Vashavi Shakti

947 87 13

Saat aku pulang, aku menemukan Karna terbaring dengan tubuh bersimbah darah. Bagian kulitnya mengelupas. Sebagian telinga kirinya terpotong dan mengeluarkan darah.

Karna! Apa yang telah dia lakukan?

Aku memandang wajah pucat Karna. Membiarkan tetes-tetes air teratai itu turun membasahi tubuhnya. Kekuatan Begawan Abyasa membuat teratai itu tak hentinya mengucurkan air. Sedikit demi sedikit, aliran air teratai itu meresap ke dalam kulit Karna, mereduksi sel-sel tubuhnya hingga kulitnya kembali pulih seperti sedia kala.

Aku memeluk kepala Karna, saat itu kematiannya membayang di pikiranku. Aku tak sanggup melihatnya terluka. Apalagi mati.

Kesedihanku membuatku nekat memanggil Dewa Surya dengan berkat yang pernah dia berikan. Aku terkejut melihat Dewa Surya juga bersedih ketika dia muncul. Dia mewujud menjadi seorang tabib hingga tak ada seorang pun curiga kepadanya.

"Apakah putraku sudah baikan?"

Aku memberi salam, lalu menggeleng.

"Ah, sudah kuduga, Indra akan melakukannya," dia menghela napas, "Aku sudah datang memperingatkan. Tapi anak itu—"

Dewa Surya mendengus gusar, "Dia memberikan kawach dan kundalnya kepada Dewa Indra yang menyamar sebagai seorang resi."

Aku mundur dengan wajah memucat.

"Apa dia bisa bertahan tanpa kedua benda itu?" Dewa Surya memandang putranya dengan kesal, "Aku sudah berkata, 'Lupakan dermamu! Ekalawya, karena kegilaannya berderma, merelakan ibu jarinya untuk Drona. Apa yang dia dapatkan? Apakah kemudian dia bisa bertarung melawan Arjuna? Tidak! Anak itu hanya bisa bertarung sebagai ksatria biasa. Semua ilmunya hilang sia-sia!"

Dewa Surya kembali menggeleng gemas, "Anak keras kepala ini malah membalasku dengan kalimat, 'Jika itu benar, maka aku semakin bertekad melepaskan kawach dan kundal. Karena kalau aku mengenakannya, aku tidak bisa bertarung dengan Arjuna secara adil.'"

Dewa Surya menyentuh dahi Karna. Mengeluarkan kekuatannya untuk membantu proses penyembuhan.

"Anak ini benar-benar tidak bisa diberi tahu," Dewa Surya menggeleng dengan putus asa, "Tapi anak ini mengagumkan. Sifatnya telah menggugah Indra, hingga Indra rela menyerahkan sebuah astra mahadahsyat untuk Karna."

Saat Dewa Surya memandangku, aku bisa melihat rasa bangga itu memancar di wajahnya.

"Astra mahadahsyat langsung dari dewa perang?" aku sedikit ngeri mendengarnya, "Apakah itu pusaka yang hanya bisa digunakan sekali seumur hidup?"

Dewa Surya mengangguk, "Aku bertaruh, Karna akan menggunakan Vasavi Shakti untuk membunuh Arjuna, namun mereka akan mencari cara agar Karna menggunakannya untuk membunuh orang lain," Dewa Surya mengangkat tangan, telah selesai melakukan proses pengobatan.

"Jalan ini mulai berujung pada jurang," Dewa Surya menggeleng lagi. Dia menepuk bahuku. Wajahnya tampak semakin sedih saat dia berubah perlahan menjadi cahaya... lalu mulai terbang ke luar jendela.

#StopPlagiarism

Author Putfel

Legenda Negeri Bharata [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang