#10

1.7K 306 115

Adrio

"Welcome back, bro." Itu sapaan yang gue dapet dari Chandra ketika gue masuk ke ruang ganti baju di IBS. "Gimana ruang residen? Aman?"

Si anjir. Karena gue 3 hari kemaren kerjaannya cuma diem dan ngurusin jurnal di ruang residen, gue jadi berasa satpam disitu. Semua pada titip barang, semua kejadian disitu gue ada sebagai saksi. Mulai dari petengkaran rumah tangga, sesama pacar, sampe perihal nitip anak pun gue dimintain tolong.

"Gue udah jadi saksi ahli semua perdebatan yang terjadi di ruang residen. Lo mau tanya apa, gue tahu." Seraya gue nepok-nepok dada.

"IH ADA GANESHAAAAA!" Suara cempreng Nabil gak bisa membuat gue gak noleh ke arah dia yang baru aja masuk ke ruang ganti.

"Kangen ya lo sama gue?"

"Idih. Eh, cie, kemaren ada yang jalan bareng gitu di PVJ," Nabil nyenggol lengan gue.

"Jalan sama siapa lo? Wah tai. Harusnya kan kemaren lo jaga, tapi enak ya lo malah jalan-jalan."

"Si Dio jalan sama April sampe lupa pulang. Gue udah nungguin di apartment dia sampe jam 11 malem. Kalo gak gue telfon, anaknya gak bakal muncul sampe besok." Regan muncul dari kamar ganti laki-laki.

Gue ketawa sambil nutup lemari loker. "Sorry, Gan. Gue lupa lo nginep di tempat gue. Eh, kok lo tau sih, Bil? Lo lagi di sana juga?"

"Kemaren gue sama Arya ke sana juga. Terus awalnya mau nyapa kalian tapi nanti ganggu soalnya asik banget berdua." Nabil seraya memasang mimik muka ':-)'

"Sapa aja kali, lebay. Lo sama Arya? Balikan?"

"Emang kapan gue putusnya?"

"LOH?" Tiga suara pria di ruang ganti langsung menggema.

"Hih, berisik lo pada." Nabil sambil cuek jalan masuk ke kamar ganti perempuan.

"Wanjir, si Nabil."

"Cewek suka gak ketebak sih,"

"Ah, itu lo aja yang gak bisa nebak."

"Kampret."

"Kemana aja lo sama April? Sengaja ketemuan?"

"Enggak, gak sengaja. Ketemu di starbucks PVJ terus jadinya jalan aja biar gak bosen."

"Kok April mau?"

"Weits, gue udah selangkah lebih maju dong."

"Rintangan lo masih banyak. Tuh, ketiga sama keempat. Pertama sama kedua lebih susah." Chandra nunjuk pake dagu dia ke arah belakang gue. Tepat saat Kaisar dan Bima masuk, lalu diikuti Damar. "Woy, Cal, Bim."

"Oi," balas mereka bersamaan.

"Pagi, bos." Damar nyapa gue. Eh, Satria ngajak latian hari ini. Bisa gak?"

Gue ngelirik sekilas ke Kaisar sama Bima. Mereka emang beneran bareng-bareng terus? Terus Qil mana? Gaya gak gue? Sekarang udah bisa manggil April dengan panggilan 'Qil', anaknya yang minta sendiri.

"Woy,"

"Hah? Iya, bisa kayaknya. Jam berapa?"

"Jam 8 di studio 14."

"Sip."

"Kumpul di lobi IBS, now." Kata salah satu residen bedah yang tiba-tiba masuk ke kamar ganti. Bakal ada pengumuman apa ya? Jarang-jarang ada meeting dadakan gini.

Semua staf IBS kumpul di lobi IBS walaupun ada beberapa keluarga pasien yang nunggu di situ. Semua staf dari mulai perawat ruang ranap, perawat bedah, penata anes, koas, residen sampai dokter spesialis ada di situ.

Tentang AprilBaca cerita ini secara GRATIS!