Twenty

5.6K 222 8


Edo: Bukannya bapak nge-chat saya kemarin?

Edo sent a photo

Robert melihat screenshot chat yang dikirimkan Edo. Lalu, Robert mengingat-ingat apa yang dilakukannya kemarin. Tanpa sengaja, otaknya memutar kejadian kemarin di kafe bersama Fienna.

"Damn!" Umpat Robert

********

Robert menyambar jas-nya dan pergi balik ke kantornya. Robert marah, matanya menyala-nyala oleh emosi. Robert mengetik pesan untuk menyalurkan emosinya.

Robert: Kemarin yang bertanya seperti itu bukan saya, hp saya dipegang orang lain. Kenapa Bapak jawab seperti itu?! Bapak membocorkan rencana!

Edo: Saya tidak tahu, Pak Bos. Saya hanya menjawab karena mengira itu bapak.

Robert tau itu bukanlah kesalahan Edo. Sebenarnya, itu adalah kesalahan dia sendiri karena ceroboh meletakkan dan meninggalkan ponselnya sembarangan.

Robert mengemudi menuju kantornya dengan tidak sabaran. Dia meng-klakson setiap kendaraan yang menghalangi laju mobilnya.

Tin tinn tinnn

Beberapa orang memaki Robert karena perlakuanku menyetirnya yang sangat buruk.

"Bisa nyetir gak sih?!" Celetuk pengemudi mobil di sebelah Robert.

"Ihh mentang-mentang orang kaya songong banget. Pengguna jalan kan bukan situ doang." Maki seorang ibu-ibu pengendara motor.

Robert tidak menghiraukan suara-suara itu. Dia malah menambah kecepatan mobilnya dan membelok-belokkan mobilnya menyalip mobil lain.

Sesampainya di kantor, Robert menghampiri bagian IT perusahaannya.

"Saya punya pekerjaan untukmu." kata Robert angkuh.

Bagian IT yang masih pegawai magang itu melongo melihat Robert. Lalu, ia menurut saja mengikuti Robert ke ruangannya.

"Pekerjaan apa, Pak?" Tanya si IT

"Aku ingin kau menghapus data di hp seseorang." Jawab Robert

"Maksudnya meng-hack hp seseorang?" Tanya si IT memastikan

Robert mengangguk kaku.

"Ya."

IT itu menatap bos-nya ragu. Ia memang bersekolah di jurusan IT, namun menjadi hacker itu lain. Dia sekolah mempelajari program komputer biasa. Sedangkan seorang hacker harus bisa menciptakan program yang rumit untuk menembus keamanan.

Robert menyerahkan data-data Fienna yang mempunyai koneksi dengan hp. Lalu, Robert meninggalkan Si IT itu. Robert tidak mau tau apakah dia bisa atau tidak. Robert hanya ingin masalahnya terselesaikan dan orang yang dipekerjakannya harus berguna baginya.

IT itu menyerah. Dia benar-benar tidak sanggup menembus kode-kode rumit yang bahkan dia tidak tau apa itu. Akhirnya ia menelpon temen sekampusnya dulu yang kini telah menjadi seorang profesional.

Temannya itu sekarang sudah lulus dari perguruan tinggi S2 di Amerika atau lebih tepatnya di MIT (Massachusetts Institute of Technology)

Berkata bantuan temannya, It itu berhasil meng-hack dan menghapus foto bukti screenshot dari hp Fienna. Ia pun mengabarkan Robert tentang hasil pekerjaannya. Robert memberinya sejumlah uang tambahan sebagai hadiah.

******

Hari ini Fienna kembali berencana untuk menemui Alfredo membahas tentang masalah Robert sekaligus memperbaiki hubungan mereka. Fienna men-scroll foto di gallery hp nya. Saat itu tiba-tiba Fienna tersadar. Dia tidak menemukan bukti screenshot chat Robert. Fienna mencoba mencari lebih teliti. Namun nihil, foto itu seakan raib ditelan bumi.

