🍁 D U A 🍁

1.1M 71.7K 6.1K
                                    

"Nyil, bangun, Nyil!" Arthur menggoyang-goyangkan badan Kinzy yang masih tertidur pulas.

Kinzy menggerakkan badannya sekilas. Arthur sempat mengira bahwa Kinzy akan bangun. Tapi sayangnya Kinzy malah semakin menarik selimutnya.

"Nyil, bangun." Arthur masih berusaha membangunkan Kinzy dengan lembut.

"Hmm," Kinzy hanya menjawabnya dengan gumaman asal dan semakin mengeratkan pelukannya pada bantal guling. "Kebo banget sih!" Gerutu Arthur kesal.

Arthur berjalan kekamar mandi. Ia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu lalu nanti tinggal menyusun barang untuk dibawa keapartemennya.

Lima belas menit berlalu, Arthur sudah selesai mandi dan memakai bajunya. Arthur kembali mencoba untuk membangunkan Kinzy.

Arthur mengusap-usap pundak Kinzy untuk menyuruhnya bangun. "Nyil, bangun elah. Lu mati apa gimana sih? Jan mati plis, gue belum siap jadi duda. Woi!"

Masa gue musti nyiram dia? Kasian. Ntar kalo gue siram, jantungan karna kedinginan, gue juga yang jadi duda. Arthur masih berpikir sambil duduk di pinggir kasur.

Jikalau Kinzy tak kunjung bangun sampai jam 12, itu sama sekali bukan suatu masalah bagi Arthur. Tetapi sekarang Arthur sudah sangat lapar. Masa iya Arthur ninggalin Kinzy sendirian di kamar, sedangkan ia makan enak disana? Lelaki macam apa itu?

Arthur bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah sofa yang ia tiduri tadi malam untuk mengambil ponselnya.

Sekarang rencana Arthur adalah membangunkan Kinzy dengan bantuan rekan setianya. Alarm.

Setelah mengatur alarm, Arthur kembali berjalan ke tempat tidur dan meletakkan ponselnya tepat di samping kepala Kinzy.

07.05

KRIIIIINGGGGGG!!!

BRAK!!!

Arthur mengedip-ngedipkan matanya mencoba mencerna apa yang barusan terjadi. Bolak-balik matanya menatap kedua objek itu. Istrinya dan sahabatnya.

Arthur mendekat ke arah sahabatnya. Ia mengambil sahabat pipihnya itu. Lalu mengelusnya dan menatap nanar. Ia membalikkan benda pipih itu dan hatinya semakin teriris ketika melihat bagian depan benda pipih itu sudah retak. Arthur menekan tombol aktif ponselnya dan syukurnya masih hidup.

"Ngapain disitu?" Arthur dapat mendengar suara serak yang berasal dari belakang.

Arthur mengambil napasnya sejenak untuk menetralkan emosinya. Lalu membalikkan badannya menghadap orang yang berbicara. "Nggak ada. Lagi nyari hape."

"Oh," setelah itu Kinzy bersiap untuk tidur kembali.

"Eh, eh, jangan tidur lagi." Cegah Arthur cepat sambil berjalan ke arah Kinzy.

Kinzy tidak mengikuti ucapan Arthur dan tetap bersiap untuk tidur kembali. Ketika hendak memejamkan matanya, Arthur buru-buru menarik tangan wanita itu hingga ia berhasil duduk dengan ogah-ogahan.

"Paan sih?!" Kinzy langsung menepis tangan Arthur yang masih menggenggam tangannya.

"Jangan tidur lagi! Sekarang lo bangkit cepetan, mandi. Terus kita makan. Gue dah lapar." Ucap Arthur cepat. Kalo udah masalah makan mah Arthur yang cepat.

"Yaudah sih, sana makan. Gue belum lapar." Kinzy balik merebahkan badannya dan berinisiatif untuk kembali tidur.

"Nyil, makan dong. Berasa kayak anak telantar nih gue."

"Kan udah gue bilang. Lo makan duluan!" Bentak Kinzy sambil memejamkan matanya.

"Maunya sih gitu. Tapi gue gak enak. Gue tau kok kalo lo itu sebenernya udah lapar. Cuma lo berusaha ngehindar dari gue 'kan?" Ucap Arthur blak-blakan.

Bad Boy Is A Good Papa [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang