"What is it that takes him so long?" gumam Domi kesal ketika Aldo tak juga kembali.

Carla menatap Domi dengan senyum miring. "Kau tak tahu apa saja yang mungkin terjadi saat si bodoh itu sedang mabuk."

Domi memutar tubuhnya menghadap Carla, ada sesuatu dari gadis itu yang tiba-tiba membuatnya tertarik.

"Kau tampak cukup dekat dengannya. Sama sekali tak mengkhawatirkannya?"

"Ia sudah besar, tak perlu diurus lagi. Kalau ia berulah, ia yang harus membereskannya sendiri."

"Bukan itu maksudku. Kau tak tahu ia hancur semenjak Mirinda menyelingkuhinya?"

Carla melirik Domi sebal. "Aku yang paling tahu. Saat itu sedang ada liga basket nasional, dan kebetulan aku dan dia sama-sama berada di tim inti, jadi aku nyaris bertemu dengannya setiap saat."

Domi menatap Carla bengong. "Kau.. apa? Memangnya kau ini cowok?"

"Bisa tidak kau hentikan diskriminasi gender-mu? Kau kira cuma cowok yang bertanding basket??" ucap Carla kesal.

Domi menatap Carla, tak mampu berkata-kata.

"..Okay, karena mulanya kukira..." Domi berhenti di tengah-tengah, tapi Carla sudah bisa menebak kelanjutannya.

"Kau kira aku cewek tulen? Maaf mengecewakanmu. Gaun dan tas ini saja hasil pinjaman dari adikku."

Domi terdiam sebentar, meresapi kata-kata Carla. Diamatinya gaun hitam simpel yang melekat di tubuh Carla--effort terbesar cewek itu. Ia bahkan menggunakan flat shoes dan hanya menyisir rambut pendeknya biasa saja. Okelah tas itu lumayan matching dengan gaunnya, meski agak kasual, tapi tidak bisakah ia setidaknya menggunakan lipgloss atau apapun?? Wajah polos tanpa riasannya itu agak sedikit mengganggu untuk dipandang.

"Really, you're one of a kind." Ia menggeleng-gelengkan kepala takjub sebelum kembali menatap Carla penuh ketertarikan. "Di mana rumahmu, Carla?"

"Mengapa? Ingin mengantarku pulang? Atau hanya ingin mengukur kekayaanku? Yang manapun, aku tidak tertarik mengikuti permainanmu."

Wow, dan ia cerdas juga. Atau hanya terlalu sering menerima pertanyaan serupa?

Belum sempat Domi menjawab, kegaduhan di luar menyita perhatian mereka. Tak lama kemudian, Vincent datang melongok dari pintu dan berkata, "Aldo menyerang Erin!"

Baik Domi maupun Carla bergegas berlari keluar kamar.

*

Ketika mereka sampai di dekat kolam renang, kerumunan sudah berjubel berdesakan ingin melihat drama apa lagi yang akan dipertontonkan Aldo. Carla menggeram marah, sialan mereka semua. Orang linglung akibat depresi malah dijadikan hiburan.

Buru-buru ia menyusup kerumunan itu, dan sampai di depan setelah perjuangan keras. Dan matanya membelalak melihat apa yang sedang terjadi di sana: Aldo, dengan kedua lengan mengguncang-guncang bahu mungil seorang cewek (yang diasumsikan Carla sebagai Erin), tengah meraung-raung memohon kesediaan cewek itu menjadi miliknya.

Duh, pernyataan cinta macam apa, itu. Yang ada justru Erin menjerit-jerit meminta pertolongan--well, siapa yang bisa menyalahkannya?

Carla buru-buru menghampiri mereka dan tiba di saat yang hampir bersamaan dengan Domi. Keduanya saling menatap sekilas, membuat kesepakatan singkat, lalu di detik berikutnya sama-sama bergerak menerjang ke arah Aldo dan Erin.

Carla meninju Aldo sekuat tenaga hingga genggamannya di bahu Erin terlepas--sementara Domi dengan sigap mengamankan Erin. Aldo tersungkur, lalu misuh-misuh tidak jelas.

Almost Over YouBaca cerita ini secara GRATIS!