Fienna mengingat-ingat siapa saja yang mempunyai akses untuk membuka hp-nya. Perasaan Fienna dia selalu meletakkan hp-nya di kamar. Sedari tadi ia belum melepaskan handphone nya sama sekali malah. Tapi kenapa bisa terhapus. Bahkan di data back up hp-nya tidak ada.

Fienna menelpon Alfredo dan memberitahu Alfredo tentang hal itu. Lalu, mereka membicarakan masalah itu bersama-sama di sebuah rumah makan. Setelah makan dan Fienna sudah lebih tenang, Alfredo pun menjabarkan penyelesaian masalahnya.

"Urusan screenshot itu gampang. Lagian walaupun yang ada di lo dihapus, yang ada di gue masih ada kan? Sama yang di laptop lo juga belom ilang." Ucap Alfredo

Fienna menepuk keningnya sendiri , "Iya, gue lupa kalo gue ada back up di laptop sama di lo."

"Makanya lo gak usah panik gara-gara itu." Kata Alfredo.

Fienna mengangguk," Terus kelanjutan rencana lo gimana?"

"Gue pengen ortu gue terlibat karena gimanapun Robert adalah CEO. Kita gak bisa mengandalkan status kita yang masih mahasiswa-mahasiswi." Jelas Alfredo.

"lo hubungin ortu lo habis itu kabarin gue. Jadi gue ntar ketemuan bareng ortu lo." Kata Fienna.

Alfredo menggeleng,"Gak segampang itu, Fi. Nyokap bokap gue lagi pergi ke Kanada. Telpon gue dari kemaren-kemaren gak diangkat. Mereka pulang ke indonesia paling sekitar dua bulan lagi."

Fienna termenung sesaat lalu tersenyum, " Gue tau penyelesaiannya gimana. Kenapa kita gak samperin aja ortu lo di Kanada sekalian jalan-jalan?"

"Gue setuju." Ujar Alfredo sepakat.

Mereka pun mengemasi barang mereka masing-masing dan memasukkannya ke dalam koperasi berukuran sedang. Mereka berangkat ke Kanada dengan jadwal penerbangan yang paling cepat. Bahkan mereka sampai harus mengeluarkan uang lebih demi mendapatkan tiket keberangkatan mereka di hari itu.

"Al, akhirnya kita dapet tiket. Gue tadi udah was-was kalo sampe kita gk dapet tiket hari ini soalnya kan kita juga baru pesen beberapa puluh menit yang lalu." Kata Fienna sambil memasang sibuk pengaman pesawat.

Alfredo meng-iyakan perkataan Fienna. Kemudian mereka tidak berbicara karena pesawat sedang memasuki proses lepas landas. Keduanya menatap ke arah jendela pesawat sambil sibuk dengan pikiran masing-masing.

"Hmmm. . . Gue berasa kayak honeymoon sama Al." Pikir Fienna di dalam hati.

Alfredo melirik Fienna yang sedang sibuk dengan lamunannya dan berkata dalam hati,"Gue ke luar negeri sama Fienna kayak bulan madu. Gue baru nyadar kalo gue pergi cuma berdua sama dia."

Perjalanan mereka memakan waktu cukup lama. Mereka harus menghabiskan malam di pesawat. Fienna merasa matanya terasa berat. Ia berusaha membuka matanya tetapi itu tidak bertahan lama. Matanya kembali menutup. Alam mimpi terus menarik Fienna untuk masuk ke dalamnya.

Fienna pun jatuh tertidur. Kepalanya bersandar pada kursi pesawat. Lama-kelamaan kepala Fienna semakin miring ke kiri dan hendak terbentur dinding pesawat. Sebelum itu terjadi, Alfredo dengan sigap menahan kepala Fienna lalu membiarkan kepala Fienna bersandar di bahunya.

"Can we start again, Fi?" Gumam Alfredo pelan.

TBC

Author bikin update an ini di tengah tengah waktu yang mepett banget. Maaf ya kalau pendek. Soalnya author lagi banyak tugas dan ujian.😭😭

My Wild BoyBaca cerita ini secara GRATIS!