"What did I miss?" Tanya gue ke Chandra.

"Belom mulai kok," Chandra ngejawab setelah nyeruput kopi anget hasil minta tolong beliin koas anestesi. "Kopi?"

"Mana," Gue menerima cup dari dia dan ikut menikmati kopi gratisan tersebut.

"Selamat pagi semua," Dokter Bil, yang merupakan kepala instalasi bedah atau sering kita panggil chief, udah nangkring dengan gagahnya di salah satu anak tangga dan menghadap ke arah kita.

"Pagi ini saya ada beberapa pengumuman," he says as he checks his books. "Yang pertama, para dokter dan perawat yang bertanggung jawab mengisi status pasien tolong diisi dengan lengkap mengingat akreditasi rumah sakit hanya tinggal 3 bulan lagi. Dari sekarang tolong cek untuk status medrek yang masih kosong dan segera dilengkapi. This applies to general practitioner, too."

"Yang kedua, gedung IBS baru akan selesai minggu ini, so hopefully, kita bisa memulai kegiatan di gedung baru mulai minggu depan. Lusa akan ada perpindahan barang ke gedung baru jadi mungkin beberapa operasi akan mulai di gedung baru."

"The last but not least, kita kedatangan lagi, akhirnya, kardiologi kita, dokter Ana." Dokter Bil mengawali tepuk tangan yang lalu diikuti oleh yang lain. Dokter Ana itu salah satu cardiologist tercantik yang pernah gue temuin. Lo bayangin aja, dia dokter bedah toraks, yang pasti kerjaannya kalo gak baca buku ya baca jurnal tapi, damn, penampilannya gak jauh dari Miss Universe. Gue heran sih kenapa dokter Bil sama dokter Ana putus.

"Makasih," balas dokter Ana. Dengar,gak? suaranya aja lembut banget.

"Let's save some lives. Dismiss."

"She's back?" Gue gak sadar ternyata April udah berdiri di sebelah gue dan, enggak, dia gak ngomong sama gue. Dia ngomong sama Kaisar.

"Kan dia cuma cuti setahun?"

"Kali aja gitu dia pindah rumah sakit."

"Gak mungkin lah, di sini ada dokter Bil, mana mau dia pergi. Apalagi ada-"

"Shut it, Cal."

"Pagi, Qil." Gue menarik ringan ujung rambutnya, sedikit menarik perhatian dia.

"Aw," Dia berbalik ke arah dan tersenyum, "Eh, kamu. Pagi, Dio. Kirain siapa,"

"Kirain koas ya?"

"Pengen dikira koas ya? Biar apa? Biar disebut muda?"

"Tarik lagi deh, nih, rambutnya-"

"Ke kantin yuk, Qil, laper gue." Kaisar tiba-tiba narik April sambil mandang jutek ke gue.

"See you later, Yo!" Gue cuma bisa bales lambaian tangan dia sambil senyum.

Bima yang ada di situ cuma ketawa geli. "Try harder, dude, try harder. Kaisar mah gak ada apa-apanya," kata dia sambil nepuk pundak gue dan berjalan mengikuti dua sahabatnya ke kantin.

Asem.

**

Gue lagi duduk di kursi singgasana gue sambil bales line April  ketika dua koas nyamperin gue. Weits, iya, gue udah berani chatting sama April, hehe.

"Ada apa, dek?"

"Dok, kami mau ujian praktek. Sesuai kocokan, kami ujian dengan dokter,"

"Oh, udah minggu terakhir ya? Oke."

Gue menerima map berisi absen dan daftar penilaian mereka. Karena koas-koas disini banyak, jadinya kadang residen suka disuruh nguji juga. Biasanya yang diminta jadi penguji residn tingkat ketiga sama keempat. Termasuk gue dàn keempat kucrut kucrut partner gue. Lo bisa nebak yang paling galak siapa dan paling woles siapa, kan?

Tentang AprilBaca cerita ini secara GRATIS!