya dibalut kain yang minim saat itu, sesungguhnya Alfredo merasa hasratnya saat di pesawat kembali merajalela dan menguasai pikirannya. Namun, Alfredo berusaha mengabaikan itu dan pura-pura tidak melihat. Setelah semuanya berhasil dilepas, Alfredo memasangkan kaos dan celana pendek hasil pilihannya pada Fienna.

Dalam tidurnya, Fienna tidak sadar apa yang dilakukan Alfredo padanya. Fienna hanya merasa bahwa tubuhnya yang tadinya terasa gerah dan tidak nyaman berubah menjadi lebih lega seakan sesuatu yang mengganjalnya telah dilepas.
Kemudian, Alfredo membereskan koper dan menata beberapa barang bawaan mereka dengan rapi.

Setelah selesai, Alfredo duduk di pinggir ranjang Fienna memandang gadis itu yang sedang tertidur pulas. Melihat wajah Fienna yang polos seperti bayi kadang Alfredo merasa berdosa. Jika Fienna tidak bertemu dengannya dan bergaul dengannya pasti cewek itu tidak akan mengikuti tingkah bejatnya seperti sekarang. Ingatan Alfredo langsung terlempar di saat peristiwa di pesawat dimana Fienna menggodanya. Rasanya ia tidak pernah mengajari Fienna seperti itu.

Sepanjang malam, Alfredo duduk memandang Fienna tertidur. Rasanya ia tidak akan bosan melihat wajah cewek itu saat tertidur. Ekspresinya antara innocent, imut, dan sensual. Saking asyiknya memandang Fienna, Alfredo tidak sadar jika jam telah telah menunjukkan pukul 2 pagi.

Keesokan harinya. .

Saat Fienna terbangun dari tidurnya, ia merasa sangat segar karena kemarin tidurnya sangat nyenyak. Di dalam hati, Fienna merasa bersalah pada Alfredo karena begitu sampai hotel dia langsung seenaknya meninggalkan Alfredo tidur tanpa membantu menata dan membereskan barang-barang mereka. Apalagi sekarang, dia melihat Semuanya sudah diletakkan di tempat yang seharusnya oleh Alfredo.

Fienna mengucek matanya beberapa kali dan melebarkan matanya yang masih merasakan efek-efek baru bangun tidur. Dia melihat koper miliknya terbuka, namun Fienna tidak ambil pusing. Mungkin kemarin Alfredo iseng membukanya.

Fienna bangkit dari ranjangnya dan menuju kamar mandi hotel. Dia mencuci muka dan menyikat giginya. Setelah ia merasa sudah benar-benar terbangun, Fienna memutuskan untuk mandi. Jika dia belum sepenuhnya bangun dari tidurnya lalu mandi dan tenggelam di bath tub kan bahaya.

Fienna melepaskan kaos yang melekat di badannya dan celana pendek itu. Lalu masuk ke bath tub yang telah diisi air hangat. Di dalam bath tub, Fienna berpikir, "Perasaan kemaren gue lupa ganti baju deh."

Setelah itu, Fienna mengingat-ingat kejadian kemarin setelah dia sampai di kamar hotel. Ia benar-benar ingat jika dia masih memakai baju yang dipakainya saat perjalanan. Tapi kenapa dia hanya mengenakan kaos tipis dan celana pendek sekarang?

Tiba-tiba, Fienna tersadar. Tadi dia melihat kopernya yang terbuka, dan baju yang dikenakannya berubah. Alfredo mengganti pakaiannya, tidak salah lagi!

Fienna menutup wajahnya dengan tangan. Dia tau jika Alfredo sudah berkali-kali melihat tubuhnya saat melakukan "itu" tapi bukan berarti dia bisa seenaknya mengganti pakaiannya.

"ALFREDOOO!" Pekik Fienna dari dalam kamar mandi.

TBC

Maaf rada lama update. .😫😫
Hope you like this part
Sorry for typo

Thx for reading
😘😍😘😘😘😘😘😘😘😘

My Wild BoyBaca cerita ini secara GRATIS!